Translate / 翻訳する / 번역

Jumat, 31 Agustus 2012

Dealova


Dealova
“Tak bisakah kau menerimaku? Aku mohon Keiko.” Lelaki itu masih menggenggam tangan Keiko erat. Keiko menatap sedih, sebenarnya ia juga mencintai lelaki itu. Tapi satu hal membuatnya harus memendam dalam dalam perasaannya untuk lelaki yang tengah mengemis cinta padanya.
“Maaf, sekali lagi maaf Morgan. Aku… aku tak bisa menerimamu.” Ujarnya lirih. Pertahanan yang ia bangun runtuh sudah. Air matanya mengalir deras, menganak sungai di pipinya.
“Kenapa? Aku tau kau juga mencintaiku, Keiko. Jangan bohongi perasaanmu. Itu akan membuatmu tersiksa seperti dulu.” Morgan menghapus air mata Keiko pelan. Tangannya bergetar saat akan meraih pipi gadis itu, seolah gadis itu serapuh dedaunan yang terhempas angin musim gugur.
“Aku memang mencintaimu, Morgan. Tapi, aku memang tak bisa menerimamu. Terlalu banyak perbedaan diantara kita. Itu penghalang bagiku. Lagipula kau sendiri yang bilang, kalau aku menikah denganmu itu sama saja kau membunuhku.” Ia mendongak menatap wajah pucat nan tampan dihadapannya. Bibirnya bergetar, mencoba menelan tangisnya dengan susah payah.
“Tapi, Keiko… aku bisa menjadi manusia, jadi kau tak perlu repot-repot tinggal di Centhopya.”
“Cukup Morgan, kumohon. Aku tak ingin salah satu dari kita merasa terpaksa. Lupakan aku, biarkan aku saja yang tersiksa.”
“Keiko…” Morgan merajuk, ia benar-benar tak sanggup harus kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya.
“Maaf Morgan. Pergilah, kalau kau terus menahanku, aku akan semakin sulit melupakan rasa ini.”
“Baiklah, tapi biarkan aku menciummu untuk terakhir kalinya. Please.” Keiko mengangguk. Membiarkan lelaki yang notabene orang lain dalam hidupnya menciumnya untuk terakhir kali sebelum ia pergi untuk melupakan segalanya. Tak ada permainan dalam ciumannya, hanya sekedar menempel, tapi dilakukan Morgan dengan tulus dan penuh perasaan. Detik berikutnya, Morgan melepas ciumannya. Mengusap pelan bibir pucat Keiko, lalu mengusap matanya yang sudah digenangi air mata.
“Terima kasih untuk segala yang pernah kau berikan. Aku pergi, semoga kau bahagia dengan keputusanmu, dan jangan melupakan aku. Hati-hati.” Morgan beranjak pergi, menghilang di tengah kegelapan malam. Sedangkan Keiko kembali menangis dalam diam. Ia tak sanggup bila harus menopang hatinya sendirian.
***
Keiko POV.
Demi apapun aku merindukan sosok pria yang selalu membuatku tersenyum itu. Morgan, aku merindukanmu. Ya Tuhan haruskah aku melakukan ini? Rasanya tak masuk akal jika aku harus mengorbankan hal yang paling berharga bagiku hanya untuk bertemu Morgan. Karena aku tak mungkin mendapatkannya kembali jika sudah melepasnya. Tuhan, aku tersiksa jika harus begini terus… L
Morgan POV.
 Aku yakin seyakin-yakinnya. Keiko memanggil namaku lirih. Tapi, apa harus aku datang padanya? Sedangkan ia sendiri memintaku untuk melupakannya. Argh… aku bisa gila kalau begini terus. Aku harus mendatanginya. Harus. Tapi, apa Diamond akan mengizinkan? Mengingat ia sudah marah besar denganku karena berhubungan dengan Keiko. Gadis Jepang yang menarik hatiku. Sejak pertama kali bertemu, dua bulan lalu. Saat ia sedang mengunci pintu balkonnya, tapi terlonjak kaget saat aku tiba-tiba datang dihadapannya.
Flashback_
“Keiko, sudah malam, tidurlah. Dan jangan lupa tutup jendelanya. Selamat malam, sayang.” Wanita itu mengecup kening Keiko dan beranjak pergi.
“Selamat malam juga, Mama.” Ia tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu balkon. Diraihnya kenop pintu dan menariknya ke dalam. Namun detik berikutnya, nafasnya terhenti sejenak melihat aku muncul dengan tiba-tiba dihadapannya.
“Selamat malam nona.” Aku tersenyum sopan, menyapa sang empunya rumah.
“Kau… kau siapa? Kenapa ada disini?” perlahan Keiko bergerak mundur, mengambil ancang-ancang untuk kabur.
“Hei, tenang nona. Aku tak akan melukaimu. Kenalkan, aku Morgan Winata. Aku bisa disini, karena aku terpesona dengan senyummu yang seindah rembulan itu. saat aku tak sengaja menengok ketika sedang berjalan-jalan tadi.”
“Tapi, bagaimana bisa kau ada disini? Jangan-jangan kau… makhluk halus ya?” Gadis itu bergidik ngeri, membuatku terkekeh pelan. Bagaimana bisa pangeran eh, ralat. Raja tampan sepertiku dibilang setan?! Sepertinya dia benar-benar ketakutan denganku. He he he, maaf nona cantik, aku tak bermaksud menakutimu.
“Sembarangan kau bicara. Aku ini calon raja, masa’ kau bilang setan…” aku merajuk, berpura-pura mengambek. Detik berikutnya ia terbahak melihatku.
“Hahaha… yang benar saja kau. Mana ada di zaman serba canggih ini masih menganut paham ‘kerajaan’. Memang kau tinggal dimana, hah?” Ya ampun, kenapa dia makin terlihat manis, sih. Bisa-bisa aku tak mau pulang kalau begini caranya.
“Kau tau Centhopya? Aku tinggal disana.” Ia terdiam, mencoba meresapi kata-kataku. Ouh, dia terlihat manis apapun ekspresinya. Apalagi bibir pink pucatnya yang alami itu. ugh, rasanya aku ingin menciumnya saat ini juga. Eh, ya ampun, Morgan. Apa yang sedang kau fikirkan hah? Kenapa jadi mesum begini otakku, ini pasti gara-gara gadis ini yang terlalu menggoda.
“Eh, Centhopya katamu? Yang benar saja. Itu hanya salah satu kisah dari sejarah mitologi Yunani. Mana mungkin ada. Kalau pun ada, itu pasti beberapa ratus tahun yang lalu. Kau jangan bohong. Aku ini gadis pintar.”
“Centhopya memang ada, tapi tidak dibumi ini. Ada di sebuah planet tersendiri di salah satu jagat raya ini. Kau mau ikut denganku, hanya untuk sekedar melihat-lihat?”
“Oh, tidak terima kasih. Sudah larut, dan sebaiknya kau pulang sebelum ibumu memarahimu karena terlalu lama bermain.” Ujarnya dengan senyuman. Ya ampun, demi Neptunus. Aku benar-benar tak tahan dengan senyumannya.
“Uhm, baiklah, tapi suatu saat mau kah kau bermain ke negeriku?” ia mengangguk.
“Ya, jika ada waktu. Sudah, pulang sana.”
“Baiklah, ambil ini, kau bisa menggunakannya jika ingin bertemu denganku. Bye J
“Terima kasih, Morgan. Bye J” ia menutup pintu balkonnya. Dan aku kembali memanggil Rokkie, unicorn kesayanganku dan kembali pulang.
Flashback off_
Hhh, andai saja waktu bisa kuulang. Aku tak akan menyia-nyiakan gadis itu begitu saja. Bahkan, jika memungkinkan aku akan membawanya kesini, mempersuntingnya dan menjadikannya permaisuri yang mendampingiku setiap saat. Dari mulai aku membuka mata, hingga aku kembali menutupnya.
Tapi, sepertinya agak mustahil. Karena Dealova yang dia punya akan menghalangiku.
***
Author POV.
Gadis itu membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk lewat ventilasi dan sisi-sisi jendela yang mengayun pelan. Ia terduduk, mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran di alam mimpi. Setelahnya ia beranjak mandi, sarapan, berangkat kuliah, kuliah, makan siang di kantin, pulang, mandi (lagi?), makan malam, belajar, dan terakhir melaksanakan hobinya tiap malam. Duduk merenung di balkon, sambil terus berharap seseorang yang ia rindu mengunjunginya barang semenit.
Teng… teng… teng…
Jam besar di ruang tengah berdentang keras, menggema keseluruh penjuru rumah. Bahkan hingga menelusup masuk ke kamar Keiko yang terletak di sudut lantai dua. Keiko menoleh ke nakas, melihat jam kukuknya yang bertengger manis disana.
“Hfft, sudah tengah malam.” Desahnya kecewa. Kemudian berjalan masuk seraya menutup pintunya. Menutup gordennya, lalu pergi tidur. Mencoba menghilangkan penat yang menggelayutinya.
***
“Keiko, kau tenang ya, aku disini… dan berjanji takkan pernah meninggalkanmu lagi.” pria itu merengkuh tubuh mungil milik seorang gadis dihadapannya. Sedangkan gadis itu, masih terisak walau pelan.
“Tenanglah. Matamu terlalu indah untuk mengeluarkan air mata itu. apa lagi hanya untukku.”
“Aku… hiks, aku… aku benar-benar gila tanpamu, Morgan. Kumohon jangan pergi lagi, sekalipun aku yang meminta.” Ujar Keiko masih dengan sisa tangisnya. Morgan mengangguk, menyanggupi permintaan gadis manis dalam dekapnya. Gadis itu mendongak, mencoba menelan tangisnya kembali.
“Are you sure?”
“Of course, Keiko. Bahkan jika bisa, aku ingin membawamu ke Centhopya, mempersuntingmu, menjadikan permaisuriku, yang menemaniku memimpin negeriku yang nyaris hancur.”
“I do, Morgan. I do. Asal bisa bersamamu, aku mau.” Keiko menyanggupi keinginan pria yang ‘nyaris’ jadi kekasihnya. Tapi Morgan menggeleng.
“Sebaiknya tak perlu, kau bisa dibunuh jika benar-benar kesana.”
“Kenapa?”
“Kau itu pewaris tahta keluargamu. Dan kau tau, tentang Dealova yang sering kuceritakan itu. ternyata kau memilikinya, Keiko. Dan Diamond tau itu, aku tak ingin kau dibunuh olehnya.”
“Memangnya kenapa kalau aku memiliki Dealova. Ibuku dan ayahku, juga punya.”
“Bagimu dan keluargamu, kekuatan Dealova tidak diperlukan disini. tapi di Centhopya, itu dijadikan senjata, kekuatan, dan kekuasaan.”
“Lalu, apa masalahnya? Kalau aku ikut bersamamu, kau bisa memilikiku seutuhnya, yang bisa kau jadikan istri, senjata, kekuatan, kekuasaan dan apapun yang kau mau.”
“Masalahnya adalah, untuk membuat Dealova itu berguna, berarti, aku harus meminum darahmu. Dengan kata lain, kau harus mati. Jadi kumohon, biarlah aku sendiri yang menanggungnya. Jangan paksa aku untuk membawamu kesana. Itu akan mengancam nyawamu.”
“Tapi…”
“Sudahlah, aku pergi dulu, Keiko. Bye J
“Morgan… morgan…” Keiko berteriak histeris saat Morgan pergi bersamaan dengan kabut malam yang menjemputnya.
***
“Morgan…” Keiko terbangun dari mimpinya. Peluhnya mengucur deras, nafasnya memburu. Mimpinya memutar ulang kejadian saat dia juga memutuskan hal yang sama seperti saat ini. Meminta Morgan menjauh dari hidupnya. Tapi pada akhirnya, ia lah yang kalah, dan meminta Morgan kembali padanya.
Morgan POV.
“Keiko...” aku terbangun. Kemudian bergegas menuju meja kerjaku yang terletak disudut kamarku. Aku menyalakan lampunya, kemudian menggeser bola Kristal kehadapanku. Mengucapkan beberapa kata, meminta si bola menunjukkan keadaan Keiko padaku secepatnya. Detik berikutnya, gambaran Keiko muncul. Dia terlihat, agak mengenaskan. Terduduk di ranjangnya, dengan wajah pucat dan nafas yang terengah-engah. Kausnya terlihat basah karena keringat, air matanya mengalir deras. Sepertinya, dia habis bermimpi buruk.
Oh, Neptune… aku harus bagaimana? Keiko, kau mimpi apa? Kenapa sampai begitu? Hhh. Sejenak merenung, membuatku ingat dengan benda putih kecil yang diberikan Keiko beberapa hari lalu. Katanya, dengan benda itu, aku bisa menghubungi gadis itu. aku merogoh laci. Setelah cukup lama tanganku berkutat didalamnya, akhirnya aku menemukan si putih kecil itu. eh, bagaimana cara memakainya ya? Sudahlah, kucoba saja dulu.
Beep… beep… beep…
Setelah hampir ribuan kali bunyi “beep” itu terdengar, akhirnya aku bisa menghubungi Keiko. Kulihat dia sedang mengambil benda putih miliknya. Katanya sih, namanya smartphone atau apa gitu… entahlah. Eh, eh, dia bicara.
“Moshi-moshi, ada apa Morgan?” Keiko bicara dengan suara tercekat.
“Ehm, Keiko, kau baik-baik saja?”
“Tidak begitu baik, ada apa?” Ya ampun, kenapa nadanya ketus sekali. Huh, tidakkah dia tau, aku rela berpusing ria bermain dengan benda ini hanya untuk menghubunginya. Menyebalkan.
“Kenapa nada bicaramu ketus sekali. Aku hanya khawatir padamu. Keadaanmu terlihat, ehm, mengenaskan. Kau mimpi apa, hah?”
“Ke… kenapa kau bisa tau? Kau ada disekitar sini? Dimana?”
“Tidak, tidak. Aku ada dikamarku sekarang. Kau lupa? Aku ini punya Kristal yang bisa memantaumu saat firasatku bilang kau sedang tidak baik-baik saja.”
“Oh, apa aku harus memberi-tahukan mimpiku padamu? Itu hanya bunga tidur. Tak begitu penting.”
“Kalau memang tidak begitu penting, kenapa kau sampai menangis tersedu begitu? Jangan bohong, Keiko.”
“Baiklah, baiklah. Aku bermimpi tentang ‘Dealova’ku yang kau ceritakan waktu lalu.”
“Oh, begitu. Ya sudah, tidurlah lagi. jangan sampai matamu membengkak dan menghitam besok pagi. Good nite.”
Dia sepertinya benar-benar memikirkan ‘Dealova’nya. Sampai-sampai terbawa mimpi seperti ini. Ya Tuhan. Kenapa harus dia yang mempunyai kekuatan itu? kenapa tidak aku saja? Lagi pula, aku lebih membutuhkannya dari pada Keiko. Hhh L.
***
Keiko POV.
Sudah hampir ribuan kali aku mengetik kata yang sama pada kolom ‘search’ di Google. Tapi kenapa hasilnya tidak muncul? Selalu tidak ditemukan. Eits, sepertinya aku melupakan sesuatu yang cukup penting mengenai hal ini. Apa itu? eh, aku ingat! Tempat tinggal Morgan. Yups, Centhopya. Dan, tadaa… muncullah sejarah aneh itu.
“… Dealova adalah sebuah kekuatan yang diturunkan di setiap generasinya pada orang-orang bermarga ‘Kim’ untuk orang Korea, ‘Zoe’ untuk orang Jepang, dan ‘Kara’ untuk orang Eropa. Kekuatan tersebut sangat diincar oleh orang-orang Romawi, Troya dan Centopya. Mengapa begitu? Karena kekuatan tersebut adalah senjata—bagi mereka para prajurit dan pejuang Negara—kekuatan untuk berkuasa, bagi para raja. Dan menjadi salah satu pengabul keinginan hanya dengan satu jentikan jari. Karena itu, kaum Dealova yang awalnya menetap pada satu wilayah di bukit Olympus, kini menyebar ke seluruh dunia. Dan keturunan yang diketahui masih hidup sampai saat ini adalah keturunan Jonathan Zoe dari Jepang, dan Kim Stefan dari Korea. Sedangkan untuk warga Eropa dikabarkan sudah tidak ada satupun yang tersisa. Setelah pembantaian habis-habisan oleh Caesar Oktavianus dan Caesar Diamond yang kini menetap di planet buatannya sendiri yang menjadi salah satu satelit planet Neptune…”
Aku terbelalak dengan suksesnya. Terutama saat membaca nama Jonathan Zoe yang notabene adalah kakekku, yang pernah diceritakan oleh Mama, saat aku masih kecil. Pantas saja Morgan melarangku ikut ke negerinya. Dengan alasan yang sama. Hanya karena Diamond, kakek Morgan.
***
Morgan POV.
Ugh, sudah kuduga, ia pasti akan mencari tahu sendiri pada akhirnya. Kira-kira apa yang akan dilakukannya setelah ini, ya? Perlahan kecemasanku memuncak. Takut Keiko akan menjauhiku karena alasannya yang menurutku terlalu klise. Sebenarnya, saat ini pun, aku masih kesal dengan sikapnya yang ternyata benar-benar membuktikan perkataannya. Ia bahagia dengan seseorang pilihannya.
Terlihat Keiko menghela nafas berat. Memijat pelipisnya demi mengurangi penat yang sepertinya melanda dengan tiba-tiba. Pelan ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah balkon. Meraba tengkuknya sejenak. Seperti sedang mencari sesuatu yang membelit lehernya. Hingga ia menemukan senar kalung dariku. Kalung berbandul diamond berbentuk wajik yang sebenarnya menghubungkan dengan Kristal  bulat yang sering kugunakan untuk memantaunya dari sini.
And guess what!! Ia melepas paksa kalung itu, menatapnya sinis sejenak lalu mengangkat tinggi-tinggi kalung itu, nyaris membuangnya tapi diurungkannya. Sebagai gantinya ia melepas bandul wajiknya lalu membantingnya. Membuatnya terbagi menjadi beberapa kepingan, dan memburamkan pantauanku. Detik berikutnya, Kristal bulat ditanganku menggelap.
***
Author POV.
Keiko menutup laptopnya. Mengarahkan pandangannya menuju berlian berbentuk wajik yang sudah pecah berkeping karena bantingannya tadi. Keiko tersenyum sinis, mengambil satu kepingannya disusul dengan kepingan yang lain. Lalu membungkusnya dengan sapu tangan putih miliknya, menyimpannya rapi pada laci nakasnya. Aksi selanjutnya adalah membuang satu persatu memori tentangnya dengan Morgan.
“Keiko, kenapa kau hancurkan kalung itu?” seseorang tiba-tiba hadir dengan raut wajah kecewa, sedih dan kesal. Gadis itu terlonjak kaget. Dan reflex mundur dengan perlahan.
“Morgan?” gumamnya lirih.
“Iya, ini aku. Keiko-san. Aku kecewa padamu.” Morgan menunduk sedih. Kemudian menatap Keiko nanar.
“Maaf. Tapi itu harus kulakukan, sebelum Diamond membantai keluargaku.” Morgan mendongak kaget.
“Apa maksudmu?” Dahinya berkerut bingung.
“Kau tau? Cepat atau lambat Diamond akan mengetahui keberadaanku jika aku tak secepatnya menghancurkan kalung itu. yah, meski aku tau itu percuma karena Diamond sedang menyiapkan pasukannya untuk membantai keluargaku dan keluarga sahabatku, Soo Yeon, keturunan tuan Kim Stefan di Seoul.” Morgan tertegun.
“Bagaimana kau bisa tau kabar itu dalam waktu yang begitu singkat?”
“Morgan, sekarang apapun bisa terlacak dengan mudah, apalagi dengan posisi planetmu yang menjadi salah satu satelit di orbit ini. Tentu dengan mudah mengetahuinya. Dan lagi, Soo Yeon yang ternyata track finder*, bisa dengan gampangnya membaca seluruh kegiatan yang sedang berlangsung di negaramu, hanya dengan menyentuh peta.” Sejenak, Morgan tertegun kemudian langsung sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu jika tidak ingin membuat gadisnya membencinya lebih dalam.
“Soo Yeon? Dimana dia sekarang?” Tanya Morgan dengan ekspresi panic.
“Untuk apa kau bertanya? Jangan bilang kalau dia dan keluarganya sedang dibantai.” Morgan mengangguk ragu.
“Apa?! Jadi itu benar? Yeonni-chan, Yeonni…” teriaknya histeris, dengan cepat ia menghampiri Soo Yeon yang sedang berkutat dengan buku-buku mitologi Yunani di perpustakaan ayahnya.
Brak_
Keiko membuka pintunya dengan kasar dan tercengang dengan pemandangan dihadapannya. Soo Yeon sedang meringkuk gemetaran disudut rak, air matanya mengalir deras, nafasnya memburu.
“Yeonni-chan, are you okey?” Keiko berjongkok dihadapan sahabatnya. Soo Yeon memeluk Keiko erat, tangisnya makin menjadi, membuatnya agak sulit untuk berucap.
“Keiko… hiks L. Keluargaku…”
“Tenanglah, aku akan memanggil Okaa-san. Ia pasti tau apa yang harus kita lakukan.” Soo Yeon hanya mengangguk lalu melepas pelukannya. Matanya membola seketika begitu melihat Morgan yang tersenyum dibalik punggung Keiko.
***
Keiko POV.
“Keiko… itu bukannya Morgan?” Tanya Soo Yeon terbata, terlihat badannya gemetar karena takut. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati Morgan sedang menatap kami dengan senyumannya. Aku kembali menghadap Soo Yeon yang kian memucat.
“Iya, dia Morgan. Kenapa kau bisa tau?”
“Dia cucunya Diamond, bukan. Keiko, kenapa dia ada disini? jangan katakan kalau dia akan membantai kita sendirian.”
“Tidak Yeonni-chan. Dia temanku. Sudahlah, ayo kita ke Okaa-sanku.” Aku bangkit, membantunya berdiri. Kemudian berlalu begitu saja menuju okaa-sanku yang sedang memasak.
“Mama, keluarga Yeonni dibantai.” Ujarku pelan. Okaa-san langsung menghentikan pekerjaannya, mematikan kompor lalu menarik kami menuju gudang bawah tangga. Mamaku melakukannya tanpa penjelasan sedikitpun, membuatku kebingungan setengah mati.
“Mama, apa yang akan kita lakukan? Bicaralah, jangan membuat kami bingung seperti ini.” Sentakku pelan, sambil sesekali melirik Soo Yeon yang terlihat lebih bingung dariku.
“Kita hubungi keluarga yang lain, lalu mama akan menyiapkan alat perangnya, kau dan Yeonni, introgasi Morgan sampai ia memberitahu apa rencana kakek dan ayahnya itu. cepat, sebelum keluarga Yeonni dan keluarga kita mati secara perlahan.” Kami mengangguk mengerti, kemudian keluar menghampiri Morgan yang masih setia berdiri di ruang tengah.
“Jadi, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya Morgan begitu kami sudah stay dihadapannya.
“Menyanderamu, dan membuatmu membuka mulut memberitahukan apa rencana keluargamu.” Perlahan tapi pasti aku dan Soo Yeon memojokkannya dengan tatapan tajam yang kami punya.
“Apa? Keiko, Soo Yeon, aku tak tahu apa-apa soal rencana penyerangan ini.” Aku melipat tangan di dada, sambil berucap sinis.
“Jangan mengelak, Morgan. Tak ada gunanya. Lebih baik mengaku saja, sebelum aku melayangkan nyawamu dalam waktu kurang dari sepuluh detik dari sekarang. Sepuluh.”
“Keiko, tapi aku…”
“Sembilan…”
“Keiko, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar…”
“Delapan…”
“Keiko, hear me please…” ujar Morgan dengan mimic memohon.
“Tujuh…”
“Keiko!!”
“Enam…”  aku masih menghitung tanpa mempedulikannya. Hingga ia menyerah dan membentakku.
“Keiko!! Listen!! Aku memang keturunan asli dari Diamond, tapi bukan berarti aku mengetahui segala tentang mereka. apalagi tentang penyerangan ini. Kau boleh membunuhku, tapi izinkan aku untuk membantu keluarga kalian menyelesaikan pembantaian ini.” Aku menghela nafas berat, kemudian melayangkan pandanganku ke Soo Yeon dan mama yang dijawab dengan anggukan pelan.
“Oke, tapi jika ternyata kau terlibat dengan penyerangan ini, aku tak segan-segan membantai keluargamu lebih parah dari ini.” Morgan mengangguk pasti, sepertinya ia benar-benar tak tahu apa-apa. Huft, sudahlah.
***
Author POV.
Bandara Incheon, Seoul. 2:30 pm.
Pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Keiko dan keluarganya mendarat mulus di airport. Dengan cepat mereka berlarian ke arah mobil jemputan mereka dan melesat ke kediaman keluarga Kim Stefan.
“Maaf kami terlambat, bagaimana keadaan kalian saat ini?” Tanya okaa-sanku beruntun. Ny.Kim Hye Ra menghambur ke pelukan okaa-sanku dengan tangis yang berderai.
“Aikawa… hiks.” Aikawa—ibunya Keiko—mengelus punggungnya pelan, mencoba menenangkan Ny. Hye Ra barang sejenak.
“Ada apa? Tenanglah dulu.”
“Yong Jae, Yong Jae, disandera. Mereka tau kalau Yong Jae adalah pemilik dealova terkuat. Aku bingung, harus bagaimana.”
“Memangnya Ji Wook kemana?”
“Suamiku, gugur. Ia mati ditangan Diamond.” Soo Yeon yang dari tadi hanya menjadi pendengar langsung menangis histeris begitu mendengar appanya sudah tiada.
“Appa…” gumamnya dalam tangis. Ny. Hye Ra langsung meraih Soo Yeon dalam pelukannya.
“Yeonni-ah, maafkan eomma, eomma tidak bisa membantu appa tadi. Eomma pingsan.” Ia menghapus air matanya, lalu tersenyum pahit.
“Tak apa eomma. Lebih baik kita selamatkan Yong Jae oppa sebelum ia bernasib sama dengan appa.” Soo Yeon menatap Keiko intens.
“Keiko, aku berharap banyak padamu. Karena hanya kaulah yang bisa menyelamatkan oppaku. Jebal.” Keiko mengangguk pasti dan tersenyum.
***
Morgan POV.
Ya Tuhan, aku tidak mampu membayangkan jika aku yang mengalami nasib seperti Soo Yeon. Pasti sakit sekali rasanya. Ough, kalau begini ceritanya, aku lebih memilih menjadi keturunan orang biasa saja, daripada harus mengalami kejadian seperti ini. Kenapa pula harus keluarga Keiko yang mempunyai dealova? Kenapa tidak yang lain. Mungkin kalau bukan Keiko, aku sudah ikut-ikut membantainya daritadi. Huft, takdir terlalu sulit untuk dimengerti.
Keiko menatap tajam ke arahku, lalu menggeretku keluar dengan paksa. Membawaku ke ruang bawah tanah yang tampak seperti secret room. And, see. Ternyata itu perpustakaan. Tapi, kenapa di tempatkan si bawah tanah? Ah, sudahlah, ikut saja apa maunya, daripada aku harus mati sia-sia ditangannya, lebih baik menuruti apa yang ia mau.
“Morgan.” Panggilnya pelan. Seperti akan bicara hal rahasia.
“Apa? Apa yang harus kulakukan?”
“Be yourself, tapi kau harus menyamar dengan baju lain. Oke?” Aku mengangguk pasrah. Terlihat ia sedang berfikir keras, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Kemudian menghela nafas berat, menatapku sejenak. Mengayunkan jarinya dan, tadaa… bajuku berubah. Tapi, yang ini agak norak. Kenapa? Karena warnanya yang terlalu mencolok, sama sekali tidak cocok dengan tampangku yang terkesan arogan.
“Uhm, Keiko, ini tidak cocok denganku yang berwajah cool.” Ia memutar matanya kesal.
“Tcih~ pede sekali. Uhm, oke, kuubah lagi.”
Cling_ bajuku berganti untuk kedua kalinya. Kali ini dengan baju ala pemain opera sabun. Baju khas kerajaan dengan jubah hitam panjang yang tersampir dibahuku. Cocok sih, tapi… terlalu berlebihan kalau untuk perang.
“Keiko, aku ini mau perang, bukan pesta.” Ia terkikik pelan, oh, sudah lama aku tidak melihat senyumnya lagi, dan ini pertama kalinya ia tersenyum untukku setelah beberapa minggu kami saling tarik urat.
“Hehehe, maaf. Tapi, kau terlihat tampan dengan baju itu, terkesan berwibawa. Ouh, aku jadi terpesona lagi padamu, Morgan.” Ujarnya diiringi tawa. Lalu kembali mengayunkan jarinya.
Cling_ baju kerajaan itu berubah lagi. kali ini dengan kemeja abu, dengan jas hitam kebiruan. Yang dibalut dengan jubah biru laut yang tidak terlalu panjang. Aku mematut diri didepan kaca besar di sudut ruangan. Keiko menatapku dengan senyuman. See, aku terlihat sangat tampan. Tidak menunjukkan ciri khasku, tapi masih tetap seperti jati diriku yang sebenarnya.
“Aku suka dengan ini.” Ujarku dengan senyuman.
“Oke, perlu senjata atau tidak?” aku mengetuk-ngetukkan jariku pada dagu kemudian mengangguk.
“Aku perlu panah dan busurnya. Kalau pedang, aku punya sendiri.” Kataku dengan menunjukkan pedang platina kesayanganku.
“Kau ini bodoh atau apa, hah?! Mereka akan mudah mengenalimu dengan pedang platina itu.”
“Tapi, aku tak bisa tanpa pedang ini.” Ujarku merajuk. Keiko melengos kesal.
“Uh, kau ini seperti anak kecil. Ya sudah, ganti saja sarung pedangnya.” Ia melemparkan sarung pedang baru berwarna merah lalu disusul dengan topeng yang hanya menutup setengah wajah. Warna merah juga. Hmm, dia pintar memadukan warna. Kenapa tidak jadi designer saja ya? Itu lebih mudah daripada harus menjelma sebagai Dewa Mars*.
***
Keiko POV.
See!! Dia terlihat lebih tampan, tapi tetap tidak sebanding dengan personil boyband Korea, Cho Kyuhyun. Karena bagaimanapun, Kyuhyun tetap yang paling tampan. Hahaha. Eh? Kenapa aku jadi melantur begini? Sudahlah. Lupakan. Sebaiknya aku memikirkan cara membunuh Diamond dan pasukannya, serta menyelamatkan Yong Jae sebelum ia dibunuh.
“Morgan, apa kau tau kelemahan kakekmu itu?”
“Uhm, sebentar. Agak susah mencari kelemahannya, mengingat ia sudah meminum berliter-liter darah Dealova. Dalam waktu setahun ini.” Aku terperanjat. Darah dealova dari mana? Keberadaan kami baru saja diketahui, dan sampai saat ini, baru ayah Soo Yeon saja yang mati.
“Tunggu, darah dealova dalam waktu setahun ini? Bagaimana bisa? Keberadaan kita baru saja diketahui, Morgan.”
“Bisa saja, dia punya berjerigen-jerigen darah yang disimpan di gudang bawah tanah. Hasil pembantaiannya pada keturunan Kara.”
“Apa tidak menimbulkan bau tak sedap? Eurgh, membayangkannya saja aku sudah mual.”
“Tentu saja tidak, karena darah dealova itu harum, sama sekali tidak anyir. Dan rasanya sangat manis.” Ujarnya dengan ekspresi seperti orang yang kelaparan dan sangat ingin mencicipi makanan khas dari resto mewah. Oh, seperti aku harus jaga jarak dengannya.
“Kau pernah mencobanya?”
“Tentu saja. Setiap pangeran dan keturunan Winata wajib meminum darah dealova setiap setahun sekali. Kau mau mencobanya?” aku menggeleng cepat, wajahku mulai memucat ketika ia menatapku dengan mata berbinar.
“Tidak. Tidak mau dan tidak akan pernah mau. Satu lagi, jangan kau coba coba menerkamku, Morgan. Karena itu sama saja membahayakan nyawamu.” Ia tergelak.
“Hahaha, kau takut, ya? Tenang saja aku tidak akan menerkammu, tapi…” ou ouh… dia menatapku intens dengan evil smile yang tersungging dibibirnya. Dan parahnya, aku panic, membuatku kehilangan semua kekuatanku dalam sekejap. Morgan berjalan mendekat, pelan tapi pasti. Membuatku ikut berjalan mundur hingga akhirnya terhimpit tembok.
“Morgan, kau mau apa?” Tanyaku. Jujur saja aku benar-benar ketakutan sekarang. Oh my God… mama…. Tolonglah anakmu yang manis ini. Hiks L. Detik berikutnya Morgan tergelak.
“Hahaha… kau, kau menggemaskan Keiko. Hahaha, kau… kau… hahaha…” Omigod~ dia benar-benar menyebalkan. Aku mencubitnya kesal.
“Aww. Hei, kenapa kau mencubitku. Kejam sekali. Huh.”
“Karena kau menyebalkan. Aku nyaris mati berdiri, Bakka!!” dia tergelak sasmbil memegangi perutnya. Detik berikutnya Soo Yeon datang dengan wajah panic dan tercengang.
“Dia siapa, Keiko?”
“Morgan. Ada apa Yeonni-chan?”
“Omoo~ kau apakan dia hingga jadi charming seperti ini?! Ahh- lupakan. Aku kesini untuk memberitahumu, bahwa kita akan berangkat perang sebentar lagi. bersiaplah. Karena Diamond sudah mengetahui tempat persembunyian kita.” Aku mengangguk pasti lalu menyuruh Soo Yeon untuk bersiap juga.
“Sampai kapan kau akan berdiri disini? pergilah, aku mau ganti baju.” Spontan Morgan menggeleng cepat. Membuatku membolakan mataku.
“What? Apa maksudmu tidak mau, hah?! Pergi sana!!” ia masih bergeming.
“Ouh, ayolah Morgan, kita harus cepat.”
“Untuk apa aku keluar? Kau kan bisa menggunakan kekuatanmu itu.”
“Huh, baiklah.” Ujarku akhirnya. Aku berdiri di depan kaca, menatap diriku sejenak. Dan cling_ bajuku berubah putih, dengan model ala dewi Yunani. Lalu menatap Morgan, meminta pendapatnya.
“How?” dia menggeleng.
“Tidak, kau terlihat seperti dewa Mars daripada Aphrodite. Ganti!” aku kembali menghadap kaca, mengayunkan jari dan cling_ bajuku berubah lagi. yang ini adalah gaun hitam panjang, yang dipadu warna gold dengan bagian belakang yang menjuntai. Aku menghadap Morgan, kembali melakukan hal yang sama. Menanyakan penampilanku.
“Tidak, gaun yang menjuntai itu, akan sangat merepotkan jika kau pakai saat berlari.” Aku mengangguk dan kembali menggantinya. Masih sama dengan yang tadi, warna hitam legam. Panjang, tapi tidak membuatnya terlihat ribet. Dengan renda model tumpuk dibagian dada.
“Itu saja.” Celetuk Morgan. Aku mengangguk dengan mata berbinar. Huft, akhirnya selesai juga dandan ala fashion show ini. Buru-buru aku mengambil panah emas dan busurnya. Kemudian menarik Morgan untuk bergegas menuju kereta yang sudah disiapkan.
***
Author POV.
Melihat Soo Yeon sudah menyuruhnya bergegas untuk kesekian kalinya, Keiko dan Morgan mempercepat langkahnya, dan memasuki kereta. Nafas mereka terengah-engah, seperti habis mengikuti kejuaraan marathon.
“Kalian ini lama sekali. Ngapain saja didalam, hah? Atau jangan-jangan…” Soo Yeon menggantung ucapannya kemudian tertawa keras. Sedangkan Morgan hanya menatap bingung.
“Kau… jangan berpikiran yang macam-macam, Yeonni-chan. Atau kulaporkan pada eommamu kalau anak gadisnya ini ternyata mengidap omes yang sangat parah.” Soo Yeon menghentikan tawanya dan langsung menatap Keiko memelas.
“Yah, Keiko-ssi, kau kan baik. Jangan begitulah… sebagai ganjarannya, aku tidak akan melaporkan kerjaanmu dengan Morgan tadi. Oke?”
“Memangnya aku melakukan apa dengan pangeran Winata itu hah?”
“Kau kan…. Uhm, hahaha…”
“Hei, sembarangan kau bicara. Aku hanya mencocokkan baju dengannya.”
“Sebenarnya kalian ini membicarakan apa sih?” Morgan menatap dua gadis dihadapannya dengan tatapan bingung.
“He must know?” Tanya Soo Yeon sambil melirik kearah Keiko yang menahan tawa karena tampang bodoh Morgan yang menggelikan.
“I don’t thing so, Yeonni. En secreto. Hahaha.” Mereka berdua tergelak.
“Hmm, aku harap, ini bukan terakhir kalinya kita tertawa seperti tadi, Keiko-ah. Aku, tak ingin ada salah satu dari kita yang harus pergi.” Ujar Soo Yeon sendu setelah menghentikan tawanya. Keiko meraih Soo Yeon dalam pelukannya.
“Yeonni-chan, tidak ada yang pergi dari kita. Tidak akan pernah. Aku janji.” Morgan tersenyum melihat pemandangan dihadapannya. Yah, semoga saja. Gumamnya pelan.
***
Morgan POV.
Rasanya baru saja aku dan yang lain menginjakkan kaki di padang rumput ini. Tapi sudah disambut dengan anak panah yang meluncur dan nyaris menancap ditubuh Soo Yeon jika Keiko tidak cepat-cepat melindunginya. Tanpa banyak bicara, ia melesat pergi, menghampiri keluarganya yang sedang mati-matian menahan serangan musuh. Dengan cepat juga, aku langsung menarik tangan Soo Yeon untuk bergabung.
“Morgan, tidak bisakah aku menggantikan Keiko untuk menjadi pemimpin perang?” Aku hanya menggeleng.
“Ia akan sangat marah jika kau mati ditangan mereka. sudahlah, siapkan senjatamu, sepertinya kita akan terkepung.”
Dari tempatku berdiri, bisa kulihat Keiko tengah menarik busurnya, memantapkan titik tumpunya. Dan dari sini pula, aku bisa melihat beberapa prajurit ayahku tengah menghampiri Keiko dengan pedang ditangan mereka. Terlihat jelas bahwa pedang itu telah dilumuri racun. Aku menyuruh Soo Yeon menghadapi sendiri musuhnya lalu berlari menghampiri Keiko disana.
Wush_ panah itu melesat bebas, dan menancap tepat di jantung panglima Wiliam. Seketika, ia berubah pucat, tak ada darah yang muncrat memang, tapi panah itu laangsung membekukan tubuhnya lalu meleburkannya menjadi butiran salju. Anak panah selanjutnya ia arahkan ke jantung Diamond yang tengah adu pedang dengan ayah Keiko. And guess what, panah itu berhasil menancap pada titik sasarannya. Sayangnya, karena Diamond makhluk yang kebal, tentu saja ia tidak dapat hancur dengan satu panah seperti Panglima Wiliam. Hanya saja, tubuhnya membeku, membuatnya susah bergerak.
Keiko berteriak keras, meminta semua klannya untuk kembali. Ia mengambil langkah maju dan menjadi pemimpin perang. Mengarahkan satu anak panah lagi ke atas.
“Diamond stratevmata aplomena kai to pagoma!!” teriaknya. Membuatku membolakan mataku tak percaya. Darimana ia tahu mantra itu? sebuah panah itu langsung berubah menjadi ratusan dan menyerang semua klan Diamond. Seketika mereka membeku. Karena tak mau mereka melebur menjadi Kristal-kristal es, ia menjatuhkan busurnya mengangkat tangannya hingga setara dengan matanya. Dan…
Tik_ nyawa mereka terhempas dari tubuhnya. Namun, kelalaian Keiko berakibat fatal. Salah satu prajuritnya ada yang tidak terkena apapun. Memudahkannya melepaskan anak panah milik Diamond pada Keiko. Membuat Keiko terbelalak kaget. Detik berikutnya ia terhempas beberapa meter kebelakang dari tempatnya berdiri.
“Keiko!!” semua memekik kaget. Dengan cepat aku menghampiri Keiko dan mencabut panahnya. Keiko terbatuk, darahnya muncrat keluar dari tubuhnya. Ia mencoba bangun meraih busur dan pedang platina milikku, menjadikan pedang itu anak panah. Entah sudah berapa kali ia batuk darah, tapi ia tetap mencoba kuat. Hampir semua keluarganya ia damprat ketika mencoba menghalanginya.
“Diam atau kalian yang kubunuh!!” teriaknya lagi. kemudian ia menghempaskan pedang itu. Wush_ dengan kecepatan sekilat cahaya, panah itu menancap di dada prajurit itu. perlahan tubuhnya membeku, dan hancur menjadi salju. Ia bernasip sama dengan panglima Wiliam. Detik berikutnya, hal yang sama terjadi pada Keiko. Ia terjatuh lemas. Dengan nafas tersengal ia memanggil Soo Yeon.
“Yeonni-chan, a-ku… aku m-inta… maa-af. Ter- rima ka…sih, atas… sega-lanya…” dan Keiko pun melemas, perlahan matanya terpejam.
“Keiko!!!” aku berteriak frustasi. Ya Tuhan, kenapa tidak aku saja yang mati? Kenapa harus Keiko? L. Aku menoleh menatap Soo Yeon yang tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Ya ampun, sekejam inikah dia hingga menangis untuk sahabatnya pun ia tak sudi?! Ough, aku menyesal mengenalmu Soo Yeon…
***
Author POV.
Soo Yeon terdiam, tak sebulir pun air mata menetes dari pelupuknya. Ia mengedarkan pandangannya sejenak kemudian tersenyum.
“Maaf,” ujarnya begitu melihat Morgan menatapnya dengan tajam. Selanjutnya, ia mengarahkan kedua tangannya tepat di dada Keiko, ia menghela nafas sejenak kemudian, mengucapkan sebuah mantra. Detik berikutnya, sinar putih memancar dari kedua telaapak tangannya. Menyentakkan kebingungan Ny. Hye Ra yang seketika menarik anaknya dalam pelukannya. Tapi terlambat, Soo Yeon sudah tergolek lemah. Nyawanya sudah berpindah ke jasad Keiko.
“Yeonni, nak, eomma mohon jangan tinggalkan eomma. Yeonni…” Soo Yeon bergeming ia tergolek tanpa nyawa dalam pelukan ibunya.
“Yeonni…” Ny. Hye Ra menangis sesenggukan, membuat Morgan merasa bersalah karena sudah mengira yang bukan-bukan tentang Soo Yeon. Perlahan tangan Keiko bergerak. Bibirnya berucap lirih, memanggil nama sahabat kesayangannya.
“Yeonni-chan…”
***
Ini sudah kelima belas kalinya Morgan membujuk Keiko untuk makan. Tapi, gadis itu tetap membisu. Ia benar-benar terpuruk sejak mengetahui Soo Yeon menukarkan nyawanya untuknya. Sahabatnya, yang menurutnya tidak pantas jika ia—Keiko—menyandang gelar itu.
“Keiko, kumohon. Jangan sia-sia kan nyawa yang diberikan Soo Yeon untukmu. Ia akan sangat kecewa jika kau masih tidak mau menjaganya.”
“Tinggalkan aku sendiri.” Pinta Keiko ketus. Membuat Morgan terpaksa memanggil ruh Soo Yeon agar gadis pujaannya ini mau mengisi perutnya barang sesuap.
“Keiko…” suara lembut itu menyentakkan Keiko dari lamunannya.
“Yeonni-chan…”
“Keiko, kumohon, jaga nyawaku, jangan sampai kau membuatnya terhempas begitu saja. Kau tidak mau mengecewakanku, bukan? Jadi jaga pemberianku baik-baik, oke? Akan kusuruh Morgan untuk membantumu menerima kenyataan ini. Bye Keiko sayang.” Detik berikutnya bayangan itu menghilang dihembus angin, bersamaan dengan Morgan yang melemas karena ia menggunakan seluruh tenaganya untuk memanggil Soo Yeon.
“Bagaimana? Kau mau menuruti keinginan Soo Yeon, kan?” Keiko mengangguk mantap diiringi dengan senyuman.
“Baguslah. Kalau begitu, kau juga harus menerima keinginanku.”
“Memang apa keinginanmu?” Tanya Keiko.
“Menikahlah denganku. Aku ingin hanya kau yang kulihat saat aku membuka mata dan ketika aku akan menutupnya.” Keiko terperanjat kaget.
“Eh~ kenapa tiba-tiba sekali?”
“Tidak tiba-tiba, Keiko ssayang. Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu dari pertama kali kita bertemu.”
“Uhm, bagaimana ya?”
“Kau tidak boleh menolak. Karena jika kau menolak, aku tidak segan-segan menerkammu saat ini juga.” Morgan mendekati Keiko perlahan dengan evil smile dibibirnya. Cara ampuh membuat Keiko gelagapan dan akhirnya menyetujuinya.
“Eh~ baiklah, baiklah… I do.” Morgan mengecup pipi gadis itu sekilas dan berbisik.
“Terima kasih banyak, Keiko.”
THE END
Stephanny POV.
Aku menghela nafas lega begitu mengetik kata ‘THE END’ pada novelette yang kubuat itu. tersenyum dengan puas begitu membaca ulang novelette yang rencananya akan kukirim ke penerbit langgananku sebagai novel edisi special yang kupersembahkan untuk semua orang yang kusayang dan menyayangiku.
“Gimana? Udah the end tu novel?” Tanya Aldy sambil menarik kursi dan duduk disebelahku.
“Udah dong, gue kan bukan tukang ngaret kayak elo ama Key.” Ujarku bangga. Detik berikutnya Key dan Nadia sudah menghampiriku dengan dua kresek besar dari KFC.
“Apaan nih, nama gue di bawa-bawa. Disama-samain lagi ama playboy jelek satu nih. Idiih, ogah banget deh, kagak sudi tujuh turunan.” Katanya lebay. Dan tindakannya itu menghasilkan satu jitakan dari Nadia yang dengan mulus mendarat di kepala Key.
Pletak.
“Aww. Gila ya lo. Gue anteng-anteng gini dijitakin.” Key mendengus kesal. Membuatku hanya mampu terkekeh pelan melihat ekspresi kesalnya yang menurutku sangat lucu.
“Gue gak gila. Gue Cuma gak nahan denger kelebaian lo yang kayaknya udah stadium akhir gitu.” Ujar Nadia santai, yah, begitulah dia. Pembawaannya yang selalu stay cool membuat kami betah berlama-lama dengannya.
“Ish~ watados banget sih lo. Oh iya, Stef, gimana novel lo? Udah FIN belum?” Key mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena ia sadar diri, berdebat dengan Nadia hanya membuatnya naik pitam dan yang jelas kalah telak mengingat Nadia memang jago bicara.
“Udah dong. Nanti pada beli, ya. Ini novel gue persembahkan buat elo elo juga lho.”
“Sip kalo itu mah. Tanpa elo minta pun kita bakal beli. Ya gak, sayang?” ujar Aldy pada kedua gadis—Key dan Nadia—dihadapanku yang langsung mendapat sambutan pelototan garang dari keduanya.
“Sayang, sayang. Gombal lo. Gak mempan gue, ya gak, Nad? Males gue berurusan sama playboy cap kecoa kayak elo. Ih…”
“Yo’I Key. Cukup deh buat cewek melayang, Al. elo pernah ngerasain sendirikan balesan dari kita?” ujar Nadia kesal. Melihat Aldy gak tobat-tobat mainin perasaan cewek. Padahal dia udah kena bogem mentahnya Nadia, si Atlet Taekwondo, juga udah pernah ngerasain ditampar sama Key yang notabene adalah anak emas para ballerina. Eh, apa hubungannya, ya? Yang jelas ditampar sama cewek feminism itu lebih perih daripada ditampar sama cewek tomboy sekelas Nadia.
Eits, jangan salah, lho. Meski tomboy, dia gak pernah luput dari aksesoris yang rata-rata warna pink soft, yang bikin dia keliatan feminism banget, belum lagi kenyataan bahwa Nadia itu lebih sensitive daripada Key yang emang dari sononya udah girlie banget. Padahal kalo elo elo pada udah ngeliat aslinya, aku yakin gak ada satupun dari kalian yang berani deket-deket ama tu anak kalo tanduk iblisnya udah pada keluar. Alias ngamuk.
Mau tau kenapa tu anak dua langsung sewot begitu Aldy—si playboy kelas kakap—manggil mereka ‘sayang’? jawabannya Cuma satu, karena mereka adalah salah satu korban kekejaman Aldy yang amat sangat tanpa perasaan itu. tapi dari situ juga akhirnya kita berempat sahabatan selama dua tahun belakangan ini.
FIN J