Translate / 翻訳する / 번역

Jumat, 31 Agustus 2012

My Sister My Girl


“Mulai sekarang, Sonya jadi kakak ceweknya Eja, ya. Janji?” ujar seorang anak kecil sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada gadis dihadapannya. Gadis itu menyambut senang. “Janji.” Ia menautkan jarinya ke jari milik anak kecil yang dipanggil Eja itu.
“Berarti, kak Sonya harus jagain aku, ya. Jangan galak-galak kayak kak Ilham. Oke?” gadis kecil yang bernama Sonya ini mengangguk. Sebenarnya umur mereka sama, hanya berbeda dua bulan. Tapi entah mengapa Eja selalu menganggap Sonya sebagai kakaknya, bukan temannya.
“Oke, tapi Eja harus nurut, ya sama Sonya. Awas kalo nggak. Sonya nggak mau jadi kakaknya Eja lagi.” Eja mengangguk menyanggupi.
Itu kejadian sepuluh tahun lalu, ketika mereka sama-sama berumur tujuh tahun. Hingga sekarang, janji itu masih ditepati oleh masing-masing pihak. Sesekali mereka bertengkar, yang satu ingin dituruti, yang satu tak mau menurut. Selalu begitu. Sampai saat ini, mereka duduk di bangku SMA.
@@@
“Tante, kak Sonya udah siap belom?” tanya seorang lelaki dengan seragam putih abu-abunya pada wanita paruh baya, yang tak lain adalah Tante Erika, mama Sonya.
“Sudah, Rez. Masuk dulu, Sonya lagi ngambil tasnya.” Ujarnya. Lelaki yang dipanggil ‘Rez’ ini mengangguk, kemudian membuntuti mama Sonya. Dan menghempaskan pantatnya pada sofa empuk di ruang tengah.
“Sonya, Reza udah datang, kamu udah selesai belum?” panggil Tante Erika pada putri semata-wayangnya ini. Sedetik kemudian Sonya membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga, menemui sahabatnya, atau lebih tepatnya ‘adik’nya.
“Sudah, Ma. Sonya sama Reza berangkat, ya. Bye Mama.” Ujarnya mencium tangan ibunya lalu berjalan keluar. Seperti biasa, Reza menyodorkan lengannya untuk dipeluk. Tapi Sonya malah meraih tangan Reza, menggandengnya.
“Selalu begitu. Disodorin lengan malah ngambil tangan. Apa susahnya sih meluk gue?” Reza mendengus kesal. Sonya hanya tersenyum.
“Kalo kayak gitu nanti kita disangka pacaran sama anak-anak. Udah yuk, berangkat. Nanti telat, lho.”
“Iya kakakku sayang.” Ujar Reza, menyalakan motornya kemudian melesat ke sekolah.
@@@
“Eh, Rez. Ntar malem ada balapan di tempat biasa. Lo mau ikut nggak?” Tawar Bisma saat jam istirahat berlangsung. Reza tampak berfikir sejenak, kemudian menggeleng.
“Nggak deh kayaknya. Takut si Sonya marah.” Bisma mendengus kesal.
“Sebenernya, elo sama Sonya tu ada hubungan apa sih? Kayaknya kagak pacaran, tapi elo segitu takutnya sama tu anak.”
“Dia kakak gue, bukan kakak beneran sih, kakak ketemu gede gitulah.”
“Sejak kapan?” tanya Bisma, lagi.
“Sejak sepuluh tahun lalu.”
“Itukan elo masih kecil, jelas aja lo butuh perhatian kakak cewek, tapi sekarang lo udah gede, bro. Masa’ mau nerusin janji masa lalu itu? Udik lu.” Reza meerenung sejenak.
“Iya sih, gue emang udah gede. Tapi nanti kalo Sonya nggak mau ketemu gue lagi gimana?”
“Biarin aja, elo kan coverboy di sekolah, tinggal cari cewek laen, ribet amat.”
“Oke, gue ikut.” Ujar Reza setelah sejenak memikirkan kata-kata Bisma.
@@@
‘I can fly high, naneun mideoyo... eonjenganeun jeo haneulwiro...’ Hape Sonya berdering, panggilan dari Reza.
“Halo, Kak.”
“Iya, kenapa Rez?”
“Malem ini gue nggak belajar di rumah elo dulu, ya. Gue ada urusan ama anak-anak.”
“Oh, oke. Elo dimana sih? Kok banyak suara motor?”
“Di jalan.”
“Serius? Bukan lagi di arena balap, kan?”
“Bukan. Udah ya, bye.”
Klik—sambungan terputus. “kenapa ni anak? Sakit kali ya?” gumam Sonya. Kembali meneruskan belajarnya. Sejenak, ia merasa tidak enak akan perasaannya. Namun ia abaikan, mengingat Reza tak pernah membohonginya, selama ini sih begitu.
@@@
“Gimana?” Tanya seseorang yang tak lain adalah Bisma.
“No problem, Sonya percaya-percaya aja sampe saat ini. Sempet curiga sih waktu denger banyak suara motor, tapi gue langsung bilang ‘di jalan’, dia nggak nanya apa-apa lagi deh.”
“Bagus deh kalo gitu. Buruan siap-siap, jangan sampe kalah, gue juga bayar banyak buat elo. Oke?”
“Sip... elo bisa andelin gue.” Ujar Reza, mulai menaiki motornya. Dan, balapan dimulai begitu berdera yang dibawa cewek berpakaian seksi ini dijatuhkan.
Pertandingan selesai dengan Reza sebagai winner. Sejak saat itu, ia terus mengikuti balapan yang diinformasikan Bisma. Hampir tiap malam, membuatnya kehilangan waktu belajar dengan Sonya, kehilangan nilai terbaiknya, kehilangan waktu untuk bersama Sonya. Sonya sebenarnya merasakan perubahan itu, tapi ia berusaha masa bodo. Hingga berita tak enak sampai ditelinganya. Reza membohonginya.
@@@
“Ntar malem ada waktu?” tanya Sonya saat mereka ada di taman di sekitar perumahan mereka.
“Sorry, gue nggak bisa, gue ada acara sama anak-anak.” Sonya mendengus pelan. Alasan klise, gumamnya.
“Acara apa?” tanyanya lagi berusaha meredam emosi yang sebenarnya sudah memuncak sejak tadi.
“Nggak perlu tau, urusan cowok.”
“Jam berapa?” tanyanya lagi, untuk ketiga kalinya.
“Jam sembilanan gitu. Kenapa sih nanyak-nanyak mulu, kayak nyokap gue aja lo. Bawel.”
“Jam tujuh sampe jam setengah sembilan bisa ke rumah gue? Kita belajar kayak dulu lagi. Nilai-nilai elo banyak yang anjlok.”
“Gue nggak janji, ya. Gue mau balik, lo mau ikut?” Sonya menggeleng diiringi senyuman.
“Gue masih mau disini. Balik aja duluan. Lagian gue bawa sepeda.”
“Oke, bye.” Reza berlalu begitu saja.
@@@
19.30, Reza belum juga datang ke rumahnya. Sonya gelisah setengah mati. Karena ternyata perasaannya terbukti, Reza berubah 180 derajat. Tanpa kendali darinya.
Esoknya, ia kembali mendapat kabar bahwa semalam Reza balapan lagi. Tanpa penjelasan, pulang sekolah Sonya langsung menyeret Reza ke taman yang sama.
“Elo kenapa sih? Nyeret-nyeret gue nggak jelas gini.” Reza ngedumel begitu mereka sampai.
“Kemarin kenapa nggak dateng?” tanya Sonya to the point.
“Gue kan bilang nggak janji. Jadi jangan salahin gue salahin gue kalo gue nggak dateng.”
“Elo punya hape kan, bisa ngomong, kan. Apa susahnya sih ngabarin gue? Elo berubah tau, nggak! Elo sekarang sering balapan, sering bohongin gue pake alasan yang sama. Basi tau nggak!” Tumpah sudah amarah yang mati-matian ia tahan.
“Buat apa gue ngabarin elo? Emang elo siapa gue? Kakak, iya? Itu masa lalu doang, Nya. Sepuluh tahun lalu, sekarang gue udah gede. Nggak perlu lo jagain lagi. Lagipula, itu urusan gue. Suka-suka gue mau kemana. Hak gue buat ngelakuin apa aja. Mulai sekarang, elo jangan ikut campur urusan gue. Elo nggak perlu repot-repot jadi kakak gue lagi. Ngerti lo?!” Reza membentak keras. Melupakan janjinya.
“Oke, Fine. Itu mau lo. Jangan pernah ngubungin gue lagi. Jangan salahin gue kalo nilai-nilai lo makin ancur. Dan jangan salahin gue kalo elo nyesel nantinya. Remember it!” Ujarnya diiringi air mata kemudian berlalu begitu saja.
@@@
Hari demi hari terlewati begitu saja, tanpa ada tawa dari seorang gadis yang pernah menjadi kakaknya. Tanpa ada omelan dari seseorang yang ia sayang. Karena seseorang itu telah pergi.  Karena ulahnya sendiri.
Di sisi lain, seorang gadis masih tetap menjalani harinya senormal mungkin, meski hatinya merindukan seseorang yang pernah menjadi adiknya sekaligus pujaan hatinya. Tapi sebagus apapun isi hati tertutupi, suatu saat pasti akan terbuka dengan sendirinya. Seperti malam ini, ia kehilangan semangat belajarnya. Buku Kimianya dibiarkan terbuka. Huruf-hurufnya lewat begitu saja. Gadis ini, terlampau jauh jatuh dalam lamunannya. Hingga ketukan pintu dan seruan lembut seorang ibu menyadarkannya, menyeretnya kembali dalam alam nyata.
“Sonya, ada Reza tuh di bawah, temuin sana. Mama mau jemput Papa di bandara. Minumnya udah mam buatin, tinggal kamu suguhin aja.”
“Iya, Ma.” Sonya membuka pintu malas.
“Mama berangkat, ya. Hati-hati di rumah.” Mamanya mengecup pipi Sonya sekilas lalu berjalan secepat mungkin menuju pintu. Sonya menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Menemui seseorang yang pernah menjadi sahabatnya.
“Ngapain lo disini?” tanya Sonya dingin. Reza langsung memeluk gadis dihadapannya. Melepas rindu yang susah payah ia tahan selama beberapa minggu ini. Sonya melepas pelukan Reza dengan paksa.
“Ngapain lo kesini? Masih inget sama gue, lo?” Reza menunduk, kalimat yang dilontarkan Sonya terlalu kasar untuknya, karena selama ia berteman dengan Sonya, belum pernah ia mendapat sindiran sepedas ini.
“Gue kesini mau minta maaf.”
“For what? For your lies? Or your opinion?” Sonya membentak dengan logat Inggrisnya yang kental.
“Buat semua yang udah gue lakuin ke elo. Maaf, gue udah bohongin lo, maaf gue udah ngebentak elo, maaf atas kata-kata dan kelakuan gue.” Sonya berkacak pinggang, memandang mantan sahabatnya ini.
“Gue udah maafin elo, jauh sebelum elo minta maaf sama gue.” Ujarnya dingin.
“Serius? Makasih...” Reza kembali memeluk Sonya, kali ini lebih erat.
“Reza, gue belom selesai ngomong.” Ujar Sonya melepas paksa pelukan Reza.
“Berarti, lo mau kan jadi kakak gue lagi.” Tanya Reza penuh harap.
“Itu yang mau gue omongin, gue nggak bisa jadi kakak lo lagi, Za. Maaf, sebelumnya, tapi gue ngerasa ini tuh keputusan yang bener.”
“Ke... kenapa?” tanya Reza lagi dengan muka ditekuk.
“Pertama, gue capek, capek nasehatin elo, tapi elo nggak pernah mau denger, padahal dulu lo udah janji bakalan nurut, tapi apa? Bukannya nurut, lo malah ngelunjak. Kedua, gue terlanjur sakit hati lo bohongin gue, gue emang udah maafin elo, tapi bukan berarti gue udah ngelupain soal kemaren. Ketiga, gue... gue takut ada yang marah, Za. Maaf.”
“Oke, gue minta maaf, kali ini gue bakal nepatin janji gue, Nya. Please, lo mau ya jadi kakak gue lagi.” Sonya menggeleng.
“Kenapa? Karena alasan kedua, fine elo masih sakit hati sama gue, tapi apa nggak bisa lo coba obatin sakit itu? Atau alasan ketiga? Emang siapa sih yang mau marah, Nya? Gue nggak punya cewek, cewek yang deket sama gue ya Cuma elo. Just you.”
“Bukan dari pihak elo yang marah, Za. Tapi dari pihak gue.” Reza tersentak, hampir limbung kalau saja Sonya tak menggenggam tangannya. Sedetik kemudian, ia mengangguk.
“Oke, itu mau lo. Makasih atas segalanya, gue pulang dulu.”
@@@
Alunan musik memenuhi ruangan bernuansa metalic ini. Bukan musik yang seperti biasa, seperti musik yang memekakkan telinga. Kali ini, alunan lagu sendu nan galau mendominasi, setiap baitnya bagai merasuk, benar-benar menggambarkan suasana hati yang sedang luluh-lantak. Tak biasanya lelaki ini merenung di balkon kamarnya sambil memandang bintang. Penampilannya memang tidak berantakan seperti orang frustasi, malah sangat rapi, tapi dari raut wajahnya mendeskripsikan dengan jelas bahwa ia sedang patah hati.
“... Ketiga, gue... gue takut ada yang marah, Za. Maaf.”
“Bukan dari pihak elo yang marah, Za. Tapi dari pihak gue.”
Dua kalimat biasa, tapi seseorang yang mengucapkannya, membuat kalimat itu seakan menjadi petir yang mampu luluh-lantakkan hati seorang Reza Dwi Anugrah. Sayup-sayup terdengar isak tangis yang menyayat hati. Air mata yang menetes itu milik seseorang yang baru saja patah hati. Isakan lirih itu makin menjadi ketika satu persatu kenangan manisnya bersama gadis yang pernah ia panggil kakak itu muncul. Silih berganti dalam memori namun menyesakkan hati.
Perlahan ia menyadari, cintanya takkan terbalas sampai kapanpun. Perlahan ia bangkit, kembali menjadi Reza yang dulu, si coverboy sekolah. Dengan pasti ia mulai mengucap janji dalam hati. “Gue harus move on dari Sonya.”
@@@
Seminggu... dua minggu... dan, aaaargh!!
“Melupakan seseorang yang kita cintai tidaklah mudah, Za. Apalagi, dia sudah hadir dalam benak sepuluh tahun lebih lamanya. Menghapus cinta yang ada selama sepuluh tahun itu, sama saja dengan bunuh diri, karena sampai kapanpun cinta itu takkan pudar, hanya bisa dibekukan menjadi kenangan kemudian ditumpuk dalam loteng pikiran. Only this, no more.” Jelas Bisma panjang lebar. Reza yang mendengar solusi dari Bisma hanya mampu menganga. Tak menyangka seorang ‘Raja Balap’ sejenis Bisma ini bisa memberikan solusi dengan kata-kata yang menurut Reza kelewat nyastra.
“Lo dengerin kagak, Za?”
“Eh, i... iya gue dengerin, Cuma heran aja, ternyata orang berandal kayak elo bisa nyastra juga.”
“Eits, jangan salah bro, gini-gini, gue juga penulis lagu.” Ujar Bisma sambil menepuk dadanya, menyombongkan diri. Alhasil, satu toyoran ia dapat dari Reza.
“Pede gila lo. Whatever deh, terus sekarang gue harus gimana?”
“Cara satu satunya, ya dengan berdamai dengan kenangan itu, atau balikan lagi, atau, semacamnyalah, emang siapa sih ceweknya?” Mata Reza berkeliling, dan bertumpu pada sosok yang ia kenal, masa lalunya, Sonya Andini.
“Tuh,” ia memberi isyarat dengan dagu, Bisma mengikuti arahnya, seketika ia terbelalak.
“Serius lo? Sejak kapan?”
“Seratus rius malah, sejak kapan, ya? Kalo nggak salah sih, gue sadar sama perasaan gue pas...”
Flashback...
“Ngerti nggak, Za?” tanya Sonya setelah ia selesai menjelaskan pekerjaannya pada Reza. Tapi yang ia temukan malah Reza tengah menatapnya sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Reza Dwi Anugrah!! Udah ngerti belom?” Sonya berteriak tepat di telinga Reza.
“Eh, eh, i... iya, gue ngerti kok. Maksudnya nggak, eh, ngerti, iya ngerti, eh tapi...” Sonya menempelkan telunjuknya dibibir Reza, kemudian mendekatkan wajahnya membuat Reza makin salah tingkah.
“Kalo belom ngerti, dengerin gue, jangan ngelamun.” Sonya berbisik, langsung tergelak mendapati muka Reza yang sudah seperti udang rebus, merah banget euy.
“Hahaha, kenapa lo? Grogi ya, hahaha....” Reza kontan menggeleng, menutupi rasa malunya.
“Ng... nggak kok, kata siapa? Udah ah, gue pulang. Bye!” Reza buru-buru pergi meninggalkan Sonya yang masih hanyut dalam tawanya.
@@@
Ya ampun, gue kenapa ya? Sering banget gugup di depan Sonya. Hhh, ni jantung juga, kayaknya gue mesti ke dokter deh, meriksain ni jantung, sering banget berdetak lebih dari batas wajarnya. Hadeeh... Reza bergumam sambil mondar-mandir kayak setrikaan di kamarnya.
Hari-hari selanjutnya, ia jadi sering cemburu kalau Sonya asik bercanda dengan teman cowoknya, ia sering deg-degan kalau Sonya sudah tersenyum lembut padanya, ia jadi sering bingung sendiri kalau mau ke rumah Sonya walau hanya sekedar belajar bersama. Ia sering merasa takut kalau Sonya sudah marah dan tak bisa dibujuk.
Dan sejak saat itu, ia sadar, kalau ia mencintai seorang Sonya Andini. Gadis kecilnya yang sering ia panggil ‘kakak’.
Flashback off...
@@@
Setelah berkali-kali berunding dengan Bisma, setelah berulang kali ia berfikir, setelah sekian lama ia mencoba untuk berani, akhirnya ia mengajak Sonya ke sebuah taman. Tak ada yang spesial memang, hanya taman yang sering mereka kunjungi untuk berbagi cerita tanpa ada dekorasi mewah seperti halnya orang lain menyatakan cinta pada orang yang mereka cinta.
“Ada apa, Za?” tanya Sonya begitu mereka sampai.
“Gue ngomong ini Cuma sekali, lo mau jawab atau nggak itu terserah elo, gue nggak maksa, gue Cuma pengen elo tau isi hati gue.” Sonya mengangguk.
“Lo tau, cinta itu bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja tanpa kita duga.” Lagi lagi Sonya mengangguk.
“Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar buat gue, selama itu, gue mulai paham, mulai ngerti kenapa gue sering gugup di depan elo, dan sayangnya, gue baru sadar setelah elo jadi milik orang. Tapi itu nggak masalah buat gue, yang gue mau Cuma elo tau isi hati gue, biar nggak terlalu sesak aja. Lo tau, gue sayang sama elo, bukan hanya sekedar kakak, gue cinta sama elo, lo mau ngebales perasaan gue ini?” Sonya hanya tersenyum.
“Gue mau.” Ujarnya singkat. Reza tersenyum pahit.
“Jangan, gue nggak mau jadi benalu diantara hubungan lo sama cowok lo.”
“I’m single Reza.” Reza tersentak. Langsung menoleh pada Sonya.
“Maksud lo? Lo nggak punya cowok? Terus yang lo bilang itu siapa?”
“Itu adek sepupu gue, dia nggak terima kalo gue lebih perhatian sama elo daripada sama dia. Lagian kakak lo juga ngamuk ama gue, katanya, dia jadi nggak di anggap sama adeknya.”
“Jadi, elo mau jadi cewek gue?” Sonya mengangguk. Kontan Reza langsung berlari kearah danau yang ada di dekat taman itu lalu menyeburkan diri. Sonya langsung panik mengingat Reza tidak bisa berenang.”
“Reza.”
“Sonya, blup.. blup.. tolong… blup.. ngin blup.. blup… gue, gue blup… blup.. lupa nggak bisa… blup…  renang.” Katanya sambil melambaikan tangannya.
“Iya iya, tunggu.” Sonya ikut menceburkan diri, menyelamatkan Reza.
“Makasih say.” Ujar Reza begitu mereka sampai dipinggir.
“Bego banget sih lo, udah tau nggak bisa renang, masih nekat nyebur.”
“Hehehe, maap, aku reflex saking senengnya.”
“Reflexnya nggak lucu tau. Ngajak ribut kalo gitu namanya, my Reza.” Ujar Sonya sambil menarik hidung Reza.
“Iya, maaf my Sonya.” Ganti Reza yang menarik hidung Sonya. Sonya hanya merengut sebal. Detik berikutnya, bibir mereka terpaut. Sonya yang mendapat perlakuan tiba-tiba, reflex mendorong Reza menjauh.
“Pinter banget nyari kesempatan dalam kesempitan. Sini kamu.”  Secepat kilat ia mengambil ancang-ancang untuk berlari secepatnya. Sebelum Sonya mencubitnya dengan sadis.
“Tangkep aku dulu, Sonya sayang.”
“Rezaaaa………. Dasar nyebelin!!!”

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar