Translate / 翻訳する / 번역

Rabu, 12 September 2012

Peri Kesepian


Peri Kesepian
Diam termangu, dalam hening yang mendekap erat. Seakan tak mengizinkan peri kecil itu menggenggam bahagia. Mentari mulai turun, hasilkan sinar jingga kemerahan. Indah, tapi tetap tak bisa mendamaikan hati si peri kecil yang kesepian. Karena ia, benar-benar hidup dalam kesendirian. Masih dalam sunyi, ia mulai memainkan jemarinya diatas salah satu kertas dalam buku yang ia bawa. Menuliskan bait demi bait kata yang ia temukan dalam imajinasinya.
Helaan nafas beratnya merobek keheningan yang memekat. Ia menutup buku itu, mengapitnya dalam pelukan kemudian terbang menuju salah satu pantai.
Aroma laut menyeruak indera penciumannya. Deburan ombak menghantam karang, menghempaskan apa-apa yang dibawanya. Si peri kecil duduk disalah satu tebing. Matanya menerawang jauh, memandang langit yang mulai menggelap, dan mulai ditaburi bintang-bintang. Detik berikutnya jemarinya kembali menari di atas kertas yang ia lakukan berulang kali hingga bosan menghampirinya.
Malam mulai larut. Laut mulai menghembuskan anginnya dengan keras. Namun, ia masih duduk terpaku dengan tatapan hampa. Terlihat jelas dari matanya bahwa ia sedang menanggung beban berat. Ia tertekan. Ia butuh seseorang untuk mencurahkan setidaknya secuil dari bebannya.
Matanya sayut, dengan tatapan sendu nan hampa. Detik berikutnya tetes demi tetes air matanya jatuh. Mengalir deras. Menganak sungai dipipinya. Nafasnya mulai tersengal karena tangis yang tak kunjung reda. Ditariknya nafas panjang, mencoba membangun benteng-benteng ketegaran yang sempat runtuh. Ia mencoba menerima keadaan dengan lapang dada. Menghapus semua bayang-bayang malam. Menerima kenyataan bahwa ia terkucilkan, bahwa ia sendirian, bahwa ia kesepian. Dan mencoba percaya bahwa suatu saat, bahagia dalam genggamannya.
THE END