Translate / 翻訳する / 번역

Senin, 11 Februari 2013

Haru Haru



Park  Chan Mi  POV.

Dia tak berubah. Sama sekali tak ada yang berubah. Ia masih tetap seperti  Kyu Hyun  yang dulu. Bahkan setelah aku meninggalkannya, ia tetap seperti dulu. Tetap mencintaiku. Membuatku menjadi merasa bersalah karena telah menyakitinya dengan perselingkuhan sandiwara ini. Aku tak tau apa yang membuatnya bertahan, tapi aku harap, alasannya bukan aku. Bukan tentangku, dan bukan karenaku. Karena jika iya, itu akan membuatku semakin merasa bersalah dan frustasi. Tapi, ini keputusanku, aku tidak bisa mengubahnya. Ya, meninggalkannya dan membuatnya benci padaku adalah keinginanku.

Cho Kyu Hyun POV.

Aku melihatnya lagi. Kali ini ia tampak kurus dan muram. Apa lelaki itu tak menjaganya? Apa lelaki itu menyakitinya? Apa dia membuat ChanMi-ku menangis? Jika iya, aku bersumpah pada diriku akan menghajarnya hingga ia mati.  Tapi jika tidak, apa yang membuat ChanMi muram? Apa ia… merindukanku? Hhh, mana mungkin ia merindukanku. Ia sudah bahagia dengan selingkuhannya itu. ehm, maksudku kekasihnya sekarang.
“Hei, sudah berapa kali aku melihatmu sedang menatapnya, hmm?” Ujar Changmin dengan tepukan ringan dibahuku. Aku hanya bisa meringis malu. Karena aku sendiri sadar, aku tak bisa hidup tanpa gadis itu. Aku tak lain dengan mayat hidup tanpa ChanMi disisiku.
“Yah, kau tahulah, aku tanpanya hanya butiran debu.” Changmin terbahak, begitu juga dengan Yo Seob  dan Seungri.
“Sejak kapan kau menjelma menjadi penyanyi, eo?? Hahaha, aku tak habis fikir.” Aku melengos kesal. Dasar, tak setia kawan. Mereka tidak tahu yang kurasakan sekarang. Huh, awas saja kalau sampai mereka juga ditinggal oleh kekasihnya.
“Sudahlah, Kyu. Kau tak usah menggerutu seperti itu. aku bisa membaca isi pikiranmu. Dan aku berani bertaruh, hal itu tidak akan terjadi pada kami. Hahaha.”
“Aish, kalian benar-benar tidak setia kawan. Sudahlah, aku mau pulang saja kalau begitu.” Aku beranjak meninggalkan bangku dan menuju parkiran.
“Ya!! Kyu Hyun kau mau kemana? Siapa yang akan membayar ini??” Teriak Seungri. Aku mengibaskan tangan tak peduli.
“Kau bayar saja sendiri.”
“Yaa!! Evil… awas kau.”
***
Author POV.

Kedua orang itu, sama-sama egois. Membiarkan dirinya tersiksa tanpa mau tahu bahwa sebenarnya ia juga menyiksa orang lain. Tanpa mau tahu dengan sesuatu yang disebut keajaiban. Tanpa mau tahu dengan apa yang akan terjadi nanti.

