Park Chan Mi
POV.
Dia tak berubah. Sama
sekali tak ada yang berubah. Ia masih tetap seperti Kyu Hyun
yang dulu. Bahkan setelah aku meninggalkannya, ia tetap seperti dulu.
Tetap mencintaiku. Membuatku menjadi merasa bersalah karena telah menyakitinya
dengan perselingkuhan sandiwara ini. Aku tak tau apa yang membuatnya bertahan,
tapi aku harap, alasannya bukan aku. Bukan tentangku, dan bukan karenaku.
Karena jika iya, itu akan membuatku semakin merasa bersalah dan frustasi. Tapi,
ini keputusanku, aku tidak bisa mengubahnya. Ya, meninggalkannya dan membuatnya
benci padaku adalah keinginanku.
Cho Kyu Hyun POV.
Aku melihatnya lagi.
Kali ini ia tampak kurus dan muram. Apa lelaki itu tak menjaganya? Apa lelaki
itu menyakitinya? Apa dia membuat ChanMi-ku menangis? Jika iya, aku bersumpah
pada diriku akan menghajarnya hingga ia mati.
Tapi jika tidak, apa yang membuat ChanMi muram? Apa ia… merindukanku?
Hhh, mana mungkin ia merindukanku. Ia sudah bahagia dengan selingkuhannya itu.
ehm, maksudku kekasihnya sekarang.
“Hei, sudah berapa kali
aku melihatmu sedang menatapnya, hmm?” Ujar Changmin dengan tepukan ringan
dibahuku. Aku hanya bisa meringis malu. Karena aku sendiri sadar, aku tak bisa
hidup tanpa gadis itu. Aku tak lain dengan mayat hidup tanpa ChanMi disisiku.
“Yah, kau tahulah, aku
tanpanya hanya butiran debu.” Changmin terbahak, begitu juga dengan Yo Seob dan Seungri.
“Sejak kapan kau
menjelma menjadi penyanyi, eo?? Hahaha, aku tak habis fikir.” Aku melengos
kesal. Dasar, tak setia kawan. Mereka tidak tahu yang kurasakan sekarang. Huh,
awas saja kalau sampai mereka juga ditinggal oleh kekasihnya.
“Sudahlah, Kyu. Kau tak
usah menggerutu seperti itu. aku bisa membaca isi pikiranmu. Dan aku berani
bertaruh, hal itu tidak akan terjadi pada kami. Hahaha.”
“Aish, kalian
benar-benar tidak setia kawan. Sudahlah, aku mau pulang saja kalau begitu.” Aku
beranjak meninggalkan bangku dan menuju parkiran.
“Ya!! Kyu Hyun kau mau
kemana? Siapa yang akan membayar ini??” Teriak Seungri. Aku mengibaskan tangan
tak peduli.
“Kau bayar saja
sendiri.”
“Yaa!! Evil… awas kau.”
***
Author POV.
Kedua orang itu,
sama-sama egois. Membiarkan dirinya tersiksa tanpa mau tahu bahwa sebenarnya ia
juga menyiksa orang lain. Tanpa mau tahu dengan sesuatu yang disebut keajaiban.
Tanpa mau tahu dengan apa yang akan terjadi nanti.
Seoul
International Hospital
Gadis itu, ChanMi,
memasuki sebuah ruangan dengan tulisan “Dr. Park Jung Soo.” dengan santai tanpa
sadar bahwa seseorang sedang mengawasinya dari jauh.
“Annyeong haseyo, Oppa. Uhm, maksudku, Uisa. J”
ChanMi tersenyum manis pada lelaki dihadapannya.
“Annyeong, ChanMi-ya. Bagaimana keadaanmu? Jauh lebih baik?” Dr.
Park tersenyum menyambutnya.
“Hhh, tidak begitu
baik, oppa. Semakin aku menjauh,
malah membuatku tak bisa hidup dengan baik.”
“Huft, inilah yang aku
takutkan, saeng~i. berbaikanlah
dengan Kyu Hyun, aku tak mau kau semakin sakit.” ChanMi menggeleng lemah.
“Anio, oppa. Ini keputusanku. Hanya dengan cara ini untuk membuatnya
membenciku.”
“Kenapa kau ingin ia
membencimu? Karena pernyakitmu?” ChanMi mengangguk lemah.
“Itu tidak ada
hubungannya dengan kisah percintaan kalian.” ChanMi mulai terisak, ia
menggeleng pelan.
“Tidak oppa, aku tidak ingin merepotkannya. Aku
sudah terlalu menghambat langkahnya dalam mewujudkan impiannya. Aku hanya ingin
ia bahagia, karena selama ini aku belum pernah membuatnya bahagia. L”
“Hhh, sudahlah kalau
itu maumu. Oppa hanya bisa membantumu
sembuh dan mendo’akanmu, saeng~i.”
Jung Soo menatap jam yang melingkar pada pergelangannya kemudian beranjak dari
duduknya.
“Sudah jam makan siang,
kajja kita makan. Obrolan berat ini
membuat oppa kelaparan. Haha.” Gadis
itu membenahi penampilannya sejenak kemudian tersenyum menyambut ajakan
kakaknya.
“Kau akan mengajak Sung
Min?”
“Tentu saja, dia kan namjachingu-ku. J” Jung Soo tersenyum tipis, lalu
mengusap rambut adiknya lembut.
“Kau ini, niat sekali
ternyata. Ya sudah, hubungi Sung Min sekarang, dan ajak ia bertemu di … uhm,
kau mau makan siang dimana?”
“Bagaimana kalau di
restaurant milik teman oppa yang
berada di kawasan Apgeujong itu…”
“Hei, kita ini akan
makan siang, bukan sarapan. Restaurant milik Yesung itu Coffee Shop, saeng~i… “
“Aish, bukan milik
Yesung oppa, tapi milik Wookie oppa. Aku ingin makan jjangmyeon buatannya.” Jung Soo menepuk kepalanya.
“Aigooo, kau ini. Itu
sama saja kita menumpang makan di rumahnya, ChanMi. Restaurant miliknya bukan
di Apgeujong, tapi di Gangnam. Baiklah, biarku telepon dia dulu. Kalau-kalau ia
tidak di rumahnya, kita bisa ketempat lain dengan cepat.”
“Yoboseyo, annyeong wookie-ah, apa kau ada di rumah? . . . Oh
begitu, kebetulan sekali, kami akan kesana sekarang :D. . . . ini kerjaan ChanMi
yang sangat merepotkan. Ok, kita bertemu
dirumahmu. Lima belas menit lagi aku sampai. Annyeong.”
“Bagaimana oppa? Apa
Ryeo Wook oppa ada di rumahnya?”
“Yah, sepertinya ini
hari keberuntunganmu. Kajja, kita harus sampai lima belas menit lagi. jika
tidak jjangmyeon-mu keburu dingin. Ka! Telepon Sung Min, kita bertemu di rumah
Ryeo Wook.” Gadis itu mengangguk senang, dan dengan cepat menekan dial speed 3,
menghubungi Sung Min secepat mungkin agar ia bisa menikmati jjangmyeon kesukaannya dengan cepat
pula.
***
Cho Kyu Hyun POV.
Hfft, dia benar-benar
sudah melupakanku. Baiklah, jika itu membuatnya bahagia. Aku akan bertahan
walau aku sadar, aku bukan apa-apa tanpanya. : ‘ )
Hwaiting Kyu Hyun, ia
bisa bahagia aku pasti juga bisa.
From : Yo Seob
Kau ada dimana? Aku
punya berita. Aku tadi melihat ChanMi berada di Apgeujong bersama Sung Min.
Kau tidak mau
melihatnya?
To : Yo Seob
Aniyo
hyong, aku sudah melepaskannya. Dia sudah bahagia bersama
Sung Min-ssi. Aku tidak akan mengganggunya. ‾⌣‾
Aku menekan tombol send sambil menahan tangis. Tidak. Aku
tidak boleh menangis. Ini keputusanku. Tapi…. Omoo~ ini terlalu sakit. Hfft,
oke Kyu Hyun. Kau juga harus bahagia seperti ChanMi.
Drrt… sebuah balasan lagi dari Yo Seob,
From : Yo Seob
Ooh begitu. Baiklah jika itu maumu. Kami hanya bisa
mendukung dari belakang. Hwaiting Kyu
(˘-˘)ง
Aku tersenyum sekilas
membacanya. Ya, satu alasan lagi agar aku bisa bertahan. Aku tidak sendirian.
Masih ada mereka yang menyemangatiku. Aku mengetik balasan dengan cepat.
To : Yo Seob
Gomawo
hyong J.
***
Park Chan Mi POV.
“Humm, neomu mashita, oppa. ˘ڡ˘.” Ujarku disela-sela kunyahan jjangmyeon ini. Ryeo Wook oppa
benar-benar pintar. Semua bahan mentah ditangannya bisa menjadi makanan yang
sangat enak dan terlihat cantik. Dari dulu aku selalu ingin sepertinya. Jago
masak. Aku ingin memasakkan makanan enak dan tak terlupakan untuk suamiku
nanti. Yah, walau aku sendiri tak tahu aku bisa bertahan sampai kapan. Tapi
setiap wanita pasti punya keinginan seperti itu, kan. Wajar saja jika aku
menginginkannya.
“Habiskan dulu makanan di mulutmu itu baru bicara. Kau ini,
seperti oppa tidak pernah mengajarkanmu cara makan saja. Benar-benar memalukan.”
Ujar oppa-ku galak. Aku hanya melengos.
“Oppa kan memang tidak pernah mengajariku, yang mengajariku
kan eomma. Wlee :P.”
“Ya!! Dongsaeng
kurang ajar. Sung Min, kau apakan adikku hingga ia jadi seperti itu, eo?!”
“Haha, bukan aku hyong,
tanyakan saja pada Kyu Hyun. Dia, kan evil :D.”
Oh ouh… Sung Min oppa, nae
namjachingu, kau ini babo atau
apa sih? Lagi lagi mengingatkanku padanya. Huh. ‾_‾.
PLETAK. “Sung Min… nega
neomu babo-ya!” Jung Soo oppa menjitaknya gemas. Haha. Memang enak :P.
“Ouch, appo-yo, hyong.
Kau ini tega sekali pada namja imut
sepertiku, eoh? Benar-benar tidak punya perasaan. >_<. Bagaimana jika
keimutanku hilang? Apa kau mau tanggung jawab, huh.”
“Haha, kau ini narsis sekali, Sung Min-ah. Apa kau tidak
malu ditertawakan ChanMi sejak tadi, hum? Kau juga hyong, sudah tua juga, aish, memalukan. Aku menyesal punya teman
seperti kalian.” Ujar Ryeo Wook oppa sambil memasang kuda-kuda untuk menghindar
sebelum kedua namja di depanku ini
menjitaknya.
“YA!! WOOKIE-YA. KAU CARI MATI, EO?!” teriak mereka berdua
berbarengan. Aku tergelak melihat mereka. Kalau begini mereka tidak ada
bedanya, sama-sama kekanakkan. Haha.
“Omoo~ kalian!!” Mendadak ruangan menjadi sunyi, aku menoleh
ke sumber suara yang ternyata Hyo Rin eonni
berdiri tepat di depan mereka yang sejak tadi hanya saling menjitak.
“Kalian ini sedang makan, jangan seperti anak kecil
berlarian begitu. Apa kalian tidak sadar kalau kalian itu sudah tua. Kalian
seharusnya mengajarkan hal baik pada ChanMi-ya, bukannya malah bertengkar
seperti anak kecil.”
“Aish~, noona ini
cerewet sekali.” Gerutu Ryeo Wook oppa,
dan hasilnya ia dapat satu jitakan dari Hyo Rin eonni.
PLETAK. “Ouch… appo-yo
noona.”
“Diam atau kau kupukul lagi.” Hyo Rin eonni menatap Ryeo Wook oppa
garang.
“Eung, sudahlah eonni, sebaiknya kita makan sekarang.
Kasihan Ryeo Wook oppa dari tadi kau
marahi terus.”
“Ha!! Lihat, ChanMi saja mengerti.” Seru Ryeo Wook oppa.
“Kau benar-benar yeodongsaeng yang pengertian, eo?! Pantas
saja SungMin betah bersamamu. Ah, aku jadi iri padanya. Ya! SungMin-ah,
bagaimana jika kita bertukar gadis?”
“”Mwo? Bertukar
gadis? Maksudnya?”
“Yeojachingu-mu
untukku, aku akan memberikanmu noona-ku
yang cerewet ini secara cuma-cuma :D”
“Yaa!!! ANDWAE!!”
Aigoo~ lagi-lagi mereka bertengkar -_-.
***
Cho Kyu Hyun POV.
Aku sudah
menjauh. Tapi, aku sadar, aku bukan apa-apa tanpamu. Aku tau aku salah. Tapi,
maukah kamu memaafkanku? Tahukah kau? Seperti pasang, hatiku hancur. Seperti
angin, hatiku berguncang. Seperti asap, cintaku memudar. Dan segala terlalu
sulit untuk kuhapus. Aku mendesah dan tanah berguncang. Hatiku penuh debu.
Sadarkah
kamu, aku disini merindukanmu. Aku menangis dalam sepi saat tak kutemukan
jawaban darimu. Dari sini aku hanya bisa menatapmu. Dan saat mata kita
bertumpu, kau langsung memalingkan wajahmu. Tidakkah kau tahu, saat kau begitu
aku disini menahan sakit sendiri. Sendiri di malam hari, kuhapus pikiranku
seratus kali. Hari demi hari terlewati begitu saja.
KYU
Aku menghela nafas berat. Sudah sebulan terlewati
sejak keputusanku untuk menjauhinya. Tapi apa? Yang kudapat aku malah semakin
kehilangan, semakin sakit dengan kenyataan ini.
Drrt… drrt…
Incoming call ~ SeungRi
Aish, apa lagi sekarang?
“Yoboseyo.”
“Yoboseyo,
Kyu. Gawat! ChanMi kritis. Leukimia yang dideritanya sudah mencapai stadium
akhir, dan sampai sekarang kita belum mendapatkan donor tulang sumsum. Eottokhae?”
“Mwo??
Bagaimana bisa? Aish~. Aku akan kesana sekarang. Neon eodiss-eo?”
“Aku bersama yang lain di SEOUL INTERNATIONAL
HOSPITAL, ruang ICU. Ppaliwa, eo?
Kami sudah kehabisan akal.”
“Nde.
Delapan menit lagi aku sampai.”
Tuut.. Oh God. Bagaimana bisa aku tidak tahu soal
ini?! Aish~ neomu babo-ya.
***
Author POV.
Kyu Hyun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mencoba untuk tidak terlambat di saat darurat seperti ini. Sesampainya disana ia
langsung menuju ICU yang berada di lantai 3.
“ChanMi! Eottokhaeyo??
Apa kalian sudah menemukan pendonor??” SeungRi menggeleng lemah.
“Belum. Entah kenapa, malah di saat seperti ini
mencari pendonor itu sangat sulit.”
“Argh. Siapa dokternya? Biar aku saja yang
mendonorkan tulang sum-sumku.”
“Ini tidak semudah yang kau kira, Kyu. Prosesnya
sulit dan panjang. Belum lagi jika tidak ada kecocokan sama sekali. Bukan hanya
kau yang kehilangan nyawa, tapi ChanMi pun juga.” Ujar Yo Seob.
“Aish~, tidak ada cara lain selain mencobanya, hyong.”
“Aniyo.
Sekali aku bilang tidak. Ya tidak. Lebih baik kau menurut dan mencoba untuk
menghubungi kenalanmu yang bersedia mendonorkan sum-sumnya.”
“Tapi, hyong…”
“Duduk atau sekarang juga kau pulang untuk
menenangkan dirimu.” Ujar Yo Seob yang disambut lirikan tajam dari Kyu Hyun.
“Kau benar-benar tidak punya perasaan, hyong. Di saat seperti ini kau masih
bisa tenang, sedangkan nyawa ChanMi yang jadi taruhannya. Kau benar-benar . . .
“
“Aku mendapatkan pendonor.” Seru SungMin senang
disela-sela nafasnya yang tersengal.
“Jinjja?”
Kyu Hyun menatap SungMin tak percaya. SungMin hanya mengangguk.
“Hyong,
kau dengar? Kita dapat pendonor.”
“Tenanglah, Kyu. Lebih baik kau berdo’a agar
operasi ini berhasil.”
“Baiklah… eh, SungMin-ssi. Gomawo karena sudah menyelamatkan ChanMi.” SungMin tersenyum
tipis.
***
One year
later ….
Cho Kyu Hyun POV.
Hhh, akhirnya, ia kembali padaku. Setelah
operasinya, aku mengetahui semuanya. Ia sengaja minta bantuan SungMin untuk
membuatku benci padanya. Awalnya aku tak mengerti mengapa ia melakukan itu,
tapi saat semua terungkap, ia bilang hanya ingin membahagiakanku. Ia tak mau
melihatku menangis saat ia pergi. Pemikiran yang dangkal, bukan? Bahkan itu
adalah gagasan terBURUK yang pernah kudengar.
Aku tak mengerti jalan pikirannya, dia hanya
mementingkan kebahagiaanku, tanpa peduli keadaannya. Padahal karena
keputusannya itu ia lebih terpuruk daripada saat ia mengetahui ia mengidap
penyakit sialan itu. Ah, sudahlah. Yang penting sekarang ia sudah kembali
padaku, dan selamanya akan jadi milikku. Hhh, aku jadi ingin cepat-cepat
mengubah marga “Park” pada namanya menjadi marga “Cho”. Cho Chan Mi, terdengar
lebih bagus, kan. Haha :D.
“Ceritakan hari-harimu, oppa. Jebal.”
“Aniyo.
Itu masa lalu yang pahit, chagi. Aku tak ingin mengingatnya.”
“Tapi bagiku, itu masa lalu yang indah. Aku
merasa jadi gadis yang paling beruntung karena bisa jadi yeojachingu-nya SungMin oppa.
Dia sangat baik, kau tahu.”
“Ani.
Aku tak tahu dan tak mau tahu.”
“Eh, waeyo?
Dia itu orang yang baik, oppa.
Lagipula dia juga yang sudah menyelamatkan nyawaku. Tidak seperti yang hanya
bisa marah-marah pada Yo Seob oppa.
Padahal kau yang bo…”
CHU~
“Yaa!!! Seenaknya saja menciumku. Dasar nappeun namja. Kau menyebalkan.”
“Itu akibatnya karena kamu membicarakan namja lain saat sedang bersamaku.”
“Berarti jika kau tak ada aku boleh membicarakan
SungMin oppa? Woah, kau benar-benar
baik hati tuan Cho. :D”
“ANIYO!!
Dimana pun kau berada, dan dengan siapapun itu, kau hanya boleh menyebut nama
Tuhan dan namaku. Kalau sampai kau membicarakan SungMin lagi, aku tidak
segan-segan menarikmu ke altar saat itu juga.”
“Haha, sejak kapan kau jadi alim, oppa? Apa karena SungMin oppa? Hahaha :D”
“Ya!! Park ChanMi. Jangan menyebut namanya di
depanku.”
“Hahaha. Kau benar-benar menggemaskan, oppa.”
“Haha, tentu saja. Buktinya kau saja sampai
tergila-gila padaku. Haha.” Ujar KyuHyun bangga.
“Tcih~ pede sekali. Aku jadi I’ll feel padamu, oppa. Aku mau ke SungMin oppa saja. Bye.” Ujar ChanMi lalu
berlari secepat mungkin.
“Ya!! Park ChanMi. Jangan lari kau…”
END
Hayama Risa
Nb. Recommended song : Big Bang – Haru Haru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar