-------- Nadia POV ---------
Byur,
dalam waktu yang bahkan kurang dari satu detik, dengan suksesnya jus strawberry itu, membasahi seragamku.
"Shit! Heh, cewek songong! Mau lo apa sih? Ngiri aja ama gue." Natasya tersenyum mengejek.
"Hello kutu buku. Gak salah denger gue? Berani bener lo ngelawan gue. Lo kira lo siapa?" Aku memandangnya maarah.
"I
am a nerd, but I am also human beings who can be more cruel than you,
Sassy girl... go ye out of my sight. I've had it seen" Aku mendorongnya,
berusaha menyingkirkannya dari hadapanku, dan berlari ke toilet,
mencoba membersihkan jus strawberry yang membasahi bajuku.
"Aargh...
dasar bitch!!! liat aja, kalo sampe dia masih nge-bully gue, gue bakal
bales dendam ama lo Natasya." Erangku keras, bahkan mungkin bisa didengar oleh orang-orang yang lewat di depan toilet. Setelah lumayan kering dan bersih, aku
keluar dari toilet.
"Emang lo bisa apa? gue gak yakin lo berhasil
bales dendam ama Natasya." celetuk seseorang yang ternyata adalah Rezky,
cowok playboy yang sok kecakepan dan sok elit. Tuh kan, bener, pasti kedengeran. -_-
"Shut up!!" Demi
apapun, aku benar-benar kesal kali ini. Ingin rasanya menimpuk playboy
sok kecakepan ini dengan pot yang ada disampingku. Sayangnya, badanku
yang mungil ini tidak di design untuk mampu mengangkat beban pot yang
hampir menyamai berat badanku.
"Gini aja deh mungil, kita taruhan, kalo lo berhasil bales dendam ama Natasya, lo boleh minta apapun ke gue." Katanya memberikan tawaran plus senyum evilnya.
"Termasuk nyuruh lo untuk pindah tempat duduk, kalo perlu pindah kelas, ato sekalian pindah sekolah?!"
"Apapun.
termasuk yang lo sebutin tadi itu. Tapi, kalo lo kalah, lo harus mau
ngerjain apapun yang gue suruh. Gimana?" Rezky menatapku sambil
tersenyum evil (Lagi!!). Sejenak aku ragu, tapi akhirnya aku menerima
tantangannya yang cukup menyeramkan itu.
"Oke, siapa takut. :P" Aku menjulurkan lidah padanya dan berlalu pergi.
---------- Rezky POV ----------
@ Kamar
Gue
gak ngerti apa yang ada di otaknya tu cewek mungil. Tapi gak papa,
dengan cara ini, gue bisa balas dendam ama tu cewek satu. Karena dia, Satu-satunya
cewek yang berani ngelaporin gue ke guru kalo gue gak ikut nimbrung
dalam kerja kelompok, satu-satunya cewek yang paling mungil sekaligus manis
bahkan bisa dikatakan paling imut diantara cewek laen, satu-satunya cewek
yang berani ngelawan gue, satu-satunya cewek yang berani nantangin sekaligus
ngejek gue, tapi dia juga satu-satunya cewek yang bikin gue ngerti bahwa
cinta itu benar adanya dan cinta adalah hal yang tidak boleh untuk
dimainkan.
Kejadian dikantin tadi pagi kembali
terulang di otak gue. Jujur, gue pengen buanget sebanget bangetnya
nolong dia, ngebela dia, bahkan ngelindungin dia dari Natasya, tapi,
gengsi gue memenangkan segalanya. Alhasil, batal lagi gue caper di
depannya dia. Hhh.. -_-
Day 1 [pembalasan dendam dg cara pertama]
------- Nadia POV ----------
Hari
ini aku sengaja datang pagi-pagi sekali, hanya demi balas dendam pada
Natasya, serta mengusir Rezky dari sebelahku. Berbekal pengalaman
sewaktu SMP, aku mengolesi betadine di tempat duduk Natasya, kebetulan
hari ini sekolahku memakai seragam putih dengan rok putih. Jadi aku
yakin seyakin yakinnya bahwa Natasya benar-benar malu nantinya. Aku
mendesah lega, dan berdo'a semoga hari ini rencanaku berhasil.
--- Saat Istirahat ---
Natasya
berdiri dari bangkunya, dan dengan penuh percaya diri, dia berjalan bak
seorang model yang sedang berlenggak-lenggok di atas catwalk.
Sepertinya ia masih belum sadar bahwa anak2 cowok dikelasku sudah
menertawakannya. Bahkan ada yang nyeletuk begini.
"Wuah, merah...
Pasti amis." Sumpah, kalau aku jadi Natasya, aku pasti refleks menutupi
rok belakangku. Hingga salah seorang temannya memberitahu Natasya dengan
suara keras, aku yakin, tanpa speaker sekolahpun seantero sekolahpun
akan menoleh ke Natasya.
"Natasya!!! Elo mens ya, gila.... Bocornya buanyak banget." Natasya spontan menoleh. Terlihat pipinya memerah menahan malu.
"What are you talking about me? Gue gak lagi 'M' kok." Kata Natasya polos.
"What?
How can you talk like that, Nat. Looked that." Kata salah satu temannya
sambl mencoba memutar rok Natasya ke depan.Natasya memekik begitu
melihat roknya yang sudah penuh dengan darah buatanku.
"Hah?!!!! Oh my God... What should i do?" Terlihat sudah air mata menggenangi pelupuk matanya.
"Lo
pulang aja deh," Usul salah seorang temannya, Sasha. Tiba-tiba Rezky datang
dan ikut nimbrung dengan cewek-cewek centil itu. tanpa banyak tanya, ia
melepaskan jaketnya dan mencoba membantu Natasya menutupi bercak darah
di roknya. Kontan aku menganga melihatnya. Sekilas ia melirikku sambil
mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum evil.
Cepat aku mengetik sms untuknya.
to : Rezky
u'r really really sucks. wait for revenge tomorrow
>:O
------- Rezky POV -------
Saat istirahat, gue sengaja langsung balik ke kelas untuk melihat apa yang di kerjakan si Mungil untuk Natasya hari ini. Dan, Taraaa.... begitu gue masuk, pemandangan yang amat sangat menjijikkan tapi juga mengenaskan hadir di hadapanku. Namun, detik berikutnya gue sadar, ini semua pasti kerjaannya si Mungil untuk balas dendam, gue akui, idenya sangat cemerlang, karena Natasya kini sudah menangis menahan malu. Pipinya benar-benar seperti tomat yang baru matang. Meraaah buanget. Sigap gue langsung ngelepas jaket gue, dan berusaha menutupi bercak darah (Buatan si Mungil) sebisa gue, sekilas, gue ngelihat si Mungil yang menganga takjub dan memberinya kedipan mata plus senyum evil gue.
"Udah gak begitu keliatan kan?" Kata gue menatap puas atas kerjaan gue. Terlihat Natasya dengan mata yang berbinar-binar mengangguk mantap.
"Makasih banyak Rezky... Gue gak tau deh nasib gue kalo gak ada elo."
"Ya ya... sama-sama, udah pulang sono, kesian gue ngeliat elo." Lagi-lagi, dia mengangguk. Tak sampai lima menit, sebuah sms masuk dari si Mungil.
to : Rezky
u'r really really sucks. wait for revenge tomorrow
>:O
Waw, dia benar-benar marah kali ini, tapi... emang gue pikirin?! Sebodo teuing mah dia marah, yang penting gue bisa selalu bareng dia nanti.
to : Mungil
terserah lo mo bilang apa. yg pnting gw happy :D
'DELIVERED'
Gue yakin, pasti tuh anak udah berasap tu ubun-ubun baca sms gue.
Hari-hari berlalu, sekarang sudah seminggu sejak perjanjian gue sama si Mungil di depan toilet cewek minggu lalu. Dan selama itu, gue selalu berhasil menggagalkan rencana si Mungil. Yes, tinggal tunggu tanggal mainnya.
------ Nadia POV ------
Semua rencanaku nyaris berhasil kalau iblis itu tidak menggangguku.
"Fuck. Gara-gara elo rencana gue gagal total." Umpatku saat ia menagih taruhannya.
"Lo
gak ngasik persyaratan apapun ke gue, jadi gue bebas mengagalkan
rencana lo itu." Ia kembali tersenyum evil. Aku berusaha menahan kesal
yang sudah mencapai ubun-ubunku.
"Ya udah lo mau apa sekarang.?"
"Ikut gue."
------ Rezky POV ------
Yes!!!
Gue berhasil deketin dia tanpa mengurangi gengsi gue sedikitpun. Lo
emang pinter cewek mungil, tapi sayang, lo kurang licik babe.
Gue menatap wajah kesal cewek mungil disamping gue. Dia lebih cantik
dengan pakaian hariannya dari pada seragam sekolahnya. Really really so
cute girl. "Apa lo liat-liat?!" Katanya galak. Gue menahan senyum.
Ternyata dia menyadari gue lagi merhatiin dia.
----- SKIP -----
Hari
demi hari datang dan pergi dalam diam, sudah seminggu aku menemani dan
melaksanakan semua yang ia minta. Jujur, aku mulai kelelahan dengan
perintahnya. Bahkan nyaris pingsan kalau dia tidak menahanku.
Hari
ini hari minggu, hari dimana seharusnya aku memanjakan diri dan otakku
dengan masker dan novel di rumah, bukannya menemani cowok palyboy sok
kecakepan seperti Rezky.
"Rez, gue capek, istirahat dulu ya. Masih pusing nih abis naik Kora-Kora tadi."
"Oke
deh." Dia terduduk disampingku dan mulai mengambil sesuatu dalam
kantongnya. Eiiits, tunggu, apa itu? Ya Tuhan, cowok kayak dia makannya
permen strawberry? His seriously?
"Lo nyemil permen strawberry?" Dia mengangguk menatapku. Kontan aku ngakak keras.
"Huahahahahaha, gue kira hobi lo ngerokok, eh, gak taunya... kenapa gak sekalian aja lo beli lollipop sana?"
"Heh, permen tu lebih sehat tau dari pada rokok. Lo gak tau ya bahaya rokok."
"Tau lah. Lo kira gue bego apa?!" Kami terdiam. Keheningan benar-benar menyelimuti kami saat ini. Hingga ia angkat bicara.
"Lo tau gak kenapa gue betah banget nyuruh2 elo?" Aku menggeleng.
"Karena selama ini gue cuma bisa deket sama elo cuma bentar. Dan gue gak suka itu."
"Teruus...?"
"Lo
masa' gak nyadar sih, Nad? Gue suka sama elo, gue sayang sama elo, gue
selalu gak terima lo ditindas sama Natasya. Lo mau gak jadi pacar gue?"
aku melongo. Kuakui kalo aku juga sayang sama playboy satu ini, entah
sejak kapan rasa itu muncul. Tapi aku gak nyangka kalo cinta ku gak
bertepuk sbelah tangan.
"Nad..."
"Eh, apa?"
"Nad, jawab pertanyaan gue..."
"Oh, gue.. gue..." Ada niat untuk menolaknya, tapi entah kenapa bibirku malah mengucapkan sebaliknya.
"Gue mau..."Spontan aku menutup mulutku. Oops...
"Terima kasih...." dia memelukku. selang beberapa detik, ia melepas pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Lo mau ngapain??" Ia menciumku, melumat bibirku lembut. Rasanya aneh, tapi...
"Iiiiih," aku mendorongnya menjauh.
"Kenapa?"
"Rese' lo, itu first kiss gue bego!!!"
"Lho, baguskan, first kiss lo jatuh ke tangan gue."
"Iiiiiiiiiiiiiih....
eurgh banget sih. udah ah, kita main lagi." Kataku menghindarinya, aku
yakin, pasti pipiku memerah saat ini.
Ya tuhan, kenapa harus begini jlannya? Tapi, gapapa deh, yang penting aku bahagia.
Gue juga. Ia menyahut perkataanku dalam hati. Lho?
Apa yang kau baca, terkadang tak seperti yang kau bayangkan =) Happy Reading (´⌣`ʃƪ)
Translate / 翻訳する / 번역
Kamis, 24 Mei 2012
Kamis, 17 Mei 2012
Mengejar Bayangan Part 2
Hari demi hari datang dalam diam, dan pergi tinggalkan keheningan. Hingga sebulan terlewati, dan aku, bahagia karena tak lagi hobi merenung memikirkan Rangga.
@ Kantin sekolah
"gimana hubungan lo sama Andra?" tanya Yukie disela-sela kunyahannya.
"It's fine, why?"
"gue kira udah ada perkembangan ampe jadian, ternyata, 'nothing specialy' ya, payah tu Andra."
payah gimana maksud lo,Yuk?" tanya Nisya tak mengerti.
"Payah lah, masa' udah hampir sebulan dia gak bisa bikin sohib kita ini terpesona sih?!"
"Dia tuh gak payah,Yuk. Tapi, Vionya aja yang kelewat cuek dan gak peduli. Ya gak, Vi?"
"Rese lo, gue gak cuek tau..."Protesku.
"Apa dong namanya? Dingin? sama aja kalii, atau jangan-jangan lo masih nunggu Rangga?" Duga Nisya.
"Gak tuh, gue udah seratus persen lupa ama tu anak. Tapi gue emang gak ada pikiran buat pacaran sama Andra. Dia udah gue anggep abang gue sendiri."
"Elo kan udah punya kakak,"
"kakak gue yang asli sarap. Males gue."
"Hahaha, asem lo, kakak sendiri lo katain sarap." semua tertawa. Tapi terputus, karena dering handphoneku.
Just say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
lagu Go Away milik girlband korea, 2NE1, mengalun. Nama Andra tertera di layar ponselku.
"Halo, ada apa, An?"
"Oh, gak ada apa-apa, uhm, lo malem minggu besok ada acara gak?"
"Malming? gak ada, emang kenapa?"
"Bisa ketemuan gak?"
"Ok, gue usahain deh, bye."
Klik, ponsel kututup.
"Kenapa Vi?"
"Gak, si Andra ngajak ketemuan malming besok. Tumbenan banget tau gak, biasanya dateng semaunya, pergi juga semaunya."
"Wuah, jangan-jangan dia mau nembak elo lagi."
"Gak ngarep deh gue." Kamipun beranjak ke kelas.
------------------------------------------------------------Malam minggu di Cafe The Ivy.-------------------------------------------------
Setengah jam berlalu, tapi Andra belum juga angkat bicara. Demi Tuhan, aku mulai bosan sekarang. Atas unsur ketidaksabaran yang sudah melanda ku sejak tadi.
"Katanya mau ngomong, kenapa diem aja. Gue bosen nih." Ujarku dongkol.
"Maaf, tapi gue bingung mau mulai darimana." Aku melengos,
"Udah deh, ngomongnya besok aja kalo gitu, gue ngantuk. Bisa anter gue pulang sekarang?" Andra terlihat sedikit ragu, namun akhirnya menuruti permintaanku.
"Oke," Ia menggandeng tanganku pergi dari cafe itu.
----------------------------------------------------------------------------------Kamarku------------------------------------------------------------
"Jangan-jangan bener lagi katanya anak-anak kalo si Andra mau nembak gue. Omigod..." Aku memekik histeris. "Gue harus kasi tau anak-anak." Buru-buru aku mengambil Ipad ku yang dari tadi hanya bertengger manis di meja belajarku.
guys, kayaknya perkiraan kalian soal si Andra mo nembak gw bener deh.
'DELIVERED'
Just say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
Detik berikutnya lagu Go Away mengalun dari Ipad ku.
"Serius lo, Vi?" jerit Yukie histeris.
"Owh, setan lu emang. Salam dulu kek, paling kagak pelanin dikit napa suara lo."
"Hehehe, maap maap, jadi bener dugaan kita? Dia nembak elo?"
"Baru kayaknya Yukie... gue baru ngerasa dari gelagatnya doang..."
"Yah, gue kira beneran. ya udah deh, cerita besok aja di sekolah, pulsa gue sekarat nih, Bye..."
Klik. telpon terputus.
"Rese ni anak." aku nyaris membanting Ipadku jika tidak mengingat bahwa Ipad ini adalah hasil jerih payah ku bekerja menjadi member Shopie Martin yang harus bolak-balik gak jelas demi mencari orderan.
"Vio, lo ada kerjaan gak?" tanya abangku yang entah sejak kapan ia berada di sampingku.
"Sejak kapan lo ada disini?"
"Baru aja. Gimana, lo ada kerjaan gak?"
"Buanyak, sibuk banget gue. Napa? Lo mo bantuin, silahkan. Nih!" Kataku sambil membanting Toefl ku yang cukup berat bahkan mampu membuat anjing yang terkena lemparannya pingsan di tempat.
"Au, sarap lo. Ni buku berat tau gak.!"
"Tau lah, kalo gak, gue naronya pelan kali..." dia menoyor kepalaku.
"Hiih, gak sopan banget sih lo, gue laporin mama ni lo maenan kepala gue. Mam...." Ia membekapku cepat.
"Rese lo. jangan lah... Eh, lo mau bantuin gue gak? Nanti gue kasi komisinya."
"Ngapain?" dia berbisik padaku. Aku yang mendengarnya hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Mau ya..."
"He'em.." Aku berdeham.
"Terima kasih adek ku yang cantik, manis, rajin menabung, kaya, banyak duit dan tidak sombong... gue tunggu besok ya. Jangan lama-lama..." Teriaknya dan menutup pintuku keras.
@ Kantin sekolah
"gimana hubungan lo sama Andra?" tanya Yukie disela-sela kunyahannya.
"It's fine, why?"
"gue kira udah ada perkembangan ampe jadian, ternyata, 'nothing specialy' ya, payah tu Andra."
payah gimana maksud lo,Yuk?" tanya Nisya tak mengerti.
"Payah lah, masa' udah hampir sebulan dia gak bisa bikin sohib kita ini terpesona sih?!"
"Dia tuh gak payah,Yuk. Tapi, Vionya aja yang kelewat cuek dan gak peduli. Ya gak, Vi?"
"Rese lo, gue gak cuek tau..."Protesku.
"Apa dong namanya? Dingin? sama aja kalii, atau jangan-jangan lo masih nunggu Rangga?" Duga Nisya.
"Gak tuh, gue udah seratus persen lupa ama tu anak. Tapi gue emang gak ada pikiran buat pacaran sama Andra. Dia udah gue anggep abang gue sendiri."
"Elo kan udah punya kakak,"
"kakak gue yang asli sarap. Males gue."
"Hahaha, asem lo, kakak sendiri lo katain sarap." semua tertawa. Tapi terputus, karena dering handphoneku.
Just say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
lagu Go Away milik girlband korea, 2NE1, mengalun. Nama Andra tertera di layar ponselku.
"Halo, ada apa, An?"
"Oh, gak ada apa-apa, uhm, lo malem minggu besok ada acara gak?"
"Malming? gak ada, emang kenapa?"
"Bisa ketemuan gak?"
"Ok, gue usahain deh, bye."
Klik, ponsel kututup.
"Kenapa Vi?"
"Gak, si Andra ngajak ketemuan malming besok. Tumbenan banget tau gak, biasanya dateng semaunya, pergi juga semaunya."
"Wuah, jangan-jangan dia mau nembak elo lagi."
"Gak ngarep deh gue." Kamipun beranjak ke kelas.
------------------------------------------------------------Malam minggu di Cafe The Ivy.-------------------------------------------------
Setengah jam berlalu, tapi Andra belum juga angkat bicara. Demi Tuhan, aku mulai bosan sekarang. Atas unsur ketidaksabaran yang sudah melanda ku sejak tadi.
"Katanya mau ngomong, kenapa diem aja. Gue bosen nih." Ujarku dongkol.
"Maaf, tapi gue bingung mau mulai darimana." Aku melengos,
"Udah deh, ngomongnya besok aja kalo gitu, gue ngantuk. Bisa anter gue pulang sekarang?" Andra terlihat sedikit ragu, namun akhirnya menuruti permintaanku.
"Oke," Ia menggandeng tanganku pergi dari cafe itu.
----------------------------------------------------------------------------------Kamarku------------------------------------------------------------
"Jangan-jangan bener lagi katanya anak-anak kalo si Andra mau nembak gue. Omigod..." Aku memekik histeris. "Gue harus kasi tau anak-anak." Buru-buru aku mengambil Ipad ku yang dari tadi hanya bertengger manis di meja belajarku.
guys, kayaknya perkiraan kalian soal si Andra mo nembak gw bener deh.
'DELIVERED'
Just say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
Detik berikutnya lagu Go Away mengalun dari Ipad ku.
"Serius lo, Vi?" jerit Yukie histeris.
"Owh, setan lu emang. Salam dulu kek, paling kagak pelanin dikit napa suara lo."
"Hehehe, maap maap, jadi bener dugaan kita? Dia nembak elo?"
"Baru kayaknya Yukie... gue baru ngerasa dari gelagatnya doang..."
"Yah, gue kira beneran. ya udah deh, cerita besok aja di sekolah, pulsa gue sekarat nih, Bye..."
Klik. telpon terputus.
"Rese ni anak." aku nyaris membanting Ipadku jika tidak mengingat bahwa Ipad ini adalah hasil jerih payah ku bekerja menjadi member Shopie Martin yang harus bolak-balik gak jelas demi mencari orderan.
"Vio, lo ada kerjaan gak?" tanya abangku yang entah sejak kapan ia berada di sampingku.
"Sejak kapan lo ada disini?"
"Baru aja. Gimana, lo ada kerjaan gak?"
"Buanyak, sibuk banget gue. Napa? Lo mo bantuin, silahkan. Nih!" Kataku sambil membanting Toefl ku yang cukup berat bahkan mampu membuat anjing yang terkena lemparannya pingsan di tempat.
"Au, sarap lo. Ni buku berat tau gak.!"
"Tau lah, kalo gak, gue naronya pelan kali..." dia menoyor kepalaku.
"Hiih, gak sopan banget sih lo, gue laporin mama ni lo maenan kepala gue. Mam...." Ia membekapku cepat.
"Rese lo. jangan lah... Eh, lo mau bantuin gue gak? Nanti gue kasi komisinya."
"Ngapain?" dia berbisik padaku. Aku yang mendengarnya hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Mau ya..."
"He'em.." Aku berdeham.
"Terima kasih adek ku yang cantik, manis, rajin menabung, kaya, banyak duit dan tidak sombong... gue tunggu besok ya. Jangan lama-lama..." Teriaknya dan menutup pintuku keras.
Selasa, 15 Mei 2012
Best Friend Forever
me with friend @ my school EINSMAM 1
mungkin, cinta sulit untuk dicari, tapi lebih sulit lagi saat kita mencoba untuk mencari sahabat. :)
mungkin, cinta sulit untuk dicari, tapi lebih sulit lagi saat kita mencoba untuk mencari sahabat. :)
Mengejar Bayangan Bab 1
Mengejar Bayangan
Aku kehilangan, semenjak ia putuskan tuk pergi ke negeri seberang. Hampir tiap saat ku mnangis, berteriak frustasi, namun ia tak juga kmbli. Ia pergi, tinggalkan satu janji, yang entah kapan akan ia tepati. Merasa digantung, tapi hati ini tetap setia menanti, hingga ia datang tepati janjinya yang pernah terucap.
Lagi, & lagi,ku teringat tentangnya. Dan untuk entah ke berapa kalinya aku melamun.
"Heh, elo kenapa, Vi?" tegur salah seorang sahabatku, Yukie. Aku terkesiap. "Ehm, gw gapapa kok!!"
"Elo mikirin Rangga lagi?" kali ini suara Irish.
"Udah deh, Vi, buat apa lo mikirin orang yang belum tentu mikirin elo. Gak ada untungnya, rugi iya." celetuk Yukie lagi. aku hanya menunduk pasrah. Karena semua terlalu sulit untuk dilupakan.
"Hems, gak tau deh. Gue bingung."
"Viola, elo harus bisa ngelupain Rangga. Lagian, belum tentu juga dia nepatin janjinya." kini Fany yang bersuara. Lagi lagi aku hanya bisa terdiam. Mereka benar, aku gak boleh begini terus. Tapi...
"Vio, bengong lagi lo!! Hemm, gue tau, bayangan lo pasti lagi galau, ya,kan?!" Yukie mengagetkanku.
"Hemh, elo bener, jujur ajj, gue msih yakin dy bakal balik. Masa' mau gue khianatin?"
"Ah, udah deh! Debat mulu kalian nieh. Balik yuk. Entar keburu malem." Celetuk Irish yang sedari tadi sudah bolak balik ngelirik jam di tangannya.
"Bilang aja lo mau nge-date ama gebetan baru lo. Iya, kan?!" serbu Yukie dan Fany. Yang didemo cuma senyum-senyum malu.
"Kok... udah deh, balik yuk!" Paksa Irish. Dan, kami pun keluar dari cafe itu.
@ My Bedroom
"Apa harus gue ngelepas elo? Heh, bebek jelek. Jawab dong. Apa harus gue ngelepas elo?? Ahh, gatau deh, gue bingung. gumamku. Tanpa sadar aku berteriak geram, dan membuat semua penghuni rumahku datang dan menggedor-gedor pintu kamarku.
"Viola, kenapa sayang??" teriak Mama
"Heh, Yoyo jelek. lo gak papa kan??" kali ini teriakan kakakku Darwin.
"Vio, ada apa sih??"
"Non Vio gak apa-apa, kan?" Spontan aku berteriak "Gak, Vio gak papa kok... cuma refleks gara-gara baca novel doang." sesaat kemudian, terdengar gerutuan gak jelas dari balik pintu dan perlahan menghilang seiring langkah kaki yang menjauh.
Ya Tuhan, knp hrus ssulit ini? Rangga... knp susah bgt mnjauh sjnak dr elo? Gw uga pngen sndri, Ga! Tanpa sadar, tetes bening jatuh dari pelupuk mata qw.
"Nih." aku tersentak melihat sebuah sapu tangan terjulur ke arahku. "Pake aja." Ragu, aku menerima sapu tangan milik cowok disampingku.
"Makasih, "
"Elo kenapa nangis? Ada masalah?" Aku terdiam, merasa tidak ada jawaban dariku, ia mengalihkan alur pembicaraan ini.
"Gw Andra, lo siapa?"
"Viola, btw, kayaknya gw bru ajj deh netesin air mata!" Dia tersenyum tipis.
"Bukan baru, Vi. Dari gw dateng, udah keliatan dari jauh mata lo berkaca-kaca gitu."
"Ooh,,,"
@ My Bedroom (lagi!)
Sejenak fikiranku tentang Rangga lenyap. Berganti dengan siluet bayangan cwo yang bernama Andra tadi. Dan saat itu, aku tersadar. Sesegera mungkin, aku mengetik sms untuk teman-temanku.
^ Guys, gw skrng gak lgi ngejar byngan. Gw nmuin 'something' yg bkin gw lpa sgl.a^
'DELIVERED'
Dan aku pun tersenyum puas.
Dan, esok harinya, semua terasa berbeda. Bahkan, mentari pun terasa berbeda, sinarnya terlihat lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
Hari ini, ku lalui penuh senyuman, tak lagi ada tatapan bingung nan galau. Untuk hari ini, dan mungkin... seterusnya.
"Ciyee, yang berbunga-bunga... jadi, udah ganti cerita nih ya..." Goda Yukie. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum & tersenyum. Aku merasa semua begitu indah & menarik hari ini.
"Gak ada yang berganti kok. Yang ada, tukar posisi." Sahutku. Teman-temanku melongo.
"Tuker posisi gimana maksud lo?"
"Ya, tuker posisi, yang dulu jadi harapan, yang sekarang jadi kenyataan."
"kok bisa?" Tanya Yukie bingung.
"iya, dulu kan gw selalu berharap punya 'someone' yang bisa ngelupain kenyataan, yang gw maksud kenyataan itu adalah Rangga."
"masih gak ngerti gw."
"Rangga itu kan kenyataan, dia nyata dalam hidup gw, hati gw, & jiwa gw. Dan perginya dia juga kenyataan yang harus gw terima walau sakit."
"teruus?"
"'someone' itu harapan, gw selalu berharap, siapa pun orangnya, dia bisa ngalihkan perhatian gw sejenak dari Rangga. dan sekarang, harapan itu jadi kenyataan, gw punya orang yang bisa ngalihin perhatian gw sepenuhnya." Jelas ku panjang lebar.
Benar-benar kenyataan yang indah
Aku kehilangan, semenjak ia putuskan tuk pergi ke negeri seberang. Hampir tiap saat ku mnangis, berteriak frustasi, namun ia tak juga kmbli. Ia pergi, tinggalkan satu janji, yang entah kapan akan ia tepati. Merasa digantung, tapi hati ini tetap setia menanti, hingga ia datang tepati janjinya yang pernah terucap.
Lagi, & lagi,ku teringat tentangnya. Dan untuk entah ke berapa kalinya aku melamun.
"Heh, elo kenapa, Vi?" tegur salah seorang sahabatku, Yukie. Aku terkesiap. "Ehm, gw gapapa kok!!"
"Elo mikirin Rangga lagi?" kali ini suara Irish.
"Udah deh, Vi, buat apa lo mikirin orang yang belum tentu mikirin elo. Gak ada untungnya, rugi iya." celetuk Yukie lagi. aku hanya menunduk pasrah. Karena semua terlalu sulit untuk dilupakan.
"Hems, gak tau deh. Gue bingung."
"Viola, elo harus bisa ngelupain Rangga. Lagian, belum tentu juga dia nepatin janjinya." kini Fany yang bersuara. Lagi lagi aku hanya bisa terdiam. Mereka benar, aku gak boleh begini terus. Tapi...
"Vio, bengong lagi lo!! Hemm, gue tau, bayangan lo pasti lagi galau, ya,kan?!" Yukie mengagetkanku.
"Hemh, elo bener, jujur ajj, gue msih yakin dy bakal balik. Masa' mau gue khianatin?"
"Ah, udah deh! Debat mulu kalian nieh. Balik yuk. Entar keburu malem." Celetuk Irish yang sedari tadi sudah bolak balik ngelirik jam di tangannya.
"Bilang aja lo mau nge-date ama gebetan baru lo. Iya, kan?!" serbu Yukie dan Fany. Yang didemo cuma senyum-senyum malu.
"Kok... udah deh, balik yuk!" Paksa Irish. Dan, kami pun keluar dari cafe itu.
@ My Bedroom
"Apa harus gue ngelepas elo? Heh, bebek jelek. Jawab dong. Apa harus gue ngelepas elo?? Ahh, gatau deh, gue bingung. gumamku. Tanpa sadar aku berteriak geram, dan membuat semua penghuni rumahku datang dan menggedor-gedor pintu kamarku.
"Viola, kenapa sayang??" teriak Mama
"Heh, Yoyo jelek. lo gak papa kan??" kali ini teriakan kakakku Darwin.
"Vio, ada apa sih??"
"Non Vio gak apa-apa, kan?" Spontan aku berteriak "Gak, Vio gak papa kok... cuma refleks gara-gara baca novel doang." sesaat kemudian, terdengar gerutuan gak jelas dari balik pintu dan perlahan menghilang seiring langkah kaki yang menjauh.
Ya Tuhan, knp hrus ssulit ini? Rangga... knp susah bgt mnjauh sjnak dr elo? Gw uga pngen sndri, Ga! Tanpa sadar, tetes bening jatuh dari pelupuk mata qw.
"Nih." aku tersentak melihat sebuah sapu tangan terjulur ke arahku. "Pake aja." Ragu, aku menerima sapu tangan milik cowok disampingku.
"Makasih, "
"Elo kenapa nangis? Ada masalah?" Aku terdiam, merasa tidak ada jawaban dariku, ia mengalihkan alur pembicaraan ini.
"Gw Andra, lo siapa?"
"Viola, btw, kayaknya gw bru ajj deh netesin air mata!" Dia tersenyum tipis.
"Bukan baru, Vi. Dari gw dateng, udah keliatan dari jauh mata lo berkaca-kaca gitu."
"Ooh,,,"
@ My Bedroom (lagi!)
Sejenak fikiranku tentang Rangga lenyap. Berganti dengan siluet bayangan cwo yang bernama Andra tadi. Dan saat itu, aku tersadar. Sesegera mungkin, aku mengetik sms untuk teman-temanku.
^ Guys, gw skrng gak lgi ngejar byngan. Gw nmuin 'something' yg bkin gw lpa sgl.a^
'DELIVERED'
Dan aku pun tersenyum puas.
Dan, esok harinya, semua terasa berbeda. Bahkan, mentari pun terasa berbeda, sinarnya terlihat lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
Hari ini, ku lalui penuh senyuman, tak lagi ada tatapan bingung nan galau. Untuk hari ini, dan mungkin... seterusnya.
"Ciyee, yang berbunga-bunga... jadi, udah ganti cerita nih ya..." Goda Yukie. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum & tersenyum. Aku merasa semua begitu indah & menarik hari ini.
"Gak ada yang berganti kok. Yang ada, tukar posisi." Sahutku. Teman-temanku melongo.
"Tuker posisi gimana maksud lo?"
"Ya, tuker posisi, yang dulu jadi harapan, yang sekarang jadi kenyataan."
"kok bisa?" Tanya Yukie bingung.
"iya, dulu kan gw selalu berharap punya 'someone' yang bisa ngelupain kenyataan, yang gw maksud kenyataan itu adalah Rangga."
"masih gak ngerti gw."
"Rangga itu kan kenyataan, dia nyata dalam hidup gw, hati gw, & jiwa gw. Dan perginya dia juga kenyataan yang harus gw terima walau sakit."
"teruus?"
"'someone' itu harapan, gw selalu berharap, siapa pun orangnya, dia bisa ngalihkan perhatian gw sejenak dari Rangga. dan sekarang, harapan itu jadi kenyataan, gw punya orang yang bisa ngalihin perhatian gw sepenuhnya." Jelas ku panjang lebar.
Benar-benar kenyataan yang indah
Langganan:
Postingan (Atom)