Seoul International Hospital

Gadis itu, ChanMi, memasuki sebuah ruangan dengan tulisan “Dr. Park Jung Soo.” dengan santai tanpa sadar bahwa seseorang sedang mengawasinya dari jauh.
Annyeong haseyo, Oppa. Uhm, maksudku, Uisa. J” ChanMi tersenyum manis pada lelaki dihadapannya.
Annyeong, ChanMi-ya. Bagaimana keadaanmu? Jauh lebih baik?” Dr. Park tersenyum menyambutnya.
“Hhh, tidak begitu baik, oppa. Semakin aku menjauh, malah membuatku tak bisa hidup dengan baik.”
“Huft, inilah yang aku takutkan, saeng~i. berbaikanlah dengan Kyu Hyun, aku tak mau kau semakin sakit.” ChanMi menggeleng lemah.
Anio, oppa. Ini keputusanku. Hanya dengan cara ini untuk membuatnya membenciku.”
“Kenapa kau ingin ia membencimu? Karena pernyakitmu?” ChanMi mengangguk lemah.
“Itu tidak ada hubungannya dengan kisah percintaan kalian.” ChanMi mulai terisak, ia menggeleng pelan.
“Tidak oppa, aku tidak ingin merepotkannya. Aku sudah terlalu menghambat langkahnya dalam mewujudkan impiannya. Aku hanya ingin ia bahagia, karena selama ini aku belum pernah membuatnya bahagia. L
“Hhh, sudahlah kalau itu maumu. Oppa hanya bisa membantumu sembuh dan mendo’akanmu, saeng~i.” Jung Soo menatap jam yang melingkar pada pergelangannya kemudian beranjak dari duduknya.
“Sudah jam makan siang, kajja kita makan. Obrolan berat ini membuat oppa kelaparan. Haha.” Gadis itu membenahi penampilannya sejenak kemudian tersenyum menyambut ajakan kakaknya.
“Kau akan mengajak Sung Min?”
“Tentu saja, dia kan namjachingu-ku. J” Jung Soo tersenyum tipis, lalu mengusap rambut adiknya lembut.
“Kau ini, niat sekali ternyata. Ya sudah, hubungi Sung Min sekarang, dan ajak ia bertemu di … uhm, kau mau makan siang dimana?”
“Bagaimana kalau di restaurant milik teman oppa yang berada di kawasan Apgeujong itu…”
“Hei, kita ini akan makan siang, bukan sarapan. Restaurant milik Yesung itu Coffee Shop, saeng~i… “
“Aish, bukan milik Yesung oppa, tapi milik Wookie  oppa. Aku ingin makan jjangmyeon buatannya.” Jung Soo menepuk kepalanya.
“Aigooo, kau ini. Itu sama saja kita menumpang makan di rumahnya, ChanMi. Restaurant miliknya bukan di Apgeujong, tapi di Gangnam. Baiklah, biarku telepon dia dulu. Kalau-kalau ia tidak di rumahnya, kita bisa ketempat lain dengan cepat.”
Yoboseyo, annyeong wookie-ah, apa kau ada di rumah? . . . Oh begitu, kebetulan sekali, kami akan kesana sekarang :D. . . . ini kerjaan ChanMi  yang sangat merepotkan. Ok, kita bertemu dirumahmu. Lima belas menit lagi aku sampai. Annyeong.”
“Bagaimana oppa? Apa Ryeo Wook oppa ada di rumahnya?”
“Yah, sepertinya ini hari keberuntunganmu. Kajja, kita harus sampai lima belas menit lagi. jika tidak jjangmyeon-mu keburu dingin. Ka! Telepon Sung Min, kita bertemu di rumah Ryeo Wook.” Gadis itu mengangguk senang, dan dengan cepat menekan dial speed 3, menghubungi Sung Min secepat mungkin agar ia bisa menikmati jjangmyeon kesukaannya dengan cepat pula.
***

Cho Kyu Hyun POV.

Hfft, dia benar-benar sudah melupakanku. Baiklah, jika itu membuatnya bahagia. Aku akan bertahan walau aku sadar, aku bukan apa-apa tanpanya. : ‘ )
Hwaiting Kyu Hyun, ia bisa bahagia aku pasti juga bisa.
From : Yo Seob
Kau ada dimana? Aku punya berita. Aku tadi melihat ChanMi berada di Apgeujong bersama Sung Min.
Kau tidak mau melihatnya?
To : Yo Seob
Aniyo hyong, aku sudah melepaskannya. Dia sudah bahagia bersama Sung Min-ssi. Aku tidak akan mengganggunya.
Aku menekan tombol send sambil menahan tangis. Tidak. Aku tidak boleh menangis. Ini keputusanku. Tapi…. Omoo~ ini terlalu sakit. Hfft, oke Kyu Hyun. Kau juga harus bahagia seperti ChanMi.
Drrt… sebuah balasan lagi dari Yo Seob,
From : Yo Seob
Ooh begitu. Baiklah jika itu maumu. Kami hanya bisa mendukung dari belakang. Hwaiting Kyu (˘-˘)
Aku tersenyum sekilas membacanya. Ya, satu alasan lagi agar aku bisa bertahan. Aku tidak sendirian. Masih ada mereka yang menyemangatiku. Aku mengetik balasan dengan cepat.
To : Yo Seob
Gomawo hyong J.
***

Park Chan Mi POV.

“Humm, neomu mashita, oppa. ˘ڡ˘.” Ujarku disela-sela kunyahan jjangmyeon ini. Ryeo Wook oppa benar-benar pintar. Semua bahan mentah ditangannya bisa menjadi makanan yang sangat enak dan terlihat cantik. Dari dulu aku selalu ingin sepertinya. Jago masak. Aku ingin memasakkan makanan enak dan tak terlupakan untuk suamiku nanti. Yah, walau aku sendiri tak tahu aku bisa bertahan sampai kapan. Tapi setiap wanita pasti punya keinginan seperti itu, kan. Wajar saja jika aku menginginkannya.
“Habiskan dulu makanan di mulutmu itu baru bicara. Kau ini, seperti oppa tidak pernah mengajarkanmu cara makan saja. Benar-benar memalukan.” Ujar oppa-ku galak. Aku hanya melengos.
“Oppa kan memang tidak pernah mengajariku, yang mengajariku kan eomma. Wlee :P.”
“Ya!! Dongsaeng kurang ajar. Sung Min, kau apakan adikku hingga ia jadi seperti itu, eo?!”
“Haha, bukan aku hyong, tanyakan saja pada Kyu Hyun. Dia, kan evil :D.”
Oh ouh… Sung Min oppa, nae namjachingu, kau ini babo atau apa sih? Lagi lagi mengingatkanku padanya. Huh. ‾_‾.
PLETAK. “Sung Min… nega neomu babo-ya!” Jung Soo oppa menjitaknya gemas. Haha. Memang enak :P.
“Ouch, appo-yo, hyong. Kau ini tega sekali pada namja imut sepertiku, eoh? Benar-benar tidak punya perasaan. >_<. Bagaimana jika keimutanku hilang? Apa kau mau tanggung jawab, huh.”
“Haha, kau ini narsis sekali, Sung Min-ah. Apa kau tidak malu ditertawakan ChanMi sejak tadi, hum? Kau juga hyong, sudah tua juga, aish, memalukan. Aku menyesal punya teman seperti kalian.” Ujar Ryeo Wook oppa sambil memasang kuda-kuda untuk menghindar sebelum kedua namja di depanku ini menjitaknya.
“YA!! WOOKIE-YA. KAU CARI MATI, EO?!” teriak mereka berdua berbarengan. Aku tergelak melihat mereka. Kalau begini mereka tidak ada bedanya, sama-sama kekanakkan. Haha.
“Omoo~ kalian!!” Mendadak ruangan menjadi sunyi, aku menoleh ke sumber suara yang ternyata Hyo Rin eonni berdiri tepat di depan mereka yang sejak tadi hanya saling menjitak.
“Kalian ini sedang makan, jangan seperti anak kecil berlarian begitu. Apa kalian tidak sadar kalau kalian itu sudah tua. Kalian seharusnya mengajarkan hal baik pada ChanMi-ya, bukannya malah bertengkar seperti anak kecil.”
“Aish~, noona ini cerewet sekali.” Gerutu Ryeo Wook oppa, dan hasilnya ia dapat satu jitakan dari Hyo Rin eonni.
PLETAK. “Ouch… appo-yo noona.”
“Diam atau kau kupukul lagi.” Hyo Rin eonni menatap Ryeo Wook oppa garang.
“Eung, sudahlah eonni, sebaiknya kita makan sekarang. Kasihan Ryeo Wook oppa dari tadi kau marahi terus.”
“Ha!! Lihat, ChanMi saja mengerti.” Seru Ryeo Wook oppa.
“Kau benar-benar yeodongsaeng yang pengertian, eo?! Pantas saja SungMin betah bersamamu. Ah, aku jadi iri padanya. Ya! SungMin-ah, bagaimana jika kita bertukar gadis?”
“”Mwo? Bertukar gadis? Maksudnya?”
Yeojachingu-mu untukku, aku akan memberikanmu noona-ku yang cerewet ini secara cuma-cuma :D”
“Yaa!!! ANDWAE!!” Aigoo~ lagi-lagi mereka bertengkar -_-.
***

Cho Kyu Hyun POV.

Aku sudah menjauh. Tapi, aku sadar, aku bukan apa-apa tanpamu. Aku tau aku salah. Tapi, maukah kamu memaafkanku? Tahukah kau? Seperti pasang, hatiku hancur. Seperti angin, hatiku berguncang. Seperti asap, cintaku memudar. Dan segala terlalu sulit untuk kuhapus. Aku mendesah dan tanah berguncang. Hatiku penuh debu.
Sadarkah kamu, aku disini merindukanmu. Aku menangis dalam sepi saat tak kutemukan jawaban darimu. Dari sini aku hanya bisa menatapmu. Dan saat mata kita bertumpu, kau langsung memalingkan wajahmu. Tidakkah kau tahu, saat kau begitu aku disini menahan sakit sendiri. Sendiri di malam hari, kuhapus pikiranku seratus kali. Hari demi hari terlewati begitu saja.
KYU

Aku menghela nafas berat. Sudah sebulan terlewati sejak keputusanku untuk menjauhinya. Tapi apa? Yang kudapat aku malah semakin kehilangan, semakin sakit dengan kenyataan ini.
Drrt… drrt…
Incoming call ~ SeungRi
Aish, apa lagi sekarang?
Yoboseyo.”
Yoboseyo, Kyu. Gawat! ChanMi kritis. Leukimia yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir, dan sampai sekarang kita belum mendapatkan donor tulang sumsum. Eottokhae?”
Mwo?? Bagaimana bisa? Aish~. Aku akan kesana sekarang. Neon eodiss-eo?”
“Aku bersama yang lain di SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL, ruang ICU. Ppaliwa, eo? Kami sudah kehabisan akal.”
Nde. Delapan menit lagi aku sampai.”
Tuut.. Oh God. Bagaimana bisa aku tidak tahu soal ini?! Aish~ neomu babo-ya.
***

Author POV.

Kyu Hyun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mencoba untuk tidak terlambat di saat darurat seperti ini. Sesampainya disana ia langsung menuju ICU yang berada di lantai 3.
“ChanMi! Eottokhaeyo?? Apa kalian sudah menemukan pendonor??” SeungRi menggeleng lemah.
“Belum. Entah kenapa, malah di saat seperti ini mencari pendonor itu sangat sulit.”
“Argh. Siapa dokternya? Biar aku saja yang mendonorkan tulang sum-sumku.”
“Ini tidak semudah yang kau kira, Kyu. Prosesnya sulit dan panjang. Belum lagi jika tidak ada kecocokan sama sekali. Bukan hanya kau yang kehilangan nyawa, tapi ChanMi pun juga.” Ujar Yo Seob.
“Aish~, tidak ada cara lain selain mencobanya, hyong.”
Aniyo. Sekali aku bilang tidak. Ya tidak. Lebih baik kau menurut dan mencoba untuk menghubungi kenalanmu yang bersedia mendonorkan sum-sumnya.”
“Tapi, hyong…”
“Duduk atau sekarang juga kau pulang untuk menenangkan dirimu.” Ujar Yo Seob yang disambut lirikan tajam dari Kyu Hyun.
“Kau benar-benar tidak punya perasaan, hyong. Di saat seperti ini kau masih bisa tenang, sedangkan nyawa ChanMi yang jadi taruhannya. Kau benar-benar . . . “
“Aku mendapatkan pendonor.” Seru SungMin senang disela-sela nafasnya yang tersengal.
Jinjja?” Kyu Hyun menatap SungMin tak percaya. SungMin hanya mengangguk.
Hyong, kau dengar? Kita dapat pendonor.”
“Tenanglah, Kyu. Lebih baik kau berdo’a agar operasi ini berhasil.”
“Baiklah… eh, SungMin-ssi. Gomawo karena sudah menyelamatkan ChanMi.” SungMin tersenyum tipis.
***

One year later ….

Cho Kyu Hyun POV.

Hhh, akhirnya, ia kembali padaku. Setelah operasinya, aku mengetahui semuanya. Ia sengaja minta bantuan SungMin untuk membuatku benci padanya. Awalnya aku tak mengerti mengapa ia melakukan itu, tapi saat semua terungkap, ia bilang hanya ingin membahagiakanku. Ia tak mau melihatku menangis saat ia pergi. Pemikiran yang dangkal, bukan? Bahkan itu adalah gagasan terBURUK yang pernah kudengar.
Aku tak mengerti jalan pikirannya, dia hanya mementingkan kebahagiaanku, tanpa peduli keadaannya. Padahal karena keputusannya itu ia lebih terpuruk daripada saat ia mengetahui ia mengidap penyakit sialan itu. Ah, sudahlah. Yang penting sekarang ia sudah kembali padaku, dan selamanya akan jadi milikku. Hhh, aku jadi ingin cepat-cepat mengubah marga “Park” pada namanya menjadi marga “Cho”. Cho Chan Mi, terdengar lebih bagus, kan. Haha :D.
“Ceritakan hari-harimu, oppa. Jebal.”
Aniyo. Itu masa lalu yang pahit, chagi. Aku tak ingin mengingatnya.”
“Tapi bagiku, itu masa lalu yang indah. Aku merasa jadi gadis yang paling beruntung karena bisa jadi yeojachingu-nya SungMin oppa. Dia sangat baik, kau tahu.”
Ani. Aku tak tahu dan tak mau tahu.”
“Eh, waeyo? Dia itu orang yang baik, oppa. Lagipula dia juga yang sudah menyelamatkan nyawaku. Tidak seperti yang hanya bisa marah-marah pada Yo Seob oppa. Padahal kau yang bo…”
CHU~
“Yaa!!! Seenaknya saja menciumku. Dasar nappeun namja. Kau menyebalkan.”
“Itu akibatnya karena kamu membicarakan namja lain saat sedang bersamaku.”
“Berarti jika kau tak ada aku boleh membicarakan SungMin oppa? Woah, kau benar-benar baik hati tuan Cho. :D”
ANIYO!! Dimana pun kau berada, dan dengan siapapun itu, kau hanya boleh menyebut nama Tuhan dan namaku. Kalau sampai kau membicarakan SungMin lagi, aku tidak segan-segan menarikmu ke altar saat itu juga.”
“Haha, sejak kapan kau jadi alim, oppa? Apa karena SungMin oppa? Hahaha :D”
“Ya!! Park ChanMi. Jangan menyebut namanya di depanku.”
“Hahaha. Kau benar-benar menggemaskan, oppa.”
“Haha, tentu saja. Buktinya kau saja sampai tergila-gila padaku. Haha.” Ujar KyuHyun bangga.
“Tcih~ pede sekali. Aku jadi I’ll feel padamu, oppa. Aku mau ke SungMin oppa saja. Bye.” Ujar ChanMi lalu berlari secepat mungkin.
“Ya!! Park ChanMi. Jangan lari kau…”
END

Hayama Risa
Nb. Recommended song : Big Bang – Haru Haru