“Mulai sekarang, Sonya jadi kakak ceweknya Eja, ya.
Janji?” ujar seorang anak kecil sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada
gadis dihadapannya. Gadis itu menyambut senang. “Janji.” Ia menautkan jarinya
ke jari milik anak kecil yang dipanggil Eja itu.
“Berarti, kak Sonya harus jagain aku, ya. Jangan
galak-galak kayak kak Ilham. Oke?” gadis kecil yang bernama Sonya ini
mengangguk. Sebenarnya umur mereka sama, hanya berbeda dua bulan. Tapi entah
mengapa Eja selalu menganggap Sonya sebagai kakaknya, bukan temannya.
“Oke, tapi Eja harus nurut, ya sama Sonya. Awas kalo
nggak. Sonya nggak mau jadi kakaknya Eja lagi.” Eja mengangguk menyanggupi.
Itu kejadian
sepuluh tahun lalu, ketika mereka sama-sama berumur tujuh tahun. Hingga
sekarang, janji itu masih ditepati oleh masing-masing pihak. Sesekali mereka
bertengkar, yang satu ingin dituruti, yang satu tak mau menurut. Selalu begitu.
Sampai saat ini, mereka duduk di bangku SMA.
@@@
“Tante, kak
Sonya udah siap belom?” tanya seorang lelaki dengan seragam putih abu-abunya
pada wanita paruh baya, yang tak lain adalah Tante Erika, mama Sonya.
“Sudah, Rez.
Masuk dulu, Sonya lagi ngambil tasnya.” Ujarnya. Lelaki yang dipanggil ‘Rez’
ini mengangguk, kemudian membuntuti mama Sonya. Dan menghempaskan pantatnya
pada sofa empuk di ruang tengah.
“Sonya, Reza
udah datang, kamu udah selesai belum?” panggil Tante Erika pada putri
semata-wayangnya ini. Sedetik kemudian Sonya membuka pintu kamarnya dan
menuruni tangga, menemui sahabatnya, atau lebih tepatnya ‘adik’nya.
“Sudah, Ma. Sonya
sama Reza berangkat, ya. Bye Mama.” Ujarnya mencium tangan ibunya lalu berjalan
keluar. Seperti biasa, Reza menyodorkan lengannya untuk dipeluk. Tapi Sonya
malah meraih tangan Reza, menggandengnya.
“Selalu begitu.
Disodorin lengan malah ngambil tangan. Apa susahnya sih meluk gue?” Reza
mendengus kesal. Sonya hanya tersenyum.
“Kalo kayak gitu
nanti kita disangka pacaran sama anak-anak. Udah yuk, berangkat. Nanti telat,
lho.”
“Iya kakakku
sayang.” Ujar Reza, menyalakan motornya kemudian melesat ke sekolah.
@@@
“Eh, Rez. Ntar
malem ada balapan di tempat biasa. Lo mau ikut nggak?” Tawar Bisma saat jam
istirahat berlangsung. Reza tampak berfikir sejenak, kemudian menggeleng.
“Nggak deh
kayaknya. Takut si Sonya marah.” Bisma mendengus kesal.
“Sebenernya, elo
sama Sonya tu ada hubungan apa sih? Kayaknya kagak pacaran, tapi elo segitu
takutnya sama tu anak.”
“Dia kakak gue,
bukan kakak beneran sih, kakak ketemu gede gitulah.”
“Sejak kapan?”
tanya Bisma, lagi.
“Sejak sepuluh
tahun lalu.”
“Itukan elo
masih kecil, jelas aja lo butuh perhatian kakak cewek, tapi sekarang lo udah
gede, bro. Masa’ mau nerusin janji masa lalu itu? Udik lu.” Reza meerenung
sejenak.
“Iya sih, gue emang udah gede. Tapi nanti
kalo Sonya nggak mau ketemu gue lagi gimana?”
“Biarin aja, elo
kan coverboy di sekolah, tinggal cari cewek laen, ribet amat.”
“Oke, gue ikut.”
Ujar Reza setelah sejenak memikirkan kata-kata Bisma.
@@@
‘I can fly high, naneun mideoyo... eonjenganeun jeo
haneulwiro...’ Hape Sonya berdering, panggilan
dari Reza.
“Halo, Kak.”
“Iya, kenapa
Rez?”
“Malem ini gue
nggak belajar di rumah elo dulu, ya. Gue ada urusan ama anak-anak.”
“Oh, oke. Elo
dimana sih? Kok banyak suara motor?”
“Di jalan.”
“Serius? Bukan
lagi di arena balap, kan?”
“Bukan. Udah ya,
bye.”
Klik—sambungan
terputus. “kenapa ni anak? Sakit kali ya?” gumam Sonya. Kembali meneruskan
belajarnya. Sejenak, ia merasa tidak enak akan perasaannya. Namun ia abaikan,
mengingat Reza tak pernah membohonginya, selama ini sih begitu.
@@@
“Gimana?” Tanya
seseorang yang tak lain adalah Bisma.
“No problem,
Sonya percaya-percaya aja sampe saat ini. Sempet curiga sih waktu denger banyak
suara motor, tapi gue langsung bilang ‘di jalan’, dia nggak nanya apa-apa lagi
deh.”
“Bagus deh kalo
gitu. Buruan siap-siap, jangan sampe kalah, gue juga bayar banyak buat elo.
Oke?”
“Sip... elo bisa
andelin gue.” Ujar Reza, mulai menaiki motornya. Dan, balapan dimulai begitu
berdera yang dibawa cewek berpakaian seksi ini dijatuhkan.
Pertandingan selesai
dengan Reza sebagai winner. Sejak saat itu, ia terus mengikuti balapan yang
diinformasikan Bisma. Hampir tiap malam, membuatnya kehilangan waktu belajar
dengan Sonya, kehilangan nilai terbaiknya, kehilangan waktu untuk bersama
Sonya. Sonya sebenarnya merasakan perubahan itu, tapi ia berusaha masa bodo.
Hingga berita tak enak sampai ditelinganya. Reza membohonginya.
@@@
“Ntar malem ada
waktu?” tanya Sonya saat mereka ada di taman di sekitar perumahan mereka.
“Sorry, gue
nggak bisa, gue ada acara sama anak-anak.” Sonya mendengus pelan. Alasan klise,
gumamnya.
“Acara apa?”
tanyanya lagi berusaha meredam emosi yang sebenarnya sudah memuncak sejak tadi.
“Nggak perlu
tau, urusan cowok.”
“Jam berapa?”
tanyanya lagi, untuk ketiga kalinya.
“Jam sembilanan
gitu. Kenapa sih nanyak-nanyak mulu, kayak nyokap gue aja lo. Bawel.”
“Jam tujuh sampe
jam setengah sembilan bisa ke rumah gue? Kita belajar kayak dulu lagi.
Nilai-nilai elo banyak yang anjlok.”
“Gue nggak
janji, ya. Gue mau balik, lo mau ikut?” Sonya menggeleng diiringi senyuman.
“Gue masih mau
disini. Balik aja duluan. Lagian gue bawa sepeda.”
“Oke, bye.” Reza
berlalu begitu saja.
@@@
19.30,
Reza belum juga datang ke rumahnya. Sonya gelisah setengah mati. Karena
ternyata perasaannya terbukti, Reza berubah 180 derajat. Tanpa kendali darinya.
Esoknya,
ia kembali mendapat kabar bahwa semalam Reza balapan lagi. Tanpa penjelasan,
pulang sekolah Sonya langsung menyeret Reza ke taman yang sama.
“Elo
kenapa sih? Nyeret-nyeret gue nggak jelas gini.” Reza ngedumel begitu mereka
sampai.
“Kemarin
kenapa nggak dateng?” tanya Sonya to the point.
“Gue
kan bilang nggak janji. Jadi jangan salahin gue salahin gue kalo gue nggak
dateng.”
“Elo
punya hape kan, bisa ngomong, kan. Apa susahnya sih ngabarin gue? Elo berubah
tau, nggak! Elo sekarang sering balapan, sering bohongin gue pake alasan yang
sama. Basi tau nggak!” Tumpah sudah amarah yang mati-matian ia tahan.
“Buat
apa gue ngabarin elo? Emang elo siapa gue? Kakak, iya? Itu masa lalu doang,
Nya. Sepuluh tahun lalu, sekarang gue udah gede. Nggak perlu lo jagain lagi.
Lagipula, itu urusan gue. Suka-suka gue mau kemana. Hak gue buat ngelakuin apa
aja. Mulai sekarang, elo jangan ikut campur urusan gue. Elo nggak perlu
repot-repot jadi kakak gue lagi. Ngerti lo?!” Reza membentak keras. Melupakan
janjinya.
“Oke,
Fine. Itu mau lo. Jangan pernah ngubungin gue lagi. Jangan salahin gue kalo
nilai-nilai lo makin ancur. Dan jangan
salahin gue kalo elo nyesel nantinya. Remember it!”
Ujarnya diiringi air mata kemudian berlalu begitu saja.
@@@
Hari
demi hari terlewati begitu saja, tanpa ada tawa dari seorang gadis yang pernah
menjadi kakaknya. Tanpa ada omelan dari seseorang yang ia sayang. Karena
seseorang itu telah pergi. Karena
ulahnya sendiri.
Di
sisi lain, seorang gadis masih tetap menjalani harinya senormal mungkin, meski
hatinya merindukan seseorang yang pernah menjadi adiknya sekaligus pujaan
hatinya. Tapi sebagus apapun isi hati tertutupi, suatu saat pasti akan terbuka
dengan sendirinya. Seperti malam ini, ia kehilangan semangat belajarnya. Buku
Kimianya dibiarkan terbuka. Huruf-hurufnya lewat begitu saja. Gadis ini,
terlampau jauh jatuh dalam lamunannya. Hingga ketukan pintu dan seruan lembut
seorang ibu menyadarkannya, menyeretnya kembali dalam alam nyata.
“Sonya,
ada Reza tuh di bawah, temuin sana. Mama mau jemput Papa di bandara. Minumnya
udah mam buatin, tinggal kamu suguhin aja.”
“Iya,
Ma.” Sonya membuka pintu malas.
“Mama
berangkat, ya. Hati-hati di rumah.” Mamanya mengecup pipi Sonya sekilas lalu
berjalan secepat mungkin menuju pintu. Sonya menuruni anak tangga dengan
langkah gontai. Menemui seseorang yang pernah menjadi sahabatnya.
“Ngapain
lo disini?” tanya Sonya dingin. Reza langsung memeluk gadis dihadapannya.
Melepas rindu yang susah payah ia tahan selama beberapa minggu ini. Sonya
melepas pelukan Reza dengan paksa.
“Ngapain
lo kesini? Masih inget sama gue, lo?” Reza menunduk, kalimat yang dilontarkan
Sonya terlalu kasar untuknya, karena selama ia berteman dengan Sonya, belum
pernah ia mendapat sindiran sepedas ini.
“Gue
kesini mau minta maaf.”
“For
what? For your lies? Or your opinion?” Sonya membentak dengan logat Inggrisnya
yang kental.
“Buat
semua yang udah gue lakuin ke elo. Maaf, gue udah bohongin lo, maaf gue udah
ngebentak elo, maaf atas kata-kata dan kelakuan gue.” Sonya berkacak pinggang,
memandang mantan sahabatnya ini.
“Gue
udah maafin elo, jauh sebelum elo minta maaf sama gue.” Ujarnya dingin.
“Serius?
Makasih...” Reza kembali memeluk Sonya, kali ini lebih erat.
“Reza,
gue belom selesai ngomong.” Ujar Sonya melepas paksa pelukan Reza.
“Berarti,
lo mau kan jadi kakak gue lagi.” Tanya Reza penuh harap.
“Itu
yang mau gue omongin, gue nggak bisa jadi kakak lo lagi, Za. Maaf, sebelumnya,
tapi gue ngerasa ini tuh keputusan yang bener.”
“Ke...
kenapa?” tanya Reza lagi dengan muka ditekuk.
“Pertama,
gue capek, capek nasehatin elo, tapi elo nggak pernah mau denger, padahal dulu
lo udah janji bakalan nurut, tapi apa? Bukannya nurut, lo malah ngelunjak.
Kedua, gue terlanjur sakit hati lo bohongin gue, gue emang udah maafin elo,
tapi bukan berarti gue udah ngelupain soal kemaren. Ketiga, gue... gue takut
ada yang marah, Za. Maaf.”
“Oke,
gue minta maaf, kali ini gue bakal nepatin janji gue, Nya. Please, lo mau ya
jadi kakak gue lagi.” Sonya menggeleng.
“Kenapa?
Karena alasan kedua, fine elo masih sakit hati sama gue, tapi apa nggak bisa lo
coba obatin sakit itu? Atau alasan ketiga? Emang siapa sih yang mau marah, Nya?
Gue nggak punya cewek, cewek yang deket sama gue ya Cuma elo. Just you.”
“Bukan
dari pihak elo yang marah, Za. Tapi dari pihak gue.” Reza tersentak, hampir
limbung kalau saja Sonya tak menggenggam tangannya. Sedetik kemudian, ia
mengangguk.
“Oke,
itu mau lo. Makasih atas segalanya, gue pulang dulu.”
@@@
Alunan
musik memenuhi ruangan bernuansa metalic ini. Bukan musik yang seperti biasa,
seperti musik yang memekakkan telinga. Kali ini, alunan lagu sendu nan galau
mendominasi, setiap baitnya bagai merasuk, benar-benar menggambarkan suasana
hati yang sedang luluh-lantak. Tak biasanya lelaki ini merenung di balkon kamarnya
sambil memandang bintang. Penampilannya memang tidak berantakan seperti orang
frustasi, malah sangat rapi, tapi dari raut wajahnya mendeskripsikan dengan
jelas bahwa ia sedang patah hati.
“... Ketiga, gue... gue
takut ada yang marah, Za. Maaf.”
“Bukan dari pihak elo
yang marah, Za. Tapi dari pihak gue.”
Dua
kalimat biasa, tapi seseorang yang mengucapkannya, membuat kalimat itu seakan
menjadi petir yang mampu luluh-lantakkan hati seorang Reza Dwi Anugrah.
Sayup-sayup terdengar isak tangis yang menyayat hati. Air mata yang menetes itu
milik seseorang yang baru saja patah hati. Isakan lirih itu makin menjadi
ketika satu persatu kenangan manisnya bersama gadis yang pernah ia panggil
kakak itu muncul. Silih berganti dalam memori namun menyesakkan hati.
Perlahan
ia menyadari, cintanya takkan terbalas sampai kapanpun. Perlahan ia bangkit,
kembali menjadi Reza yang dulu, si coverboy sekolah. Dengan pasti ia mulai
mengucap janji dalam hati. “Gue harus move on dari Sonya.”
@@@
Seminggu...
dua minggu... dan, aaaargh!!
“Melupakan
seseorang yang kita cintai tidaklah mudah, Za. Apalagi, dia sudah hadir dalam
benak sepuluh tahun lebih lamanya. Menghapus cinta yang ada selama sepuluh
tahun itu, sama saja dengan bunuh diri, karena sampai kapanpun cinta itu takkan
pudar, hanya bisa dibekukan menjadi kenangan kemudian ditumpuk dalam loteng
pikiran. Only this, no more.” Jelas Bisma panjang lebar. Reza yang mendengar
solusi dari Bisma hanya mampu menganga. Tak menyangka seorang ‘Raja Balap’
sejenis Bisma ini bisa memberikan solusi dengan kata-kata yang menurut Reza
kelewat nyastra.
“Lo
dengerin kagak, Za?”
“Eh,
i... iya gue dengerin, Cuma heran aja, ternyata orang berandal kayak elo bisa
nyastra juga.”
“Eits,
jangan salah bro, gini-gini, gue juga penulis lagu.” Ujar Bisma sambil menepuk
dadanya, menyombongkan diri. Alhasil, satu toyoran ia dapat dari Reza.
“Pede
gila lo. Whatever deh, terus sekarang gue harus gimana?”
“Cara
satu satunya, ya dengan berdamai dengan kenangan itu, atau balikan lagi, atau,
semacamnyalah, emang siapa sih ceweknya?” Mata Reza berkeliling, dan bertumpu
pada sosok yang ia kenal, masa lalunya, Sonya Andini.
“Tuh,”
ia memberi isyarat dengan dagu, Bisma mengikuti arahnya, seketika ia
terbelalak.
“Serius
lo? Sejak kapan?”
“Seratus
rius malah, sejak kapan, ya? Kalo nggak salah sih, gue sadar sama perasaan gue
pas...”
Flashback...
“Ngerti nggak, Za?”
tanya Sonya setelah ia selesai menjelaskan pekerjaannya pada Reza. Tapi yang ia
temukan malah Reza tengah menatapnya sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Reza Dwi Anugrah!!
Udah ngerti belom?” Sonya berteriak tepat di telinga Reza.
“Eh, eh, i... iya, gue
ngerti kok. Maksudnya nggak, eh, ngerti, iya ngerti, eh tapi...” Sonya
menempelkan telunjuknya dibibir Reza, kemudian mendekatkan wajahnya membuat
Reza makin salah tingkah.
“Kalo belom ngerti,
dengerin gue, jangan ngelamun.” Sonya berbisik, langsung tergelak mendapati
muka Reza yang sudah seperti udang rebus, merah banget euy.
“Hahaha, kenapa lo?
Grogi ya, hahaha....” Reza kontan menggeleng, menutupi rasa malunya.
“Ng... nggak kok, kata
siapa? Udah ah, gue pulang. Bye!” Reza buru-buru pergi meninggalkan Sonya yang
masih hanyut dalam tawanya.
@@@
Ya ampun, gue kenapa
ya? Sering banget gugup di depan Sonya. Hhh, ni jantung juga, kayaknya gue
mesti ke dokter deh, meriksain ni jantung, sering banget berdetak lebih dari
batas wajarnya. Hadeeh... Reza bergumam sambil mondar-mandir kayak setrikaan di
kamarnya.
Hari-hari selanjutnya,
ia jadi sering cemburu kalau Sonya asik bercanda dengan teman cowoknya, ia
sering deg-degan kalau Sonya sudah tersenyum lembut padanya, ia jadi sering
bingung sendiri kalau mau ke rumah Sonya walau hanya sekedar belajar bersama.
Ia sering merasa takut kalau Sonya sudah marah dan tak bisa dibujuk.
Dan sejak saat itu, ia
sadar, kalau ia mencintai seorang Sonya Andini. Gadis kecilnya yang sering ia
panggil ‘kakak’.
Flashback off...
@@@
Setelah
berkali-kali berunding dengan Bisma, setelah berulang kali ia berfikir, setelah
sekian lama ia mencoba untuk berani, akhirnya ia mengajak Sonya ke sebuah
taman. Tak ada yang spesial memang, hanya taman yang sering mereka kunjungi
untuk berbagi cerita tanpa ada dekorasi mewah seperti halnya orang lain
menyatakan cinta pada orang yang mereka cinta.
“Ada
apa, Za?” tanya Sonya begitu mereka sampai.
“Gue
ngomong ini Cuma sekali, lo mau jawab atau nggak itu terserah elo, gue nggak
maksa, gue Cuma pengen elo tau isi hati gue.” Sonya mengangguk.
“Lo
tau, cinta itu bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja tanpa kita duga.”
Lagi lagi Sonya mengangguk.
“Sepuluh
tahun bukan waktu yang sebentar buat gue, selama itu, gue mulai paham, mulai
ngerti kenapa gue sering gugup di depan elo, dan sayangnya, gue baru sadar
setelah elo jadi milik orang. Tapi itu nggak masalah buat gue, yang gue mau
Cuma elo tau isi hati gue, biar nggak terlalu sesak aja. Lo tau, gue sayang
sama elo, bukan hanya sekedar kakak, gue cinta sama elo, lo mau ngebales
perasaan gue ini?” Sonya hanya tersenyum.
“Gue
mau.” Ujarnya singkat. Reza tersenyum pahit.
“Jangan,
gue nggak mau jadi benalu diantara hubungan lo sama cowok lo.”
“I’m
single Reza.” Reza tersentak. Langsung menoleh pada Sonya.
“Maksud
lo? Lo nggak punya cowok? Terus yang lo bilang itu siapa?”
“Itu
adek sepupu gue, dia nggak terima kalo gue lebih perhatian sama elo daripada
sama dia. Lagian kakak lo juga ngamuk ama gue, katanya, dia jadi nggak di
anggap sama adeknya.”
“Jadi,
elo mau jadi cewek gue?” Sonya mengangguk. Kontan Reza langsung berlari kearah
danau yang ada di dekat taman itu lalu menyeburkan diri. Sonya langsung panik
mengingat Reza tidak bisa berenang.”
“Reza.”
“Sonya, blup.. blup.. tolong… blup.. ngin blup.. blup… gue, gue blup… blup.. lupa nggak… bisa… blup… renang.” Katanya sambil melambaikan tangannya.
“Iya
iya, tunggu.” Sonya ikut menceburkan diri, menyelamatkan Reza.
“Makasih
say.” Ujar Reza begitu mereka sampai dipinggir.
“Bego
banget sih lo, udah tau nggak bisa renang, masih nekat nyebur.”
“Hehehe,
maap, aku reflex saking senengnya.”
“Reflexnya
nggak lucu tau. Ngajak ribut kalo gitu namanya, my Reza.” Ujar Sonya sambil
menarik hidung Reza.
“Iya,
maaf my Sonya.” Ganti Reza yang
menarik hidung Sonya. Sonya hanya merengut sebal. Detik berikutnya, bibir mereka
terpaut. Sonya yang mendapat perlakuan tiba-tiba, reflex mendorong Reza
menjauh.
“Pinter banget nyari kesempatan dalam kesempitan. Sini
kamu.” Secepat kilat ia mengambil
ancang-ancang untuk berlari secepatnya. Sebelum Sonya mencubitnya dengan sadis.
“Tangkep aku dulu, Sonya sayang.”
“Rezaaaa………. Dasar nyebelin!!!”
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar