Peri Kesepian
Diam termangu,
dalam hening yang mendekap erat. Seakan tak mengizinkan peri kecil itu
menggenggam bahagia. Mentari mulai turun, hasilkan sinar jingga kemerahan.
Indah, tapi tetap tak bisa mendamaikan hati si peri kecil yang kesepian. Karena
ia, benar-benar hidup dalam kesendirian. Masih dalam sunyi, ia mulai memainkan
jemarinya diatas salah satu kertas dalam buku yang ia bawa. Menuliskan bait
demi bait kata yang ia temukan dalam imajinasinya.
Helaan nafas
beratnya merobek keheningan yang memekat. Ia menutup buku itu, mengapitnya
dalam pelukan kemudian terbang menuju salah satu pantai.
Aroma laut
menyeruak indera penciumannya. Deburan ombak menghantam karang, menghempaskan
apa-apa yang dibawanya. Si peri kecil duduk disalah satu tebing. Matanya menerawang
jauh, memandang langit yang mulai menggelap, dan mulai ditaburi
bintang-bintang. Detik berikutnya jemarinya kembali menari di atas kertas yang
ia lakukan berulang kali hingga bosan menghampirinya.
Malam mulai
larut. Laut mulai menghembuskan anginnya dengan keras. Namun, ia masih duduk
terpaku dengan tatapan hampa. Terlihat jelas dari matanya bahwa ia sedang
menanggung beban berat. Ia tertekan. Ia butuh seseorang untuk mencurahkan
setidaknya secuil dari bebannya.
Matanya sayut,
dengan tatapan sendu nan hampa. Detik berikutnya tetes demi tetes air matanya
jatuh. Mengalir deras. Menganak sungai dipipinya. Nafasnya mulai tersengal
karena tangis yang tak kunjung reda. Ditariknya nafas panjang, mencoba
membangun benteng-benteng ketegaran yang sempat runtuh. Ia mencoba menerima
keadaan dengan lapang dada. Menghapus semua bayang-bayang malam. Menerima
kenyataan bahwa ia terkucilkan, bahwa ia sendirian, bahwa ia kesepian. Dan
mencoba percaya bahwa suatu saat, bahagia dalam genggamannya.
THE
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar