Translate / 翻訳する / 번역

Selasa, 15 Mei 2012

Mengejar Bayangan Bab 1

Mengejar Bayangan
Aku kehilangan, semenjak ia putuskan tuk pergi ke negeri seberang. Hampir tiap saat ku mnangis, berteriak frustasi, namun ia tak juga kmbli. Ia pergi, tinggalkan satu janji, yang entah kapan akan ia tepati. Merasa digantung, tapi hati ini tetap setia menanti, hingga ia datang tepati janjinya yang pernah terucap.
Lagi, & lagi,ku teringat tentangnya. Dan untuk entah ke berapa kalinya aku melamun.
"Heh, elo kenapa, Vi?" tegur salah seorang sahabatku, Yukie. Aku terkesiap. "Ehm, gw gapapa kok!!"
"Elo mikirin Rangga lagi?" kali ini suara Irish.
"Udah deh, Vi, buat apa lo mikirin orang yang belum tentu mikirin elo. Gak ada untungnya, rugi iya." celetuk Yukie lagi. aku hanya menunduk pasrah. Karena semua terlalu sulit untuk dilupakan.
"Hems, gak tau deh. Gue bingung."
"Viola, elo harus bisa ngelupain Rangga. Lagian, belum tentu juga dia nepatin janjinya." kini Fany yang bersuara. Lagi lagi aku hanya bisa terdiam. Mereka benar, aku gak boleh begini terus. Tapi...
"Vio, bengong lagi lo!! Hemm, gue tau, bayangan lo pasti lagi galau, ya,kan?!" Yukie mengagetkanku.
"Hemh, elo bener, jujur ajj, gue msih yakin dy bakal balik. Masa' mau gue khianatin?"
"Ah, udah deh! Debat mulu kalian nieh. Balik yuk. Entar keburu malem." Celetuk Irish yang sedari tadi sudah bolak balik ngelirik jam di tangannya.
"Bilang aja lo mau nge-date ama gebetan baru lo. Iya, kan?!" serbu Yukie dan Fany. Yang didemo cuma senyum-senyum malu.
"Kok... udah deh, balik yuk!" Paksa Irish. Dan, kami pun keluar dari cafe itu.
@ My Bedroom
"Apa harus gue ngelepas elo? Heh, bebek jelek. Jawab dong. Apa harus gue ngelepas elo?? Ahh, gatau deh, gue bingung. gumamku. Tanpa sadar aku berteriak geram, dan membuat semua penghuni rumahku datang dan menggedor-gedor pintu kamarku.
"Viola, kenapa sayang??" teriak Mama
"Heh, Yoyo jelek. lo gak papa kan??" kali ini teriakan kakakku Darwin.
"Vio, ada apa sih??"
"Non Vio gak apa-apa, kan?" Spontan aku berteriak "Gak, Vio gak papa kok... cuma refleks gara-gara baca novel doang." sesaat kemudian, terdengar gerutuan gak jelas dari balik pintu dan perlahan menghilang seiring langkah kaki yang menjauh.
Ya Tuhan, knp hrus ssulit ini? Rangga... knp susah bgt mnjauh sjnak dr elo? Gw uga pngen sndri, Ga! Tanpa sadar, tetes bening jatuh dari pelupuk mata qw.
"Nih." aku tersentak melihat sebuah sapu tangan terjulur ke arahku. "Pake aja." Ragu, aku menerima sapu tangan milik cowok disampingku.
"Makasih, "
"Elo kenapa nangis? Ada masalah?" Aku terdiam, merasa tidak ada jawaban dariku, ia mengalihkan alur pembicaraan ini.
"Gw Andra, lo siapa?"
"Viola, btw, kayaknya gw bru ajj deh netesin air mata!" Dia tersenyum tipis.
"Bukan baru, Vi. Dari gw dateng, udah keliatan dari jauh mata lo berkaca-kaca gitu."
"Ooh,,,"
@ My Bedroom (lagi!)
Sejenak fikiranku tentang Rangga lenyap. Berganti dengan siluet bayangan cwo yang bernama Andra tadi. Dan saat itu, aku tersadar. Sesegera mungkin, aku mengetik sms untuk teman-temanku.
^ Guys, gw skrng gak lgi ngejar byngan. Gw nmuin 'something' yg bkin gw lpa sgl.a^
'DELIVERED'
Dan aku pun tersenyum puas.
Dan, esok harinya, semua terasa berbeda. Bahkan, mentari pun terasa berbeda, sinarnya terlihat lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
Hari ini, ku lalui penuh senyuman, tak lagi ada tatapan bingung nan galau. Untuk hari ini, dan mungkin... seterusnya.
"Ciyee, yang berbunga-bunga... jadi, udah ganti cerita nih ya..." Goda Yukie. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum & tersenyum. Aku merasa semua begitu indah & menarik hari ini.
"Gak ada yang berganti kok. Yang ada, tukar posisi." Sahutku. Teman-temanku melongo.
"Tuker posisi gimana maksud lo?"
"Ya, tuker posisi, yang dulu jadi harapan, yang sekarang jadi kenyataan."
"kok bisa?" Tanya Yukie bingung.
"iya, dulu kan gw selalu berharap punya 'someone' yang bisa ngelupain kenyataan, yang gw maksud kenyataan itu adalah Rangga."
"masih gak ngerti gw."
"Rangga itu kan kenyataan, dia nyata dalam hidup gw, hati gw, & jiwa gw. Dan perginya dia juga kenyataan yang harus gw terima walau sakit."
"teruus?"
"'someone' itu harapan, gw selalu berharap, siapa pun orangnya, dia bisa ngalihkan perhatian gw sejenak dari Rangga. dan sekarang, harapan itu jadi kenyataan, gw punya orang yang bisa ngalihin perhatian gw sepenuhnya." Jelas ku panjang lebar.
Benar-benar kenyataan yang indah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar