Sesaat kemudian aku tersadar, bahwa kamu hadir hanya karena sebuah permainan yang diciptakan sahabatku. Bodohnya, aku baru sadar, ternyata permainan itu, melibatkan hati yang sebenarnya tak tahu apa-apa dan hanya bisa menerima, meresapinya, dan akhirnya merawatnya menjadi bunga.
Jujur demi apapun di dunia ini. Aku... menyesal karena mengikuti permainan bodoh itu. Tapi... aku bersyukur karena telah mengenalmu. Walau akhirnya kamu tak pernah `melihat`ku.
Jika aku boleh meminta, bisakah aku mendapatkan Mesin Waktu sekarang??
Jangan tanya untuk apa, uhm.. maksudku kamu tak perlu bertanya karena kamu akan tahu dengan mudah setelah melihat yang kulakukan pada mesin itu. Yup, memutar waktu.
Kembali ke masa lalu, mengulangnya dari awal, menghapus beberapa bahkan semua tentangmu, dan tidak akan mengikuti permainan yang diciptakan sahabat-sahabatku.
Jika aku bisa, aku akan melupakanmu saat ini juga. Tidak akan membiarkanmu bersemayam lebih lama hingga tumbuh bunga yang mudah layu. Melemparnya sembarang, membiarkanmu teronggok tak berarti bersama tumpukan kenangan lainnya. Namun, kenyataannya... semua tak semudah membalik telapak tangan. Dan semua itu, masih berdiri dalam lingkup Angan-Angan.
Untukmu... yang kini bersarang dibenakku.
Kumohon dengan sangat, bahkan jika perlu aku akan berlutut dihadapanmu agar memenuhi satu permintaanku.
"Ajari Aku Caranya Melupakan. Dengan senyum, keikhlasan dan tanpa air mata."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar