Hari demi hari datang dalam diam, dan pergi tinggalkan keheningan. Hingga sebulan terlewati, dan aku, bahagia karena tak lagi hobi merenung memikirkan Rangga.
@ Kantin sekolah
"gimana hubungan lo sama Andra?" tanya Yukie disela-sela kunyahannya.
"It's fine, why?"
"gue kira udah ada perkembangan ampe jadian, ternyata, 'nothing specialy' ya, payah tu Andra."
payah gimana maksud lo,Yuk?" tanya Nisya tak mengerti.
"Payah lah, masa' udah hampir sebulan dia gak bisa bikin sohib kita ini terpesona sih?!"
"Dia tuh gak payah,Yuk. Tapi, Vionya aja yang kelewat cuek dan gak peduli. Ya gak, Vi?"
"Rese lo, gue gak cuek tau..."Protesku.
"Apa dong namanya? Dingin? sama aja kalii, atau jangan-jangan lo masih nunggu Rangga?" Duga Nisya.
"Gak tuh, gue udah seratus persen lupa ama tu anak. Tapi gue emang gak ada pikiran buat pacaran sama Andra. Dia udah gue anggep abang gue sendiri."
"Elo kan udah punya kakak,"
"kakak gue yang asli sarap. Males gue."
"Hahaha, asem lo, kakak sendiri lo katain sarap." semua tertawa. Tapi terputus, karena dering handphoneku.
Just
say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
lagu Go Away milik girlband korea, 2NE1, mengalun. Nama Andra tertera di layar ponselku.
"Halo, ada apa, An?"
"Oh, gak ada apa-apa, uhm, lo malem minggu besok ada acara gak?"
"Malming? gak ada, emang kenapa?"
"Bisa ketemuan gak?"
"Ok, gue usahain deh, bye."
Klik, ponsel kututup.
"Kenapa Vi?"
"Gak, si Andra ngajak ketemuan malming besok. Tumbenan banget tau gak, biasanya dateng semaunya, pergi juga semaunya."
"Wuah, jangan-jangan dia mau nembak elo lagi."
"Gak ngarep deh gue." Kamipun beranjak ke kelas.
------------------------------------------------------------Malam minggu di Cafe The Ivy.-------------------------------------------------
Setengah jam berlalu, tapi Andra belum juga angkat bicara. Demi Tuhan, aku mulai bosan sekarang. Atas unsur ketidaksabaran yang sudah melanda ku sejak tadi.
"Katanya mau ngomong, kenapa diem aja. Gue bosen nih." Ujarku dongkol.
"Maaf, tapi gue bingung mau mulai darimana." Aku melengos,
"Udah deh, ngomongnya besok aja kalo gitu, gue ngantuk. Bisa anter gue pulang sekarang?" Andra terlihat sedikit ragu, namun akhirnya menuruti permintaanku.
"Oke," Ia menggandeng tanganku pergi dari cafe itu.
----------------------------------------------------------------------------------Kamarku------------------------------------------------------------
"Jangan-jangan bener lagi katanya anak-anak kalo si Andra mau nembak gue. Omigod..." Aku memekik histeris. "Gue harus kasi tau anak-anak." Buru-buru aku mengambil Ipad ku yang dari tadi hanya bertengger manis di meja belajarku.
guys, kayaknya perkiraan kalian soal si Andra mo nembak gw bener deh.
'DELIVERED'
Just
say what you gotta say
eojjeom kkeutkkaji meoseomni?
Fiancé? Beyonce
I'm walkin' out of destiny
chorahan holloga anin hwaryeohan sollo
That’s my way
modeungeol da jwosseuni ohiryeo nan huhoe an hae
Detik berikutnya lagu Go Away mengalun dari Ipad ku.
"Serius lo, Vi?" jerit Yukie histeris.
"Owh, setan lu emang. Salam dulu kek, paling kagak pelanin dikit napa suara lo."
"Hehehe, maap maap, jadi bener dugaan kita? Dia nembak elo?"
"Baru kayaknya Yukie... gue baru ngerasa dari gelagatnya doang..."
"Yah, gue kira beneran. ya udah deh, cerita besok aja di sekolah, pulsa gue sekarat nih, Bye..."
Klik. telpon terputus.
"Rese ni anak." aku nyaris membanting Ipadku jika tidak mengingat bahwa Ipad ini adalah hasil jerih payah ku bekerja menjadi member Shopie Martin yang harus bolak-balik gak jelas demi mencari orderan.
"Vio, lo ada kerjaan gak?" tanya abangku yang entah sejak kapan ia berada di sampingku.
"Sejak kapan lo ada disini?"
"Baru aja. Gimana, lo ada kerjaan gak?"
"Buanyak, sibuk banget gue. Napa? Lo mo bantuin, silahkan. Nih!" Kataku sambil membanting Toefl ku yang cukup berat bahkan mampu membuat anjing yang terkena lemparannya pingsan di tempat.
"Au, sarap lo. Ni buku berat tau gak.!"
"Tau lah, kalo gak, gue naronya pelan kali..." dia menoyor kepalaku.
"Hiih, gak sopan banget sih lo, gue laporin mama ni lo maenan kepala gue. Mam...." Ia membekapku cepat.
"Rese lo. jangan lah... Eh, lo mau bantuin gue gak? Nanti gue kasi komisinya."
"Ngapain?" dia berbisik padaku. Aku yang mendengarnya hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Mau ya..."
"He'em.." Aku berdeham.
"Terima kasih adek ku yang cantik, manis, rajin menabung, kaya, banyak duit dan tidak sombong... gue tunggu besok ya. Jangan lama-lama..." Teriaknya dan menutup pintuku keras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar