Dealova
“Tak bisakah kau menerimaku? Aku mohon Keiko.”
Lelaki itu masih menggenggam tangan Keiko erat. Keiko menatap sedih, sebenarnya
ia juga mencintai lelaki itu. Tapi satu hal membuatnya harus memendam dalam
dalam perasaannya untuk lelaki yang tengah mengemis cinta padanya.
“Maaf, sekali lagi maaf Morgan. Aku… aku tak
bisa menerimamu.” Ujarnya lirih. Pertahanan yang ia bangun runtuh sudah. Air
matanya mengalir deras, menganak sungai di pipinya.
“Kenapa? Aku tau kau juga mencintaiku, Keiko.
Jangan bohongi perasaanmu. Itu akan membuatmu tersiksa seperti dulu.” Morgan
menghapus air mata Keiko pelan. Tangannya bergetar saat akan meraih pipi gadis
itu, seolah gadis itu serapuh dedaunan yang terhempas angin musim gugur.
“Aku memang mencintaimu, Morgan. Tapi, aku
memang tak bisa menerimamu. Terlalu banyak perbedaan diantara kita. Itu
penghalang bagiku. Lagipula kau sendiri yang bilang, kalau aku menikah denganmu
itu sama saja kau membunuhku.” Ia mendongak menatap wajah pucat nan tampan
dihadapannya. Bibirnya bergetar, mencoba menelan tangisnya dengan susah payah.
“Tapi, Keiko… aku bisa menjadi manusia, jadi
kau tak perlu repot-repot tinggal di Centhopya.”
“Cukup Morgan, kumohon. Aku tak ingin salah
satu dari kita merasa terpaksa. Lupakan aku, biarkan aku saja yang tersiksa.”
“Keiko…” Morgan merajuk, ia benar-benar tak
sanggup harus kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya.
“Maaf Morgan. Pergilah, kalau kau terus
menahanku, aku akan semakin sulit melupakan rasa ini.”
“Baiklah, tapi biarkan aku menciummu untuk
terakhir kalinya. Please.” Keiko mengangguk. Membiarkan lelaki yang notabene
orang lain dalam hidupnya menciumnya untuk terakhir kali sebelum ia pergi untuk
melupakan segalanya. Tak ada permainan dalam ciumannya, hanya sekedar menempel,
tapi dilakukan Morgan dengan tulus dan penuh perasaan. Detik berikutnya, Morgan
melepas ciumannya. Mengusap pelan bibir pucat Keiko, lalu mengusap matanya yang
sudah digenangi air mata.
“Terima kasih untuk segala yang pernah kau
berikan. Aku pergi, semoga kau bahagia dengan keputusanmu, dan jangan melupakan
aku. Hati-hati.” Morgan beranjak pergi, menghilang di tengah kegelapan malam.
Sedangkan Keiko kembali menangis dalam diam. Ia tak sanggup bila harus menopang
hatinya sendirian.
***
Keiko POV.
Demi apapun aku merindukan sosok pria yang
selalu membuatku tersenyum itu. Morgan, aku merindukanmu. Ya Tuhan haruskah aku
melakukan ini? Rasanya tak masuk akal jika aku harus mengorbankan hal yang
paling berharga bagiku hanya untuk bertemu Morgan. Karena aku tak mungkin mendapatkannya
kembali jika sudah melepasnya. Tuhan, aku tersiksa jika harus begini terus… L
Morgan POV.
Aku
yakin seyakin-yakinnya. Keiko memanggil namaku lirih. Tapi, apa harus aku
datang padanya? Sedangkan ia sendiri memintaku untuk melupakannya. Argh… aku
bisa gila kalau begini terus. Aku harus mendatanginya. Harus. Tapi, apa Diamond
akan mengizinkan? Mengingat ia sudah marah besar denganku karena berhubungan
dengan Keiko. Gadis Jepang yang menarik hatiku. Sejak pertama kali bertemu, dua
bulan lalu. Saat ia sedang mengunci pintu balkonnya, tapi terlonjak kaget saat
aku tiba-tiba datang dihadapannya.
Flashback_
“Keiko,
sudah malam, tidurlah. Dan jangan lupa tutup jendelanya. Selamat malam,
sayang.” Wanita itu mengecup kening Keiko dan beranjak pergi.
“Selamat
malam juga, Mama.” Ia tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu balkon.
Diraihnya kenop pintu dan menariknya ke dalam. Namun detik berikutnya, nafasnya
terhenti sejenak melihat aku muncul dengan tiba-tiba dihadapannya.
“Selamat
malam nona.” Aku tersenyum sopan, menyapa sang empunya rumah.
“Kau… kau
siapa? Kenapa ada disini?” perlahan Keiko bergerak mundur, mengambil
ancang-ancang untuk kabur.
“Hei,
tenang nona. Aku tak akan melukaimu. Kenalkan, aku Morgan Winata. Aku bisa
disini, karena aku terpesona dengan senyummu yang seindah rembulan itu. saat
aku tak sengaja menengok ketika sedang berjalan-jalan tadi.”
“Tapi,
bagaimana bisa kau ada disini? Jangan-jangan kau… makhluk halus ya?” Gadis itu
bergidik ngeri, membuatku terkekeh pelan. Bagaimana bisa pangeran eh, ralat.
Raja tampan sepertiku dibilang setan?! Sepertinya dia benar-benar ketakutan
denganku. He he he, maaf nona cantik, aku tak bermaksud menakutimu.
“Sembarangan
kau bicara. Aku ini calon raja, masa’ kau bilang setan…” aku merajuk,
berpura-pura mengambek. Detik berikutnya ia terbahak melihatku.
“Hahaha…
yang benar saja kau. Mana ada di zaman serba canggih ini masih menganut paham
‘kerajaan’. Memang kau tinggal dimana, hah?” Ya ampun, kenapa dia makin
terlihat manis, sih. Bisa-bisa aku tak mau pulang kalau begini caranya.
“Kau tau
Centhopya? Aku tinggal disana.” Ia terdiam, mencoba meresapi kata-kataku. Ouh,
dia terlihat manis apapun ekspresinya. Apalagi bibir pink pucatnya yang alami
itu. ugh, rasanya aku ingin menciumnya saat ini juga. Eh, ya ampun, Morgan. Apa
yang sedang kau fikirkan hah? Kenapa jadi mesum begini otakku, ini pasti
gara-gara gadis ini yang terlalu menggoda.
“Eh,
Centhopya katamu? Yang benar saja. Itu hanya salah satu kisah dari sejarah
mitologi Yunani. Mana mungkin ada. Kalau pun ada, itu pasti beberapa ratus
tahun yang lalu. Kau jangan bohong. Aku ini gadis pintar.”
“Centhopya
memang ada, tapi tidak dibumi ini. Ada di sebuah planet tersendiri di salah
satu jagat raya ini. Kau mau ikut denganku, hanya untuk sekedar melihat-lihat?”
“Oh, tidak
terima kasih. Sudah larut, dan sebaiknya kau pulang sebelum ibumu memarahimu
karena terlalu lama bermain.” Ujarnya dengan senyuman. Ya ampun, demi Neptunus.
Aku benar-benar tak tahan dengan senyumannya.
“Uhm,
baiklah, tapi suatu saat mau kah kau bermain ke negeriku?” ia mengangguk.
“Ya, jika
ada waktu. Sudah, pulang sana.”
“Baiklah,
ambil ini, kau bisa menggunakannya jika ingin bertemu denganku. Bye J”
“Terima
kasih, Morgan. Bye J” ia
menutup pintu balkonnya. Dan aku kembali memanggil Rokkie, unicorn kesayanganku
dan kembali pulang.
Flashback
off_
Hhh, andai saja waktu bisa kuulang. Aku tak
akan menyia-nyiakan gadis itu begitu saja. Bahkan, jika memungkinkan aku akan
membawanya kesini, mempersuntingnya dan menjadikannya permaisuri yang
mendampingiku setiap saat. Dari mulai aku membuka mata, hingga aku kembali
menutupnya.
Tapi, sepertinya agak mustahil. Karena Dealova
yang dia punya akan menghalangiku.
***
Author POV.
Gadis itu membuka matanya perlahan, mencoba
membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk lewat ventilasi dan sisi-sisi
jendela yang mengayun pelan. Ia terduduk, mengumpulkan nyawanya yang masih
berkeliaran di alam mimpi. Setelahnya ia beranjak mandi, sarapan, berangkat
kuliah, kuliah, makan siang di kantin, pulang, mandi (lagi?), makan malam,
belajar, dan terakhir melaksanakan hobinya tiap malam. Duduk merenung di
balkon, sambil terus berharap seseorang yang ia rindu mengunjunginya barang
semenit.
Teng… teng… teng…
Jam besar di ruang tengah berdentang keras,
menggema keseluruh penjuru rumah. Bahkan hingga menelusup masuk ke kamar Keiko
yang terletak di sudut lantai dua. Keiko menoleh ke nakas, melihat jam kukuknya
yang bertengger manis disana.
“Hfft, sudah tengah malam.” Desahnya kecewa.
Kemudian berjalan masuk seraya menutup pintunya. Menutup gordennya, lalu pergi
tidur. Mencoba menghilangkan penat yang menggelayutinya.
***
“Keiko, kau
tenang ya, aku disini… dan berjanji takkan pernah meninggalkanmu lagi.” pria
itu merengkuh tubuh mungil milik seorang gadis dihadapannya. Sedangkan gadis itu,
masih terisak walau pelan.
“Tenanglah.
Matamu terlalu indah untuk mengeluarkan air mata itu. apa lagi hanya untukku.”
“Aku… hiks,
aku… aku benar-benar gila tanpamu, Morgan. Kumohon jangan pergi lagi, sekalipun
aku yang meminta.” Ujar Keiko masih dengan sisa tangisnya. Morgan mengangguk,
menyanggupi permintaan gadis manis dalam dekapnya. Gadis itu mendongak, mencoba
menelan tangisnya kembali.
“Are you
sure?”
“Of course,
Keiko. Bahkan jika bisa, aku ingin membawamu ke Centhopya, mempersuntingmu,
menjadikan permaisuriku, yang menemaniku memimpin negeriku yang nyaris hancur.”
“I do,
Morgan. I do. Asal bisa bersamamu, aku mau.” Keiko menyanggupi keinginan pria
yang ‘nyaris’ jadi kekasihnya. Tapi Morgan menggeleng.
“Sebaiknya
tak perlu, kau bisa dibunuh jika benar-benar kesana.”
“Kenapa?”
“Kau itu
pewaris tahta keluargamu. Dan kau tau, tentang Dealova yang sering kuceritakan
itu. ternyata kau memilikinya, Keiko. Dan Diamond tau itu, aku tak ingin kau
dibunuh olehnya.”
“Memangnya
kenapa kalau aku memiliki Dealova. Ibuku dan ayahku, juga punya.”
“Bagimu dan
keluargamu, kekuatan Dealova tidak diperlukan disini. tapi di Centhopya, itu
dijadikan senjata, kekuatan, dan kekuasaan.”
“Lalu, apa
masalahnya? Kalau aku ikut bersamamu, kau bisa memilikiku seutuhnya, yang bisa
kau jadikan istri, senjata, kekuatan, kekuasaan dan apapun yang kau mau.”
“Masalahnya
adalah, untuk membuat Dealova itu berguna, berarti, aku harus meminum darahmu.
Dengan kata lain, kau harus mati. Jadi kumohon, biarlah aku sendiri yang
menanggungnya. Jangan paksa aku untuk membawamu kesana. Itu akan mengancam
nyawamu.”
“Tapi…”
“Sudahlah,
aku pergi dulu, Keiko. Bye J”
“Morgan…
morgan…” Keiko berteriak histeris saat Morgan pergi bersamaan dengan kabut
malam yang menjemputnya.
***
“Morgan…” Keiko terbangun dari mimpinya.
Peluhnya mengucur deras, nafasnya memburu. Mimpinya memutar ulang kejadian saat
dia juga memutuskan hal yang sama seperti saat ini. Meminta Morgan menjauh dari
hidupnya. Tapi pada akhirnya, ia lah yang kalah, dan meminta Morgan kembali
padanya.
Morgan POV.
“Keiko...” aku terbangun. Kemudian bergegas
menuju meja kerjaku yang terletak disudut kamarku. Aku menyalakan lampunya,
kemudian menggeser bola Kristal kehadapanku. Mengucapkan beberapa kata, meminta
si bola menunjukkan keadaan Keiko padaku secepatnya. Detik berikutnya, gambaran
Keiko muncul. Dia terlihat, agak mengenaskan. Terduduk di ranjangnya, dengan
wajah pucat dan nafas yang terengah-engah. Kausnya terlihat basah karena
keringat, air matanya mengalir deras. Sepertinya, dia habis bermimpi buruk.
Oh, Neptune… aku harus bagaimana? Keiko, kau
mimpi apa? Kenapa sampai begitu? Hhh. Sejenak merenung, membuatku ingat dengan
benda putih kecil yang diberikan Keiko beberapa hari lalu. Katanya, dengan
benda itu, aku bisa menghubungi gadis itu. aku merogoh laci. Setelah cukup lama
tanganku berkutat didalamnya, akhirnya aku menemukan si putih kecil itu. eh,
bagaimana cara memakainya ya? Sudahlah, kucoba saja dulu.
Beep… beep… beep…
Setelah hampir ribuan kali bunyi “beep” itu
terdengar, akhirnya aku bisa menghubungi Keiko. Kulihat dia sedang mengambil
benda putih miliknya. Katanya sih, namanya smartphone atau apa gitu… entahlah.
Eh, eh, dia bicara.
“Moshi-moshi, ada apa Morgan?” Keiko bicara
dengan suara tercekat.
“Ehm, Keiko, kau baik-baik saja?”
“Tidak begitu baik, ada apa?” Ya ampun, kenapa
nadanya ketus sekali. Huh, tidakkah dia tau, aku rela berpusing ria bermain
dengan benda ini hanya untuk menghubunginya. Menyebalkan.
“Kenapa nada bicaramu ketus sekali. Aku hanya
khawatir padamu. Keadaanmu terlihat, ehm, mengenaskan. Kau mimpi apa, hah?”
“Ke… kenapa kau bisa tau? Kau ada disekitar
sini? Dimana?”
“Tidak, tidak. Aku ada dikamarku sekarang. Kau
lupa? Aku ini punya Kristal yang bisa memantaumu saat firasatku bilang kau
sedang tidak baik-baik saja.”
“Oh, apa aku harus memberi-tahukan mimpiku
padamu? Itu hanya bunga tidur. Tak begitu penting.”
“Kalau memang tidak begitu penting, kenapa kau
sampai menangis tersedu begitu? Jangan bohong, Keiko.”
“Baiklah, baiklah. Aku bermimpi tentang
‘Dealova’ku yang kau ceritakan waktu lalu.”
“Oh, begitu. Ya sudah, tidurlah lagi. jangan
sampai matamu membengkak dan menghitam besok pagi. Good nite.”
Dia sepertinya benar-benar memikirkan
‘Dealova’nya. Sampai-sampai terbawa mimpi seperti ini. Ya Tuhan. Kenapa harus
dia yang mempunyai kekuatan itu? kenapa tidak aku saja? Lagi pula, aku lebih
membutuhkannya dari pada Keiko. Hhh L.
***
Keiko POV.
Sudah hampir ribuan kali aku mengetik kata yang
sama pada kolom ‘search’ di Google. Tapi kenapa hasilnya tidak muncul? Selalu
tidak ditemukan. Eits, sepertinya aku melupakan sesuatu yang cukup penting
mengenai hal ini. Apa itu? eh, aku ingat! Tempat tinggal Morgan. Yups,
Centhopya. Dan, tadaa… muncullah sejarah aneh itu.
“… Dealova adalah sebuah kekuatan yang diturunkan
di setiap generasinya pada orang-orang bermarga ‘Kim’ untuk orang Korea, ‘Zoe’
untuk orang Jepang, dan ‘Kara’ untuk orang Eropa. Kekuatan tersebut sangat
diincar oleh orang-orang Romawi, Troya dan Centopya. Mengapa begitu? Karena
kekuatan tersebut adalah senjata—bagi mereka para prajurit dan pejuang
Negara—kekuatan untuk berkuasa, bagi para raja. Dan menjadi salah satu pengabul
keinginan hanya dengan satu jentikan jari. Karena itu, kaum Dealova yang
awalnya menetap pada satu wilayah di bukit Olympus, kini menyebar ke seluruh
dunia. Dan keturunan yang diketahui masih hidup sampai saat ini adalah
keturunan Jonathan Zoe dari Jepang, dan Kim Stefan dari Korea. Sedangkan untuk
warga Eropa dikabarkan sudah tidak ada satupun yang tersisa. Setelah
pembantaian habis-habisan oleh Caesar Oktavianus dan Caesar Diamond yang kini
menetap di planet buatannya sendiri yang menjadi salah satu satelit planet
Neptune…”
Aku terbelalak dengan suksesnya. Terutama saat
membaca nama Jonathan Zoe yang notabene adalah kakekku, yang pernah diceritakan
oleh Mama, saat aku masih kecil. Pantas saja Morgan melarangku ikut ke
negerinya. Dengan alasan yang sama. Hanya karena Diamond, kakek Morgan.
***
Morgan POV.
Ugh, sudah kuduga, ia pasti akan mencari tahu
sendiri pada akhirnya. Kira-kira apa yang akan dilakukannya setelah ini, ya?
Perlahan kecemasanku memuncak. Takut Keiko akan menjauhiku karena alasannya
yang menurutku terlalu klise. Sebenarnya, saat ini pun, aku masih kesal dengan
sikapnya yang ternyata benar-benar membuktikan perkataannya. Ia bahagia dengan
seseorang pilihannya.
Terlihat Keiko menghela nafas berat. Memijat
pelipisnya demi mengurangi penat yang sepertinya melanda dengan tiba-tiba.
Pelan ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah balkon. Meraba tengkuknya
sejenak. Seperti sedang mencari sesuatu yang membelit lehernya. Hingga ia
menemukan senar kalung dariku. Kalung berbandul diamond berbentuk wajik yang
sebenarnya menghubungkan dengan Kristal
bulat yang sering kugunakan untuk memantaunya dari sini.
And guess what!! Ia melepas paksa kalung itu,
menatapnya sinis sejenak lalu mengangkat tinggi-tinggi kalung itu, nyaris
membuangnya tapi diurungkannya. Sebagai gantinya ia melepas bandul wajiknya
lalu membantingnya. Membuatnya terbagi menjadi beberapa kepingan, dan
memburamkan pantauanku. Detik berikutnya, Kristal bulat ditanganku menggelap.
***
Author POV.
Keiko menutup laptopnya. Mengarahkan
pandangannya menuju berlian berbentuk wajik yang sudah pecah berkeping karena
bantingannya tadi. Keiko tersenyum sinis, mengambil satu kepingannya disusul
dengan kepingan yang lain. Lalu membungkusnya dengan sapu tangan putih
miliknya, menyimpannya rapi pada laci nakasnya. Aksi selanjutnya adalah
membuang satu persatu memori tentangnya dengan Morgan.
“Keiko, kenapa kau hancurkan kalung itu?”
seseorang tiba-tiba hadir dengan raut wajah kecewa, sedih dan kesal. Gadis itu
terlonjak kaget. Dan reflex mundur dengan perlahan.
“Morgan?” gumamnya lirih.
“Iya, ini aku. Keiko-san. Aku kecewa padamu.”
Morgan menunduk sedih. Kemudian menatap Keiko nanar.
“Maaf. Tapi itu harus kulakukan, sebelum
Diamond membantai keluargaku.” Morgan mendongak kaget.
“Apa maksudmu?” Dahinya berkerut bingung.
“Kau tau? Cepat atau lambat Diamond akan
mengetahui keberadaanku jika aku tak secepatnya menghancurkan kalung itu. yah,
meski aku tau itu percuma karena Diamond sedang menyiapkan pasukannya untuk
membantai keluargaku dan keluarga sahabatku, Soo Yeon, keturunan tuan Kim
Stefan di Seoul.” Morgan tertegun.
“Bagaimana kau bisa tau kabar itu dalam waktu
yang begitu singkat?”
“Morgan, sekarang apapun bisa terlacak dengan
mudah, apalagi dengan posisi planetmu yang menjadi salah satu satelit di orbit
ini. Tentu dengan mudah mengetahuinya. Dan lagi, Soo Yeon yang ternyata track
finder*, bisa dengan gampangnya membaca seluruh kegiatan yang sedang berlangsung
di negaramu, hanya dengan menyentuh peta.” Sejenak, Morgan tertegun kemudian
langsung sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu jika tidak ingin membuat
gadisnya membencinya lebih dalam.
“Soo Yeon? Dimana dia sekarang?” Tanya Morgan
dengan ekspresi panic.
“Untuk apa kau bertanya? Jangan bilang kalau
dia dan keluarganya sedang dibantai.” Morgan mengangguk ragu.
“Apa?! Jadi itu benar? Yeonni-chan, Yeonni…”
teriaknya histeris, dengan cepat ia menghampiri Soo Yeon yang sedang berkutat
dengan buku-buku mitologi Yunani di perpustakaan ayahnya.
Brak_
Keiko membuka pintunya dengan kasar dan
tercengang dengan pemandangan dihadapannya. Soo Yeon sedang meringkuk gemetaran
disudut rak, air matanya mengalir deras, nafasnya memburu.
“Yeonni-chan, are you okey?” Keiko berjongkok
dihadapan sahabatnya. Soo Yeon memeluk Keiko erat, tangisnya makin menjadi,
membuatnya agak sulit untuk berucap.
“Keiko… hiks L. Keluargaku…”
“Tenanglah, aku akan memanggil Okaa-san. Ia
pasti tau apa yang harus kita lakukan.” Soo Yeon hanya mengangguk lalu melepas
pelukannya. Matanya membola seketika begitu melihat Morgan yang tersenyum
dibalik punggung Keiko.
***
Keiko POV.
“Keiko… itu bukannya Morgan?” Tanya Soo Yeon
terbata, terlihat badannya gemetar karena takut. Aku menoleh ke belakang, dan
mendapati Morgan sedang menatap kami dengan senyumannya. Aku kembali menghadap
Soo Yeon yang kian memucat.
“Iya, dia Morgan. Kenapa kau bisa tau?”
“Dia cucunya Diamond, bukan. Keiko, kenapa dia
ada disini? jangan katakan kalau dia akan membantai kita sendirian.”
“Tidak Yeonni-chan. Dia temanku. Sudahlah, ayo
kita ke Okaa-sanku.” Aku bangkit, membantunya berdiri. Kemudian berlalu begitu
saja menuju okaa-sanku yang sedang memasak.
“Mama, keluarga Yeonni dibantai.” Ujarku pelan.
Okaa-san langsung menghentikan pekerjaannya, mematikan kompor lalu menarik kami
menuju gudang bawah tangga. Mamaku melakukannya tanpa penjelasan sedikitpun,
membuatku kebingungan setengah mati.
“Mama, apa yang akan kita lakukan? Bicaralah,
jangan membuat kami bingung seperti ini.” Sentakku pelan, sambil sesekali
melirik Soo Yeon yang terlihat lebih bingung dariku.
“Kita hubungi keluarga yang lain, lalu mama
akan menyiapkan alat perangnya, kau dan Yeonni, introgasi Morgan sampai ia
memberitahu apa rencana kakek dan ayahnya itu. cepat, sebelum keluarga Yeonni
dan keluarga kita mati secara perlahan.” Kami mengangguk mengerti, kemudian
keluar menghampiri Morgan yang masih setia berdiri di ruang tengah.
“Jadi, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya
Morgan begitu kami sudah stay dihadapannya.
“Menyanderamu, dan membuatmu membuka mulut
memberitahukan apa rencana keluargamu.” Perlahan tapi pasti aku dan Soo Yeon
memojokkannya dengan tatapan tajam yang kami punya.
“Apa? Keiko, Soo Yeon, aku tak tahu apa-apa
soal rencana penyerangan ini.” Aku melipat tangan di dada, sambil berucap
sinis.
“Jangan mengelak, Morgan. Tak ada gunanya.
Lebih baik mengaku saja, sebelum aku melayangkan nyawamu dalam waktu kurang
dari sepuluh detik dari sekarang. Sepuluh.”
“Keiko, tapi aku…”
“Sembilan…”
“Keiko, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar…”
“Delapan…”
“Keiko, hear me please…” ujar Morgan dengan
mimic memohon.
“Tujuh…”
“Keiko!!”
“Enam…” aku
masih menghitung tanpa mempedulikannya. Hingga ia menyerah dan membentakku.
“Keiko!! Listen!! Aku memang keturunan asli
dari Diamond, tapi bukan berarti aku mengetahui segala tentang mereka. apalagi
tentang penyerangan ini. Kau boleh membunuhku, tapi izinkan aku untuk membantu
keluarga kalian menyelesaikan pembantaian ini.” Aku menghela nafas berat,
kemudian melayangkan pandanganku ke Soo Yeon dan mama yang dijawab dengan
anggukan pelan.
“Oke, tapi jika ternyata kau terlibat dengan
penyerangan ini, aku tak segan-segan membantai keluargamu lebih parah dari
ini.” Morgan mengangguk pasti, sepertinya ia benar-benar tak tahu apa-apa.
Huft, sudahlah.
***
Author POV.
Bandara
Incheon, Seoul. 2:30 pm.
Pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Keiko dan
keluarganya mendarat mulus di airport. Dengan cepat mereka berlarian ke arah
mobil jemputan mereka dan melesat ke kediaman keluarga Kim Stefan.
“Maaf kami terlambat, bagaimana keadaan kalian
saat ini?” Tanya okaa-sanku beruntun. Ny.Kim Hye Ra menghambur ke pelukan
okaa-sanku dengan tangis yang berderai.
“Aikawa… hiks.” Aikawa—ibunya Keiko—mengelus punggungnya
pelan, mencoba menenangkan Ny. Hye Ra barang sejenak.
“Ada apa? Tenanglah dulu.”
“Yong Jae, Yong Jae, disandera. Mereka tau
kalau Yong Jae adalah pemilik dealova terkuat. Aku bingung, harus bagaimana.”
“Memangnya Ji Wook kemana?”
“Suamiku, gugur. Ia mati ditangan Diamond.” Soo
Yeon yang dari tadi hanya menjadi pendengar langsung menangis histeris begitu
mendengar appanya sudah tiada.
“Appa…” gumamnya dalam tangis. Ny. Hye Ra
langsung meraih Soo Yeon dalam pelukannya.
“Yeonni-ah, maafkan eomma, eomma tidak bisa
membantu appa tadi. Eomma pingsan.” Ia menghapus air matanya, lalu tersenyum
pahit.
“Tak apa eomma. Lebih baik kita selamatkan Yong
Jae oppa sebelum ia bernasib sama dengan appa.” Soo Yeon menatap Keiko intens.
“Keiko, aku berharap banyak padamu. Karena
hanya kaulah yang bisa menyelamatkan oppaku. Jebal.” Keiko mengangguk pasti dan
tersenyum.
***
Morgan POV.
Ya Tuhan, aku tidak mampu membayangkan jika aku
yang mengalami nasib seperti Soo Yeon. Pasti sakit sekali rasanya. Ough, kalau
begini ceritanya, aku lebih memilih menjadi keturunan orang biasa saja,
daripada harus mengalami kejadian seperti ini. Kenapa pula harus keluarga Keiko
yang mempunyai dealova? Kenapa tidak yang lain. Mungkin kalau bukan Keiko, aku
sudah ikut-ikut membantainya daritadi. Huft, takdir terlalu sulit untuk
dimengerti.
Keiko menatap tajam ke arahku, lalu menggeretku
keluar dengan paksa. Membawaku ke ruang bawah tanah yang tampak seperti secret
room. And, see. Ternyata itu perpustakaan. Tapi, kenapa di tempatkan si bawah
tanah? Ah, sudahlah, ikut saja apa maunya, daripada aku harus mati sia-sia
ditangannya, lebih baik menuruti apa yang ia mau.
“Morgan.” Panggilnya pelan. Seperti akan bicara
hal rahasia.
“Apa? Apa yang harus kulakukan?”
“Be yourself, tapi kau harus menyamar dengan
baju lain. Oke?” Aku mengangguk pasrah. Terlihat ia sedang berfikir keras,
sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Kemudian menghela nafas berat,
menatapku sejenak. Mengayunkan jarinya dan, tadaa… bajuku berubah. Tapi, yang
ini agak norak. Kenapa? Karena warnanya yang terlalu mencolok, sama sekali tidak
cocok dengan tampangku yang terkesan arogan.
“Uhm, Keiko, ini tidak cocok denganku yang
berwajah cool.” Ia memutar matanya kesal.
“Tcih~ pede sekali. Uhm, oke, kuubah lagi.”
Cling_ bajuku berganti untuk kedua kalinya.
Kali ini dengan baju ala pemain opera sabun. Baju khas kerajaan dengan jubah
hitam panjang yang tersampir dibahuku. Cocok sih, tapi… terlalu berlebihan
kalau untuk perang.
“Keiko, aku ini mau perang, bukan pesta.” Ia
terkikik pelan, oh, sudah lama aku tidak melihat senyumnya lagi, dan ini pertama
kalinya ia tersenyum untukku setelah beberapa minggu kami saling tarik urat.
“Hehehe, maaf. Tapi, kau terlihat tampan dengan
baju itu, terkesan berwibawa. Ouh, aku jadi terpesona lagi padamu, Morgan.”
Ujarnya diiringi tawa. Lalu kembali mengayunkan jarinya.
Cling_ baju kerajaan itu berubah lagi. kali ini
dengan kemeja abu, dengan jas hitam kebiruan. Yang dibalut dengan jubah biru
laut yang tidak terlalu panjang. Aku mematut diri didepan kaca besar di sudut
ruangan. Keiko menatapku dengan senyuman. See, aku terlihat sangat tampan.
Tidak menunjukkan ciri khasku, tapi masih tetap seperti jati diriku yang
sebenarnya.
“Aku suka dengan ini.” Ujarku dengan senyuman.
“Oke, perlu senjata atau tidak?” aku
mengetuk-ngetukkan jariku pada dagu kemudian mengangguk.
“Aku perlu panah dan busurnya. Kalau pedang,
aku punya sendiri.” Kataku dengan menunjukkan pedang platina kesayanganku.
“Kau ini bodoh atau apa, hah?! Mereka akan
mudah mengenalimu dengan pedang platina itu.”
“Tapi, aku tak bisa tanpa pedang ini.” Ujarku
merajuk. Keiko melengos kesal.
“Uh, kau ini seperti anak kecil. Ya sudah,
ganti saja sarung pedangnya.” Ia melemparkan sarung pedang baru berwarna merah
lalu disusul dengan topeng yang hanya menutup setengah wajah. Warna merah juga.
Hmm, dia pintar memadukan warna. Kenapa tidak jadi designer saja ya? Itu lebih
mudah daripada harus menjelma sebagai Dewa Mars*.
***
Keiko POV.
See!! Dia terlihat lebih tampan, tapi tetap
tidak sebanding dengan personil boyband Korea, Cho Kyuhyun. Karena
bagaimanapun, Kyuhyun tetap yang paling tampan. Hahaha. Eh? Kenapa aku jadi
melantur begini? Sudahlah. Lupakan. Sebaiknya aku memikirkan cara membunuh
Diamond dan pasukannya, serta menyelamatkan Yong Jae sebelum ia dibunuh.
“Morgan, apa kau tau kelemahan kakekmu itu?”
“Uhm, sebentar. Agak susah mencari
kelemahannya, mengingat ia sudah meminum berliter-liter darah Dealova. Dalam
waktu setahun ini.” Aku terperanjat. Darah dealova dari mana? Keberadaan kami
baru saja diketahui, dan sampai saat ini, baru ayah Soo Yeon saja yang mati.
“Tunggu, darah dealova dalam waktu setahun ini?
Bagaimana bisa? Keberadaan kita baru saja diketahui, Morgan.”
“Bisa saja, dia punya berjerigen-jerigen darah
yang disimpan di gudang bawah tanah. Hasil pembantaiannya pada keturunan Kara.”
“Apa tidak menimbulkan bau tak sedap? Eurgh,
membayangkannya saja aku sudah mual.”
“Tentu saja tidak, karena darah dealova itu
harum, sama sekali tidak anyir. Dan rasanya sangat manis.” Ujarnya dengan
ekspresi seperti orang yang kelaparan dan sangat ingin mencicipi makanan khas
dari resto mewah. Oh, seperti aku harus jaga jarak dengannya.
“Kau pernah mencobanya?”
“Tentu saja. Setiap pangeran dan keturunan
Winata wajib meminum darah dealova setiap setahun sekali. Kau mau mencobanya?”
aku menggeleng cepat, wajahku mulai memucat ketika ia menatapku dengan mata
berbinar.
“Tidak. Tidak mau dan tidak akan pernah mau.
Satu lagi, jangan kau coba coba menerkamku, Morgan. Karena itu sama saja
membahayakan nyawamu.” Ia tergelak.
“Hahaha, kau takut, ya? Tenang saja aku tidak
akan menerkammu, tapi…” ou ouh… dia menatapku intens dengan evil smile yang
tersungging dibibirnya. Dan parahnya, aku panic, membuatku kehilangan semua
kekuatanku dalam sekejap. Morgan berjalan mendekat, pelan tapi pasti. Membuatku
ikut berjalan mundur hingga akhirnya terhimpit tembok.
“Morgan, kau mau apa?” Tanyaku. Jujur saja aku
benar-benar ketakutan sekarang. Oh my God… mama…. Tolonglah anakmu yang manis
ini. Hiks L. Detik berikutnya Morgan tergelak.
“Hahaha… kau, kau menggemaskan Keiko. Hahaha,
kau… kau… hahaha…” Omigod~ dia benar-benar menyebalkan. Aku mencubitnya kesal.
“Aww. Hei, kenapa kau mencubitku. Kejam sekali.
Huh.”
“Karena kau menyebalkan. Aku nyaris mati
berdiri, Bakka!!” dia tergelak sasmbil memegangi perutnya. Detik berikutnya Soo
Yeon datang dengan wajah panic dan tercengang.
“Dia siapa, Keiko?”
“Morgan. Ada apa Yeonni-chan?”
“Omoo~ kau apakan dia hingga jadi charming
seperti ini?! Ahh- lupakan. Aku kesini untuk memberitahumu, bahwa kita akan
berangkat perang sebentar lagi. bersiaplah. Karena Diamond sudah mengetahui
tempat persembunyian kita.” Aku mengangguk pasti lalu menyuruh Soo Yeon untuk
bersiap juga.
“Sampai kapan kau akan berdiri disini?
pergilah, aku mau ganti baju.” Spontan Morgan menggeleng cepat. Membuatku
membolakan mataku.
“What? Apa maksudmu tidak mau, hah?! Pergi
sana!!” ia masih bergeming.
“Ouh, ayolah Morgan, kita harus cepat.”
“Untuk apa aku keluar? Kau kan bisa menggunakan
kekuatanmu itu.”
“Huh, baiklah.” Ujarku akhirnya. Aku berdiri di
depan kaca, menatap diriku sejenak. Dan cling_ bajuku berubah putih, dengan
model ala dewi Yunani. Lalu menatap Morgan, meminta pendapatnya.
“How?” dia menggeleng.
“Tidak, kau terlihat seperti dewa Mars daripada
Aphrodite. Ganti!” aku kembali menghadap kaca, mengayunkan jari dan cling_
bajuku berubah lagi. yang ini adalah gaun hitam panjang, yang dipadu warna gold
dengan bagian belakang yang menjuntai. Aku menghadap Morgan, kembali melakukan
hal yang sama. Menanyakan penampilanku.
“Tidak, gaun yang menjuntai itu, akan sangat
merepotkan jika kau pakai saat berlari.” Aku mengangguk dan kembali
menggantinya. Masih sama dengan yang tadi, warna hitam legam. Panjang, tapi
tidak membuatnya terlihat ribet. Dengan renda model tumpuk dibagian dada.
“Itu saja.” Celetuk Morgan. Aku mengangguk
dengan mata berbinar. Huft, akhirnya selesai juga dandan ala fashion show ini.
Buru-buru aku mengambil panah emas dan busurnya. Kemudian menarik Morgan untuk
bergegas menuju kereta yang sudah disiapkan.
***
Author POV.
Melihat Soo Yeon sudah menyuruhnya bergegas
untuk kesekian kalinya, Keiko dan Morgan mempercepat langkahnya, dan memasuki
kereta. Nafas mereka terengah-engah, seperti habis mengikuti kejuaraan
marathon.
“Kalian ini lama sekali. Ngapain saja didalam,
hah? Atau jangan-jangan…” Soo Yeon menggantung ucapannya kemudian tertawa
keras. Sedangkan Morgan hanya menatap bingung.
“Kau… jangan berpikiran yang macam-macam,
Yeonni-chan. Atau kulaporkan pada eommamu kalau anak gadisnya ini ternyata
mengidap omes yang sangat parah.” Soo Yeon menghentikan tawanya dan langsung
menatap Keiko memelas.
“Yah, Keiko-ssi, kau kan baik. Jangan
begitulah… sebagai ganjarannya, aku tidak akan melaporkan kerjaanmu dengan
Morgan tadi. Oke?”
“Memangnya aku melakukan apa dengan pangeran
Winata itu hah?”
“Kau kan…. Uhm, hahaha…”
“Hei, sembarangan kau bicara. Aku hanya
mencocokkan baju dengannya.”
“Sebenarnya kalian ini membicarakan apa sih?”
Morgan menatap dua gadis dihadapannya dengan tatapan bingung.
“He must know?” Tanya Soo Yeon sambil melirik
kearah Keiko yang menahan tawa karena tampang bodoh Morgan yang menggelikan.
“I don’t thing so, Yeonni. En secreto. Hahaha.”
Mereka berdua tergelak.
“Hmm, aku harap, ini bukan terakhir kalinya
kita tertawa seperti tadi, Keiko-ah. Aku, tak ingin ada salah satu dari kita
yang harus pergi.” Ujar Soo Yeon sendu setelah menghentikan tawanya. Keiko
meraih Soo Yeon dalam pelukannya.
“Yeonni-chan, tidak ada yang pergi dari kita.
Tidak akan pernah. Aku janji.” Morgan tersenyum melihat pemandangan
dihadapannya. Yah, semoga saja. Gumamnya pelan.
***
Morgan POV.
Rasanya baru saja aku dan yang lain
menginjakkan kaki di padang rumput ini. Tapi sudah disambut dengan anak panah
yang meluncur dan nyaris menancap ditubuh Soo Yeon jika Keiko tidak cepat-cepat
melindunginya. Tanpa banyak bicara, ia melesat pergi, menghampiri keluarganya
yang sedang mati-matian menahan serangan musuh. Dengan cepat juga, aku langsung
menarik tangan Soo Yeon untuk bergabung.
“Morgan, tidak bisakah aku menggantikan Keiko
untuk menjadi pemimpin perang?” Aku hanya menggeleng.
“Ia akan sangat marah jika kau mati ditangan
mereka. sudahlah, siapkan senjatamu, sepertinya kita akan terkepung.”
Dari tempatku berdiri, bisa kulihat Keiko
tengah menarik busurnya, memantapkan titik tumpunya. Dan dari sini pula, aku
bisa melihat beberapa prajurit ayahku tengah menghampiri Keiko dengan pedang
ditangan mereka. Terlihat jelas bahwa pedang itu telah dilumuri racun. Aku
menyuruh Soo Yeon menghadapi sendiri musuhnya lalu berlari menghampiri Keiko
disana.
Wush_ panah itu melesat bebas, dan menancap
tepat di jantung panglima Wiliam. Seketika, ia berubah pucat, tak ada darah
yang muncrat memang, tapi panah itu laangsung membekukan tubuhnya lalu
meleburkannya menjadi butiran salju. Anak panah selanjutnya ia arahkan ke
jantung Diamond yang tengah adu pedang dengan ayah Keiko. And guess what, panah
itu berhasil menancap pada titik sasarannya. Sayangnya, karena Diamond makhluk
yang kebal, tentu saja ia tidak dapat hancur dengan satu panah seperti Panglima
Wiliam. Hanya saja, tubuhnya membeku, membuatnya susah bergerak.
Keiko berteriak keras, meminta semua klannya
untuk kembali. Ia mengambil langkah maju dan menjadi pemimpin perang.
Mengarahkan satu anak panah lagi ke atas.
“Diamond stratevmata aplomena kai to pagoma!!”
teriaknya. Membuatku membolakan mataku tak percaya. Darimana ia tahu mantra
itu? sebuah panah itu langsung berubah menjadi ratusan dan menyerang semua klan
Diamond. Seketika mereka membeku. Karena tak mau mereka melebur menjadi
Kristal-kristal es, ia menjatuhkan busurnya mengangkat tangannya hingga setara
dengan matanya. Dan…
Tik_ nyawa mereka terhempas dari tubuhnya.
Namun, kelalaian Keiko berakibat fatal. Salah satu prajuritnya ada yang tidak
terkena apapun. Memudahkannya melepaskan anak panah milik Diamond pada Keiko.
Membuat Keiko terbelalak kaget. Detik berikutnya ia terhempas beberapa meter
kebelakang dari tempatnya berdiri.
“Keiko!!” semua memekik kaget. Dengan cepat aku
menghampiri Keiko dan mencabut panahnya. Keiko terbatuk, darahnya muncrat
keluar dari tubuhnya. Ia mencoba bangun meraih busur dan pedang platina milikku,
menjadikan pedang itu anak panah. Entah sudah berapa kali ia batuk darah, tapi
ia tetap mencoba kuat. Hampir semua keluarganya ia damprat ketika mencoba
menghalanginya.
“Diam atau kalian yang kubunuh!!” teriaknya
lagi. kemudian ia menghempaskan pedang itu. Wush_ dengan kecepatan sekilat
cahaya, panah itu menancap di dada prajurit itu. perlahan tubuhnya membeku, dan
hancur menjadi salju. Ia bernasip sama dengan panglima Wiliam. Detik
berikutnya, hal yang sama terjadi pada Keiko. Ia terjatuh lemas. Dengan nafas
tersengal ia memanggil Soo Yeon.
“Yeonni-chan, a-ku… aku m-inta… maa-af. Ter-
rima ka…sih, atas… sega-lanya…” dan Keiko pun melemas, perlahan matanya
terpejam.
“Keiko!!!” aku berteriak frustasi. Ya Tuhan,
kenapa tidak aku saja yang mati? Kenapa harus Keiko? L. Aku menoleh menatap Soo Yeon yang tidak
mengeluarkan air mata sama sekali. Ya ampun, sekejam inikah dia hingga menangis
untuk sahabatnya pun ia tak sudi?! Ough, aku menyesal mengenalmu Soo Yeon…
***
Author POV.
Soo Yeon terdiam, tak sebulir pun air mata
menetes dari pelupuknya. Ia mengedarkan pandangannya sejenak kemudian
tersenyum.
“Maaf,” ujarnya begitu melihat Morgan
menatapnya dengan tajam. Selanjutnya, ia mengarahkan kedua tangannya tepat di
dada Keiko, ia menghela nafas sejenak kemudian, mengucapkan sebuah mantra.
Detik berikutnya, sinar putih memancar dari kedua telaapak tangannya.
Menyentakkan kebingungan Ny. Hye Ra yang seketika menarik anaknya dalam
pelukannya. Tapi terlambat, Soo Yeon sudah tergolek lemah. Nyawanya sudah
berpindah ke jasad Keiko.
“Yeonni, nak, eomma mohon jangan tinggalkan
eomma. Yeonni…” Soo Yeon bergeming ia tergolek tanpa nyawa dalam pelukan
ibunya.
“Yeonni…” Ny. Hye Ra menangis sesenggukan,
membuat Morgan merasa bersalah karena sudah mengira yang bukan-bukan tentang
Soo Yeon. Perlahan tangan Keiko bergerak. Bibirnya berucap lirih, memanggil
nama sahabat kesayangannya.
“Yeonni-chan…”
***
Ini sudah kelima belas kalinya Morgan membujuk
Keiko untuk makan. Tapi, gadis itu tetap membisu. Ia benar-benar terpuruk sejak
mengetahui Soo Yeon menukarkan nyawanya untuknya. Sahabatnya, yang menurutnya
tidak pantas jika ia—Keiko—menyandang gelar itu.
“Keiko, kumohon. Jangan sia-sia kan nyawa yang
diberikan Soo Yeon untukmu. Ia akan sangat kecewa jika kau masih tidak mau
menjaganya.”
“Tinggalkan aku sendiri.” Pinta Keiko ketus.
Membuat Morgan terpaksa memanggil ruh Soo Yeon agar gadis pujaannya ini mau
mengisi perutnya barang sesuap.
“Keiko…” suara lembut itu menyentakkan Keiko
dari lamunannya.
“Yeonni-chan…”
“Keiko, kumohon, jaga nyawaku, jangan sampai
kau membuatnya terhempas begitu saja. Kau tidak mau mengecewakanku, bukan? Jadi
jaga pemberianku baik-baik, oke? Akan kusuruh Morgan untuk membantumu menerima
kenyataan ini. Bye Keiko sayang.” Detik berikutnya bayangan itu menghilang
dihembus angin, bersamaan dengan Morgan yang melemas karena ia menggunakan
seluruh tenaganya untuk memanggil Soo Yeon.
“Bagaimana? Kau mau menuruti keinginan Soo
Yeon, kan?” Keiko mengangguk mantap diiringi dengan senyuman.
“Baguslah. Kalau begitu, kau juga harus
menerima keinginanku.”
“Memang apa keinginanmu?” Tanya Keiko.
“Menikahlah denganku. Aku ingin hanya kau yang
kulihat saat aku membuka mata dan ketika aku akan menutupnya.” Keiko
terperanjat kaget.
“Eh~ kenapa tiba-tiba sekali?”
“Tidak tiba-tiba, Keiko ssayang. Aku sudah
mengatakannya berulang kali padamu dari pertama kali kita bertemu.”
“Uhm, bagaimana ya?”
“Kau tidak boleh menolak. Karena jika kau
menolak, aku tidak segan-segan menerkammu saat ini juga.” Morgan mendekati
Keiko perlahan dengan evil smile dibibirnya. Cara ampuh membuat Keiko gelagapan
dan akhirnya menyetujuinya.
“Eh~ baiklah, baiklah… I do.” Morgan mengecup
pipi gadis itu sekilas dan berbisik.
“Terima kasih banyak, Keiko.”
THE END
Stephanny POV.
Aku menghela nafas lega begitu mengetik kata
‘THE END’ pada novelette yang kubuat itu. tersenyum dengan puas begitu membaca
ulang novelette yang rencananya akan kukirim ke penerbit langgananku sebagai
novel edisi special yang kupersembahkan untuk semua orang yang kusayang dan
menyayangiku.
“Gimana? Udah the end tu novel?” Tanya Aldy
sambil menarik kursi dan duduk disebelahku.
“Udah dong, gue kan bukan tukang ngaret kayak
elo ama Key.” Ujarku bangga. Detik berikutnya Key dan Nadia sudah menghampiriku
dengan dua kresek besar dari KFC.
“Apaan nih, nama gue di bawa-bawa.
Disama-samain lagi ama playboy jelek satu nih. Idiih, ogah banget deh, kagak
sudi tujuh turunan.” Katanya lebay. Dan tindakannya itu menghasilkan satu
jitakan dari Nadia yang dengan mulus mendarat di kepala Key.
Pletak.
“Aww. Gila ya lo. Gue anteng-anteng gini
dijitakin.” Key mendengus kesal. Membuatku hanya mampu terkekeh pelan melihat
ekspresi kesalnya yang menurutku sangat lucu.
“Gue gak gila. Gue Cuma gak nahan denger
kelebaian lo yang kayaknya udah stadium akhir gitu.” Ujar Nadia santai, yah,
begitulah dia. Pembawaannya yang selalu stay cool membuat kami betah
berlama-lama dengannya.
“Ish~ watados banget sih lo. Oh iya, Stef,
gimana novel lo? Udah FIN belum?” Key mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena
ia sadar diri, berdebat dengan Nadia hanya membuatnya naik pitam dan yang jelas
kalah telak mengingat Nadia memang jago bicara.
“Udah dong. Nanti pada beli, ya. Ini novel gue
persembahkan buat elo elo juga lho.”
“Sip kalo itu mah. Tanpa elo minta pun kita
bakal beli. Ya gak, sayang?” ujar Aldy pada kedua gadis—Key dan
Nadia—dihadapanku yang langsung mendapat sambutan pelototan garang dari
keduanya.
“Sayang, sayang. Gombal lo. Gak mempan gue, ya
gak, Nad? Males gue berurusan sama playboy cap kecoa kayak elo. Ih…”
“Yo’I Key. Cukup deh buat cewek melayang, Al.
elo pernah ngerasain sendirikan balesan dari kita?” ujar Nadia kesal. Melihat
Aldy gak tobat-tobat mainin perasaan cewek. Padahal dia udah kena bogem
mentahnya Nadia, si Atlet Taekwondo, juga udah pernah ngerasain ditampar sama Key
yang notabene adalah anak emas para ballerina. Eh, apa hubungannya, ya? Yang
jelas ditampar sama cewek feminism itu lebih perih daripada ditampar sama cewek
tomboy sekelas Nadia.
Eits, jangan salah, lho. Meski tomboy, dia gak
pernah luput dari aksesoris yang rata-rata warna pink soft, yang bikin dia
keliatan feminism banget, belum lagi kenyataan bahwa Nadia itu lebih sensitive
daripada Key yang emang dari sononya udah girlie banget. Padahal kalo elo elo
pada udah ngeliat aslinya, aku yakin gak ada satupun dari kalian yang berani
deket-deket ama tu anak kalo tanduk iblisnya udah pada keluar. Alias ngamuk.
Mau tau kenapa tu anak dua langsung sewot
begitu Aldy—si playboy kelas kakap—manggil mereka ‘sayang’? jawabannya Cuma
satu, karena mereka adalah salah satu korban kekejaman Aldy yang amat sangat
tanpa perasaan itu. tapi dari situ juga akhirnya kita berempat sahabatan selama
dua tahun belakangan ini.
FIN J