Warna jingga
kemerahan sang senja tak mampu sembunyikan pipinya yang merona. Hadirkan warna
pink blush-on alami yang kusuka. Ia menutup wajahnya dengan gerutuan tak jelas
dari bibirnya yang pink alami. Aku tertawa kecil melihatnya seperti itu.
pipinya yang tembem ia kembungkan karena kesal.
“Ish~ jangan
ngetawain gitu dong. Aku kan malu.” Ia memukul bahuku gemas. Membuatku makin
tak bisa menahan tawa yang kian meledak.
“Vian… kalo
masih ketawa, aku tinggal nih.” Ancamnya, dan mampu membuatku benar-benar
berhenti tertawa dan akhirnya merengut sebal.
“Bercandanya
nggak asyik nih, ancemannya ninggal. Huh.” Ujarku merajuk.
“Ouh, my boy…
jangan sedih gitu dong, aku kan Cuma bercanda. Abis kamu kalo udah ngetawain
aku nggak bisa berhenti sih.” Aku menariknya ke dalam dekapku dan berbisik di
telinganya.
“Maaf, abis kamu
lucu kalo udah nge-blush gitu pipinya.” Aku mengelus rambutnya pelan, lalu
menuntun tangannya agar membalas pelukanku. Tapi ia melepasnya, membuatku
mendengus kesal. Ia selalu begitu, tak pernah mau membalas pelukanku.
“Kenapa sih
nggak pernah mau ngebales pelukanku?”
“Punggung kamu
basah tuh, keringetnya, nggak nahan. Nanti kalo aku bales tanganku lengket.”
Ujarnya polos. Aku mengacak poninya asal. Ini yang kusuka darinya, polos, dan
tanpa basa-basi. Kalau udah nggak suka nolaknya nggak bertele-tele, tapi halus.
“Pulang, yuk.
Badan kamu udah bau. Ih~ mana tadi kamu meluk-meluk aku lagi, ih…”
“Bawel deh,
orang kamunya juga betah aku peluk. Iya, kan.” Ia mengibaskan tangannya.
“Whatever.
Sekarang ayo pulang, aku nanti dimarahin bunda kalo kesorean. Yuk.” Aku
mengangguk dan membawanya menuju parkiran.
***
“Makasih, ya.
Jangan lupa abis ini mandi. Oke?” aku mengangguk patuh. Ia menutup pintu
mobilku dengan senyuman khasnya. Senyuman yang kusuka, dan sudah menjadi candu
tersendiri untukku. Membuatku tak mampu berkutik. Senyuman yang meneduhkan,
menghanyutkan hatiku.
Senyum yang
masih bisa dan selalu ingin kulihat hingga sekarang, dan selamanya. Yah, semoga
saja. J
***
Aku menatap
intens pada pemilik tubuh mungil yang berdiri tegak di depan mading. Lalu
menghampirinya dengan langkah pelan.
“Lagi baca apa
sih? Serius banget.” Tanyaku padanya.
“Ini, konser
akustik yang diadain dua bulan lagi. heran deh, acaranya kan masih lama banget,
kenapa udah ditempel sekarang?”
“Nggak apa-apa
kali, Sya. Nggak ada yang protes ini. Lagian kan ini acara sekolah, jelas aja
udah ditempel sekarang. Apalagi ada audisinya gini.” Ia terlonjak kaget lalu
menoleh padaku.
“Audisi apaan?
Nyanyi? Nge-band atau solo? Aku pengen ikut… eh, tapi kok kamu bisa tau kalo
ada audisinya? Kan nggak ada tulisannya?” ia meneliti setiap kalimat pada
pengumuman itu. aku mengacak poninya asal dan tertawa.
“Pengumumannya
di kertas lain, mbak. Kalo kamu nyari disitu, mau sampe lebaran monyet juga
nggak bakal ketemu, Sya. Gimana, sih? Kamu beneran bintang pelajar bukan sih?
Kok o’on gini, hahaha.”
“Ih~ apaan sih,
nggak usah disangkut pautin sam prestasi aku, deh. Nggak ada hubungannya tau,
nggak.”
“Hehe, iya deh,
maaf. Uhm, mau ke kantin nggak? Mumpung jam istirahat masih lama tuh.” Ia
mengangguk dan tersenyum. Senyum yang menghanyutkan. Ouh…
***
“Kamu mau ikut
audisinya, Sya?” tanyaku disela-sela kunyahanku.
“Nggak tau, kalo
nge-band, kayaknya nggak deh. Tapi kalo solo, ya… maybe.”
“Buat apa audisi
lagi? nanti pasti kamu diminta buat nyumbang lagu dadakan. Kamu kan artis
sekolah.” Ia terlihat berfikir keras sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada
dagu.
“Iya juga sih,
tapi kan nggak seru kalo dadakan gitu, nggak ada sensasi deg-degannya.”
Ujarnya. Aku terkekeh mendengarnya.
“Orang kok
pengennya deg-degan mulu. Nggak bagus lho buat jantung. Nanti kena serangan
jantung gimana? Mau?” dengan cepat ia menggeleng, menatap dengan ekspresi
ngeri.
“Iiih~ ogah deh.
Nggak elit banget aku kena serangan jantung.”
“Emang ada
penyakit elit? Se-elit-elitnya penyakit, tetep aja mengerikan, Sya. Kamu nih
ada-ada aja.” Ia hanya tertawa pelan lalu terhenti begitu saja. Matanya
mengerjap seperti menahan sakit yang menyerang tiba-tiba. Ia menekan kuat
kepalanya, membuatku makin cemas. Sadar aku menatapnya khawatir, ia tersenyum
simpul kearahku.
“I’ll fine.
Jangan menatapku seperti itu, oke? I’ll fine.”
“Seriously?” Ia
mengangguk pasti dan mengulurkan tangannya padaku.
“Ke kelas, yuk.
Bentar lagi bel.”
***
Finally, jadi
juga my baby Tasya ini ikut audisi. Sebenarnya saat akan mulai menyanyi ia
sudah diterima begitu para juri melihat siapa yang datang. Tapi ia menolak
mentah-mentah jawaban dari Bu Tika, Bu Mery dan Pak Soleh—para juri.
“Kalo gitu
caranya nggak adil dong pak, bu. Masa’ yang lain butuh perjuangan sedangkan
saya nggak.” Ujarnya ngotot. Akhirnya para juri pun pasrah, dan menitahkan
Tasya untuk mulai menyanyi.
Bila
nanti kita berpisah, jangan kau lupakan…
Kenangan
yang indah, kisah kita…
Jika
memang kau tak tercipta, untuk kumiliki…
Cobalah
mengerti, yang terjadi…
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Jangan
pernah coba memaksa, tuk tetap bertahan, di tengah kepedihan…
::
Reef ::
Jadikan
ini, perpisahan yang termanis, yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu
Semua
berakhir tanpa dendam dalam hati…
Maafkan
semua salahku, yang mungkin menyakitimu
Semoga
kelak kau kan temukan, kekasih sejati…
Kan
menyayangi lebih dariku…
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Dan
tetap bertahan, ditengah kepedihan…
Back
to :: Reef::
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Dan
tetap bertahan, ditengah kepedihan… hoo.. ohh..
Back
to :: Reef :: {2×}
Lovarian- Perpisahan Termanis
***
Lagu itu, memang menggambarkan yang akan terjadi atau hanya perasaanku
saja yang terlalu menghayati saat mendengar Tasya menyanyikannya? Tasya
membungkukkan badannya tanda terima kasih, lalu ia menoleh padaku, melemparkan
senyum manisnya untukku. Aku agak kaget saat melihatnya, matanya sayut dengan
tatapan sendu, bibirnya pinknya memucat, sesekali ia gigit seperti menahan
sakit. Wajahnya yang putih langsat kini pucat pasi. Sepertinya ia sedang sakit,
tapi kenapa memaksakan diri seperti itu?
Detik berikutnya ia buru-buru mengambil sapu tangan dari saku roknya
dan menutupi hidungnya. Ia tersenyum pada juri yang menatapnya khawatir,
memberikan tatapan yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Sebenarnya, apa
yang terjadi pada gadisku ini? Apa yang di sembunyikan olehnya?
***
Siang ini, matahari memancarkan sinarnya dengan senang hati. Hadirkan
panas yang menyengat kulit. Aku berani bertaruh, kalau cucian akan kering dalam
sekejap jika dijemur di bawah matahari yang menari ini. Tapi hal itu tidak
meruntuhkan semangatku untuk mendatangi rumah Tasya yang jaraknya nyaris tujuh
kilo dari sekolah, dan jika dihitung dari rumahku, jarak yang harus ditempuh
berkisar sepuluh kilometer. Jauh banget, kan. Tapi itu nggak masalah. Apa sih
yang nggak buat my baby Tasya. He he.
Aku menekan klakson keras, detik berikutnya Mbok Nah, pembantu setia
keluarga Tasya, sudah datang dan membukakan pagar yang menjulang tinggi itu dan
mempersilahkanku masuk. Aku memarkirkan sedan Altis-ku di dekat pos satpam dan
memasuki rumah megah itu dengan langkah ringan. Tante Rika, mama Tasya menyambutku
seperti biasa di depan pintu, yang berbeda adalah gelagat beliau yang terlihat
seperti menyembunyikan sesuatu.
“Tasya dimana, tan?”
“Ada di pavilion belakang, lagi latihan nyanyi katanya. Kamu kesana aja.
Nanti biar Mbok Nah nganter minum sama cemilan buat kalian. Tante tinggal dulu,
ada urusan di rumah sakit.” Aku mengangguk mengerti dan berjalan menuju
pavilion, tempat tenang yang disukai Tasya. Bahkan ia hampir meminta mamanya
agar ia bissa tinggal disana. Tapi mamanya melarang. Tidak jelas kenapa, tapi
pasti ada alasan tersendiri.
“Sya…” panggilku sembari membuka pintu. See? Pavilion itu kosong, tak
ada Tasya disana. Kemana anak itu? ah~ mungkin sedang dikamar mandi, pikirku.
Aku menggeret kursi kayu ke dekat meja. Di atasnya lembar-lembar kord gitar
berserakan, campur aduk dengan agenda hitam dan pulpen bulu-bulu ungu yang terbuka,
i-phone dan headseatnya. Gitar akustik putih miliknya bersandar rapi disamping
meja. Tak lama, Mbok Nah datang dengan sekotak buavita guava, dua gelas beling
dan aneka snack. Bersamaan dengan keluarnya Tasya dari toilet di sudut ruangan.
“Eh, kapan yang dateng? Kok aku nggak tau?”
“Baru lima menit yang lalu. Jelaslah kamu nggak tau, wong kamu asyik bersemedi di kamar
mandi.” Ia tertawa renyah, lalu duduk disampingku. Dan memangku gitarnya.
“Rencananya mau nyanyiin lagu apa nih, Sya? Kok banyak banget kord
gitar gini? Kamu mau nyanyiin semuanya?”
“Ya nggaklah, Vian. Bisa berbusa kalo aku nyanyiin semuanya. Aku juga
nggak tau mau nyanyi apaan. Makanya aku pelajari semuanya dulu.”
“Ooh, kirain mau semuanya.” Ia memukul bahuku gemas.
“Kamu pikir aku nggak waras apa! Mana kuat aku nyanyi segitu banyak.”
Kami tertawa bersama, tapi detik berikutnya aku tercekat melihat Tasya mimisan.
“Sya, kamu, mimisan tuh.” Aku menarik tisu dihadapanku lalu mencoba
mengelapnya. Ya tuhan, ada apa dengannya? Buru-buru ia menahannya dan mengambil
tisu dari tanganku. Mengelapnya sendiri kemudian beranjak ke kamar mandi. Dua
menit kemudian dia sudah kembali dengan wajah pucat tapi tetap dengan senyuman
manisnya.
“Kamu kenapa?” Tanyaku dengan kekhawatiran yang perlahan memekat. Ia
menggeleng lemah, dan tersenyum. Berusaha meyakinkanku bahwa ia tidak apa-apa.
“Jangan bohong padaku, kamu nggak pintar acting, sayang. Jujurlah, oke?”
“Aku nggak apa-apa, Vian. Cuma kecapekan aja. Nggak ada yang perlu
dikhawatirkan.” Aku menghadap kearahnya, memegang bahunya erat dan menatap mata
gadis ini tajam. Mencoba mencari kebenaran yang terselimut dari sana. Tapi tak
sampai semenit ia sudah memalingkan wajahnya, air matanya mengalir begitu saja,
tapi buru-buru ia menghapusnya. Menggigit bibirnya berusaha menelan tangisnya
agar tidak membuncah di depanku. Aku menatapnya sendu, lalu mendekapnya
meletakkan daguku pada bahunya dan berbisik pelan.
“Jujurlah, ceritakan padaku apa yang kau sembunyikan.” Ia menghela
nafas panjang dan melepas rengkuhanku.
“Aku akan ceritakan, tapi tidak sekarang, oke? Akan aku jelaskan
setelah aku tampil saat konser akustik nanti. Mau, kan nunggu?” Akhirnya aku
mengangguk, mencoba mengerti dan menuruti permintaannya.
“Oke, aku tunggu. Tapi kamu harus janji bakal cerita, jujur. Dan
lengkap. Janji?” Aku menyodorkan kelingkingku. Ia menyambutnya dengan senyum,
mengaitkan jari lentiknya pada kelingkingku.
“Janji. Ayo kita latihan lagi. sekalian nentuin lagu yang mau aku
bawain buat nanti perform.” Aku mengacak poninya asal dan tertawa.
“Gaya banget. Perform buat sekolah aja songong kamu. Tcih~” ia
mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ish, nyebelin banget sih kamu. Suka-suka dong aku mau bilang apa.
Kenapa kamu yang sewot. Huu.” Aku tergelak melihat ekspresinya yang
menggemaskan. Ia memangku gitarnya lalu mulai mencari lagu dengan
mengacak-acaknya hingga salah satu kertasnya terjatuh ke lantai. Aku
memungutnya, membacanya sekilas ‘Dealova’.
Dahiku berkerut melihat coretan pensil pada sudut kiri bawah kertas.
“I’ll always love you.
You’ll always in my heart, although I close my eyes. Together Forever.”
-Tasya&Vian-
Aku tersenyum membacanya, ini lagu yang kunyanyikan dua tahun lalu.
Saat aku menyatakan perasaanku.
“Bisa jelaskan ini apa, Nona Tasya, hmm?” aku menunjukkan kertas yang
kupegang padanya. Ia mengernyit lalu tersenyum malu, pipinya hadirkan warna
pink alami.
“Uhm, mau tau banget atau mau tau aja?” ia tersenyum jahil. Menutupi
kegugupannya.
“Mau tau bangetlah, sayang. Yah yah… kasi tau ya… please….” Aku
memasang puppy-eyes seimut mungkin.
“Uhm, kasik tau nggak ya?” aku melengos kesal. “Oke, oke. Aku kasik
tau. Tapi jangan diledekin ya?!” aku mengangguk cepat.
“Init uh aku tulis iseng aja, lagi berbunga-bunga sih. Kebawa suasana
waktu di taman. Aku jadi nge-fly kamu gituin, hehe.”
“Oh, gitu. Cuma iseng, ya? Kalo seandainya kamu buktiin beneran
gimana?”
“Caranya?” aku mengangkat bahu tanda tak tahu. “Gini aja deh, aku bakal
nyanyiin lagu ini special buat kamu, gimana?” aku mengangguk dan tersenyum. Ia
mulai memetik gitarnya.
***
Rasanya baru kemarin aku menemani Tasya latihan di pavilion rumahnya.
Kenapa sekarang dia sudah harus tampil? Huft, ternyata dua bulan itu terasa
cepat sekali jika ditempuh berdua. Tasya keluar dari ruang ganti, ia berputar,
memamerkan dress peach selutut yang melekat ditubuhnya dan flat shoes warna
senada, yang ia beli bersamaku kemarin lusa. Rambut coklat hazelnya di-blow dan
dibiarkan tergerai begitu saja. Sapuan make-up tipis membuatnya terlihat cantik
natural. Sayangnya, make-up itu tak mampu menutupi wajahnya yang terlihat
memucat.
“How?” aku sumringah melihatnya.
“Cantik, cantik banget.” Ujarku membuatnya tersenyum malu. “Tapi, kamu
keliatan pucat, Sya. Nggak usah tampil aja gimana? Aku takut kamu kenapa-napa.”
“Aku baik-baik aja. Do’ain aku, oke?! I promise, will give you my the
best perform.” Ia memelukku lalu mengecup pipiku. Ia sukses membuatku
tercengang. Ia melangkah menuju panggung dengan gitar putih gading miliknya. Buru-buru
aku berlari ke kursi penonton. Tak ingin melewatkan penampilannya.
Aku
ingin menjadi, mimpi indah dalam tidurmu…
Aku
ingin menjadi, sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.
Karena
langkah merapuh tanpa dirimu
Ooh,
karena hati tlah letih…
Aku
ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh…
Aku
ingin kau tahu… bahwaku, selalu memujamu…
Tanpamu,
sepinya wajtu, merantai hati
Ooh,
bayangmu, seakan-akan…
Kau
seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil
rinduku, padamu.. ouh oohh…
Seperti
udara yang ku hela kau selalu ada…*)
Hanya
dirimu, yang bisa membuatku tenang
Tanpa
dirimu aku merasa hilangg… dan sepi
(Back
to *) {2x})
Selalu…
ada…
Kau
selalu ada…
Selalu
ada…
Kau
selalu ada….
Once Dewa- Dealova
Suara tepuk tangan diiringi isakan haru menggema diseluruh penjuru
aula. Tasya membungkuk terima kasih dengan senyum kelegaan dibibirnya. Ia
menuruni panggung ke backstage dengan gitar dalam dekapnya. Sementara aku masih
sama dengan para penonton yang lain, menyeka air mata haru yang menetes begitu
saja. Tapi sepuluh menit selanjutnya aku sudah mendapat kabar dari Tante
Rika-mama Tasya- bahwa Tasya masuk rumah sakit dan kondisinya sedang kritis.
Yang mengejutkan adalah fakta bahwa tante Rika menemukan Tasya tergolek pingsan
di wardrobe room.
***
“Tasya, Kanker Otak.”
Satu kalimat pendek dari tante Rika saat itu ternyata mampu membuatku
jatuh terpuruk. Merasa menjadi manusia paling bodoh karena sama sekali tidak
mengetahui dan tidak bisa membaca apa yang disembunyikan gadis manisku itu.
seperti disambar petir disiang bolong, aku kaget sekaget-kagetnya tapi pada
akhirnya hanya mampu pasrah karena kenyataannya Tuhan lebih menyayanginya dan
menyuruhnya untuk pulang. Pulang ke rumah yang sesungguhnya.
***
Aku memandang hampa pada pusara dihadapanku. Entah untuk keberapa-kalinya
air mataku mengalir. Dengan cepat aku menghapusnya kasar. Lalu menatap marah
pada gundukan tanah didepanku. Aku terlalu sedih untuk meluapkan amarahku
padanya. Aku kesal ia membohongiku, tak hanya satu, tapi dua kebohongan
sekaligus. Pertama karena ia ingkar pada janjinya akan menceritakan hal yang
disembunyikannya padaku, kedua karena ia selalu bilang bahwa ia baik-baik saja.
Bodohnya ia membiarkan aku mengetahui rahasia kelamnya dari orang lain.
Aku tersentak kaget ketika sebuah tangan menepuk pundakku pelan. Tante
Rika tersenyum. Aku melirik benda yang berada dalam genggamannya.
“Handycam ini milik Vian, kan? Ini tante kembalikan, tante menemukannya
di laci meja pavilion belakang. Tenang saja, tante tidak membukanya sama
sekali. Cepatlah pulang, matahari sudah beranjak turun. Biarkan Tasya tenang
dengan kehidupan barunya sebagai malaikat. Tante pulang duluan, ya.” Ucap Tante
Rika tenang. Kenapa ia bisa setenang itu saat anaknya kembali keharibaan tuhan?
Kenapa ia bisa tidak sedih?
“Tunggu tante. Uhm, tante, nggak sedih Tasya meninggal?” Tanyaku ragu.
Tante Rika menggeleng dengan senyuman dibibirnya, senyum yang sama dengan
senyum Tasya.
“Tidak, malah tante senang. Karena dengan begitu ia tidak perlu lagi
berteriak dan menangis kesakitan karena kemotherapy yang dijalaninya. Belum
lagi ribuan jarum suntik yang menancap ditubuhnya. Itu lebih menyakitkan
daripada tante harus kehilangan dia selama-lamanya. Tante pulang, ya.” Aku
mengangguk, membenarkan ucapan tante Rika. Ia akan baik-baik saja dengan kehidupan
barunya.
***
-Two Years later-
Aku memacu mobilku cepat menuju taman kenangan. Sebenarnya nama taman
itu bukan taman kenangan. Hanya saja bagiku, taman itu dipenuhi dengan kenangan
indahku dan Tasya. Hhh, Tasya. Aku merindukannya. Apa kabar ia disana? Apa dia
bahagia dengan pilihannya?
Aku menghempaskan pantatku pada sebuah bangku taman. Aku membuka I-pad
ditanganku memasang kabel USB yang tersambung dengan handycam silver
disampingku. Sudah dua tahun sejak meninggalnya Tasya aku tidak pernah membuka
isi handycam ini. Mataku bertumpu pada sebuah folder asing yang bernama ‘Just
for You’. Iseng kubuka folder itu, dahiku mengernyit heran karena isi folder
itu hanya sebuah video berjudul perpisahan
termanis. Aku meng-kliknya dua kali. Dan sukses tercengang melihatnya.
Rekaman Tasya dan hasil editan movie makernya. Aku menekan tombol play. Saat
itu suara Tasya mulai mengalir. Sontak membuatku menangis. Ya Tuhan, aku
benar-benar merindukannya.
“Hai hello my Lovely
Prince. Gimana kabarmu? Aku harap sih baik-baik aja. Aku merekam video ini buat
jaga-jaga aja. Takutnya aku pergi duluan sebelum nepatin janji ke kamu. Maaf
beribu maaf, Vian. Aku nggak bisa nepatin janji, dan aku selalu bohong dengan
keadaanku. Maaf banget. Serius nih, aku nggak bermaksud buat ingkar, tapi
takdir berkata lain. Aku juga nggak bermaksud buat bohong, aku Cuma nggak mau
kamu kasihanin, aku nggak mau diperlakukan kayak anak kecil. Itu aja. Please,
mengertilah, oke? Sebagai permintaan maafku, aku bakal nyanyi dua lagu buat
kamu. Dengerin ya…
Aku
ingin menjadi, mimpi indah dalam tidurmu…
Aku
ingin menjadi, sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.
Karena
langkah merapuh tanpa dirimu
Ooh,
karena hati tlah letih…
Aku
ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh…
Aku
ingin kau tahu… bahwaku, selalu memujamu…
Tanpamu,
sepinya wajtu, merantai hati
Ooh,
bayangmu, seakan-akan…
Kau
seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil
rinduku, padamu.. ouh oohh…
Seperti
udara yang ku hela kau selalu ada…*)
Hanya
dirimu, yang bisa membuatku tenang
Tanpa
dirimu aku merasa hilangg… dan sepi
(Back
to *) {2x})
Selalu…
ada…
Kau
selalu ada…
Selalu
ada…
Kau
selalu ada….
Once Dewa- Dealova
Bila
nanti kita berpisah, jangan kau lupakan…
Kenangan
yang indah, kisah kita…
Jika
memang kau tak tercipta, untuk kumiliki…
Cobalah
mengerti, yang terjadi…
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Jangan
pernah coba memaksa, tuk tetap bertahan, di tengah kepedihan…
::
Reef ::
Jadikan
ini, perpisahan yang termanis, yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu
Semua
berakhir tanpa dendam dalam hati…
Maafkan
semua salahku, yang mungkin menyakitimu
Semoga
kelak kau kan temukan, kekasih sejati…
Kan
menyayangi lebih dariku…
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Dan
tetap bertahan, ditengah kepedihan…
Back
to :: Reef::
Bila
mungkin memang tak bisa, menyatukan perbedaan kita…
Dan
tetap bertahan, ditengah kepedihan… hoo.. ohh..
Back
to :: Reef :: {2×}
Lovarian- Perpisahan Termanis
Gimana? Bagus nggak?
Bagus dong… hehe J. Jangan sedih ya, Vian. Jangan marah juga.
Cari penggantiku secepatnya. Jangan biarin kamu terpuruk, itu akan membuatku
makin merasa bersalah. Remember, I’ll always love you. You’ll always in my
heart, although I close my eyes. Together Forever. Aku akan mencoba bahagia
dengan pilihanku. Kalo kamu kangen aku, kamu tinggal liat bintang, aku akan
selalu memantaumu dari sana. Don’t be sadly. You must move on. Oke? Udah dulu,
ya Vian. Aku harus minum obat nih, lumayan… itung-itung ngilangin sakit. Kali
aja, aku nggak jadi pergi dan akan terus disampingmu. Ya nggak? Aminin dong,
oke? Hehe… bye my Lovely Prince, muach :* #Hugs n’ Kiss.”
Aku tersenyum pahit, lalu mematikan I-padku. Tiba-tiba sebuah bola
basket menggelinding dan menabrak kakiku. Aku membungkuk memungutnya, membaca
tulisan dengan spidol hitam pada bola itu.
-Tania’ ball! Awas kalo ada yang ngambil. Akan ada balasan untuk Anda.-
Aku tersenyum simpul. Memangnya siapa yang akan mencuri bola ini. Haha, ada ada
saja.
“Sorry, itu bola gue.”
Deg. Suara itu, mirip suara Tasya. Aku mendongak, dan terperangah
melihat gadis dihadapanku. Penampilannya memang berbeda dengan Tasya, karena ia
cenderung rapi dan feminism. Lain dengan
gadis ini, kaus abu-abu bertuliskan ‘I’m the Girl’nya basah karena keringat.
Rambutnya coklat hazel, matanya coklat berbinar, pipinya chubby, bibirnya pink
alami. Ya ampun, dia benar-benar persis dengan Tasya. Ia melambaikan tangannya
didepan wajahku, membuatku tersentak dari lamunanku.
“Itu bola gue.” Ia menunjuk bola orange ditanganku, aku menyeringai,
sebersit ide jahil mampir ke otakku.
“Elo boleh ngambil ni bola kalo udah bisa ngalahin gue.” Ia berkacak
pinggang, menatapku sebal.
“Heh, Vian Pratama. Balikin bola gue.” Sentaknya, aku terlonjak kaget,
bagaimana dia bisa tau namaku.
“Kenapa, elo bingung gue tau darimana nama lo? Hhh, elo nggak perlu
tau. Cepet balikin bola gue.”
“NGGAK!” Sentakku, ia berteriak kesal.
“Iiish~ Tasya, cowok lo ngeselin banget sih. Heh, balikin bola gue.”
Lagi-lagi aku kaget dengan ucapannya.
“Gue balikin kalo elo mau cerita siapa elo sebenarnya. Gimana?”
“Hhh, oke oke. Gue Tania Syafira. Sepupu almarhumah Tasya Calluna. Gue
tau elo karena Tasya sering nyeritain elo. Elo pasti sempet ngira gue kembar
sama dia. Jelas perkiraan lo itu salah besar. Karena gue itu SEPUPU. Banyak sih
yang bilang kita kembar. Tapi gue ngerasa kita beda…” aku memotong ucapannya.
“Beda bangetlah… Tasya anggun begitu, nah elo? Urakan abis.” Ia
mendelik.
“Shut up. Gue jadi nyesel nerima permintaan tu anak. Huh.”
“Emang dia bilang apa?”
“Gue disuruh jagain elo. Oke, karena itu, elo harus nurut apa kata
gue.”
“Ogah. Kecuali elo jadi cewek gue. Gimana?”
“Tcih~ ogah banget deh. Gue udah punya cowok.” Tania menolak
mentah-mentah permintaanku, dan itu jelas membuatku marah, apalagi dia bilang
dia udah punya cowok. Widiiih, berasep nih ubun-ubun. Nggak tau setan apa yang
hinggap didiriku. Sisi protektif dan egoisku keluar. Aku menyeret gadis ini ke
mobilku.
“Eh~ elo mau bawa gue kemana nih? Eh, eh.” Aku berhenti sejenak,
melayangkan pandangan tajam padanya.
“Elo harus jadi cewek gue. Putusin cowok lo sekarang. Ayo. Gue anter.”
“What? Omigod… damn banget sih lo. Ogaaah, gue nggak mau!!” Tania terus
memberontak, berusaha melepas cekalanku pada tangannya. Hehe, inilah akibatnya
jika Anda tidak mendengarkan kata-kata saya, nona. Tapi tenang, begitu dia jadi
pacarku, aku bakal ngejaga dia, menyayanginya sama seperti aku menyayangi
Tasya. Yah, tapi kalo dia masih nolak,
tau sendiri akibatnya deh. Haha J
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar